Kamis, 26 Januari 2017

Review Buku Critical Eleven by : Kristin Aritonang


                Buku pertama dari Ika Natassa (@ikanatassa) selesai saya lahap hanya dalam 3 hari. Buku ini saya baca diakhir bulan desember kemarin. Sebenarnya saya bukan orang yang suka-suka banget dengan cerita romantis, tapi karena udah banyak banget spoiler kalau bakalan ada upcoming movie dari salah satu aktor jagoan saya yaitu Reza Rahadian & Adinia Wirasti dimana ceritanya di angkat dari buku ini. So, dengan cepat saya beli dan baca buku ini. Dan sekedar informasi buat teman-teman yang belum baca buku karangan Ika Natassa, her books is addicted!! HAHAHA. 

Buku CE (Critical Eleven, Red) adalah sebuah cerita fiksi yang ditulis oleh Ika Natassa, dimana baru-baru ini penulis menyampaikan alasan dibalik penulisan karyanya yang satu ini. Untuk alasan lengkapnnya bisa dilihat di IG Ika Natassa. Buku ini bercerita tentang pertemuan 2 insan yang belum mengenal satu sama lain di pesawat terbang dalam perjalanan ke Sydney. Sebuah pertemuan yang membawa mereka kedalam kehidupan rumah tangga. Kehidupan romantis, ‘seolah’ sempurna namun berbumbu konflik kehidupan yang dimulai di saat anak pertama mereka dilahirkan dalam keadaan meninggal. Keadaan yang membuat Aldebaran Risjad dan Tanya Baskoro akhirnya hidup dalam pengandaian-pengandaian dalam kemarahan, kesedihan, hampir putus asa.





So, here I am with the review. 

1.       Cover & Judul buku
Cover dari buku ini pesawat terbang dengan judul Critical Eleven. Awalnya sih saya engga paham kenapa diberi judul dan cover seperti itu. Walaupun saya suka traveling dan pergi naik pesawat terbang ternyata ada istilah Critical Eleven dan saya baru tahu (cupuuu yaaa). CE sendiri adalah 11 menit paling penting dalam penerbangan yaitu 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Nah, alasan ini jadi 11 menit terpenting dalam penentuan hubungan antara Aldebaran Risjad (Ale) dan Tanya Baskoro (Anya) yang secara tidak sengaja bertemu, duduk bersebelahan, kenalan dan mengobrol dalam sebuah perjalanan mereka menuju Sydney dengan tujuan berbeda. Saya pikir buku dan judulnya related banget.

2.       Dua pribadi dua sudut pandang
Pembahasan di bab 1, mengisahkan bagaimana mereka berkenalan. Dalam satu pesawat dan interaksi dari dua tokoh utama, Ale dan Anya. Mulai dari bab 2 dst, dua pribadi dengan 2 sudut pandang membahas cara mereka memandang, dari sisi Ale dan sisi Anya. Yang secara tidak langsung membawa pembaca memahami siapa, kapan, mengapa,a pa bagaimana seorang Ale dimata Anya demikian juga sebaliknya. Dijabarkan cukup detail, ketika tokoh yang sedang bercerita dan diceritakan menggambarkan who they are, berhasil banget bagi pembaca (saya maksudnya) membayangkan how sweet He is (kemudian berlanjut baper), betapa spesialnya Anya buat seorang Aldebaran Risjad. Apalagi waktu membaca buku ini sambil membayangkan Reza sebagai Ale dan Adinia sebagai Anya, duhhh pasti keren banget HAHAHA. Buat saya sih ini penting, karena dua tokoh utama dalam cerita ini adalah lawan jenis yah, laki-laki dan perempuan dimana cara pandangnya pasti berbeda.  Ya bisa dibilang belajar memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, seorang laki-laki dan perempuan. Ada hal-hal yang biasa aja buat laki-laki tapi jadi sesuatu yang sensitif buat seorang perempuan. Dan di buku ini, jelas banget diceritain gimana kedua tokoh tadi memandang satu sama lain. 

3.       Alur cerita
Masuk di bab 2 saya sempat bingung. Sempat ada beberapa pertanyaan melintas :
“ Lah Ale dan Anya emang udah menikah ?”
“ Terus kalau udah menikah, kenapa Anya ngediemin Ale waktu dia pulang kerumah ?”
“ Emang ada peristiwa apa sih ?”
Itu beberapa pertanyaan yang membuat saya engga pengen berhenti hanya di bab 2. Maunya segera sampai ke bab dimana pertanyaan-pertanyaan tadi bisa terjawab. And you know what ?!? Lumayan lama dapet jawabannya loh, kesel !!! HAHAHA. Alur cerita yang dibuat maju dan terkadang juga mundur dibeberapa cerita, bahkan ada bagian dimana mereka ‘seolah-olah’ ada bersama-sama padahal hanya salah satu dari mereka, Ale/Anya saja yang sedang mengulang memikirkan masa-masa kehidupan kebersamaan mereka. 

Ada plot yang diceritakan di NYC, dimana Anya sedang ditugaskan oleh kantornya selama beberapa bulan dan membuat mereka menjadi cukup dekat . Bagian ini cukup menarik karena lumayan banyak membahas tempat-tempat dan kehidupan di sana. Alur yang maju mundur yang diangkat oleh Ika Natassa cukup berhasil membuat konflik yang terjadi terasa begitu hidup juga berat terutama dari sisi Anya. From beginning to the end cerita di buku ini dikemas secara apik, diakhiri dengan kabar bahagia yang pastinya disambut dengan senyuman si pembaca, terus kepengen ada CE part 2 (ngarep).

4.       Adegan Favorit
Kalau ditanya ada atau engga adegan paling favorit di buku ini ? Jawabannya ADA BANYAAKKKK. Salah satu adegan favorit sih waktu dimana Ale pulang kerja dari Rig, dan kembali ke Jakarta untuk beberapa bulan, kehadirannya disambut oleh Anya sang istri tercinta. Tanpa kata, Ale dengan segera memeluk Anya yang berada dihadapannya. Dan Anya Cuma bilang “ Le, kenceng banget meluknya. Aku engga bisa napas” Eh, si Ale makin kenceng aja tuh meluknya HAHAHA. Itu sih romantis bangetttt.
Kenapa yaaa ? Konon katanya sebuah pelukan itu punya arti dan manfaat lho. Sebuah pelukan bisa nambahin umur (lupa nambah berapa umurnya, detikkah/menitkah/jamkah) dan yang pastinya memberikan kebahagiaan

“If you feel so sad, just hug her/him”
“if you feel so sick, just hug her/him”
“if you feel something, just hug”

Mau tau obrolan, adegan manis lainnya silahkan segara baca buku ini dan temukan!

5.       Kenapa harus baca buku CE
Kenapa ?
Pertama : cetakannya aja udah sampe cetakan yang ke-15 dibulan oktober 2016, yang artinya buku ini populer banget. Biar kamu-kamu ikutan hits, buku ini cocok banget untuk dibaca.
Kedua : Mungkin tidak semua orang suka cerita romantis, sama seperti saya. Tapi buku ini, bercerita kisah romantis yang berkesan engga norak, berhasil buat kamu jadi baper dan ditutup secara tuntas.
Ketiga :  Buku ini akan diangkat ke layar lebar, di perankan oleh dua aktor yang aktingnya udah engga diragukan lagi. Sebelum buku ini jadi sebuah film, engga salah untuk dibaca duluan lho. Can’t wait to see the Critical Eleven movie. 

Upcoming Movie Critical Eleven (Source Google)

                Engga nyesel baca buku CE malahan nagih baca buku lain hasil karya dari penulis yang satu ini dan nambah semangat untuk mulai nulis lagi.
Selamat membaca.

Movie Review : La La Land by : Mita Vacariani



Lama setelah film musical favorite saya The Sound of Music dan Les Miserables kerinduan saya dengan film sejenis baru terjawab sekarang. La La Land, film drama musikal yang kemarin cukup happening karena mendominasi banyak penghargaan film internasional  ini sukses mencuri perhatian.

Film ini bercerita tentang Mia (Emma Stone) seorang gadis cantik yang bercita-cita menjadi seorang aktris dan berkali-kali gagal audisi, dan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis jazz idealis yang bercita-cita memiliki klub jazz-nya sendiri. Seperti kisah boys meet girls pada umumnya, Mia dan Sebastian bertemu kemudian saling jatuh cinta dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan impian masing-masing.

Alur cerita antara Mia dan Sebastian yang sederhana jadi terasa begitu istimewa karena dibalut dengan lagu-lagu yang ear catchy dan koreografi yang memukau. Emma Stone tampil stunning dengan dress-dress cantiknya, sementara Ryan Gosling, nggak usah ditanya ya, dia sih selalu drop dead gorgeus menurut saya (subjektif banget hehe..)

As cliche as it my sound, pesan film ini adalah tentang jangan menyerah untuk mengejar impian. Sama seperti Emma dan Sebastian, mungkin kita juga pernah memiliki setidaknya satu impian besar dalam hidup. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita pernah juga gagal, berhadapan dengan realita yang memaksa kita akhirnya mempertanyakan lagi ‘Worth it nggak sih mimpi ini gue kejar?’ It sound familiar ya? Jadi rasanya sih nggak ada salahnya kita menonton film yang satu ini.


Oh ya, just for your information, film karya Damien Chazelle ini sukses meraih rekor sebagai film dengan penghargaan terbanyak sepanjang sejarah Golden Globe, dengan total 7 penghargaan. Wow banget kan..Jadi tunggu apa lagi? Segera tonton filmnya dan siap-siap dibuai oleh lantunan lagu-lagu indah dan kisah cheesy romance Mia dan Sebastian. Happy watching gaeess ^^

Kamis, 12 Januari 2017

Review Film Selamat Pagi, Malam by Kristin Aritonang

        Film ini sebenarnya rilis 2 tahun lalu, juni 2014. Mungkin ‘agak’ telat bagi saya nonton dan mereview. Tapi, film ini cukup menarik jika di kupas dari berbagai sudut pandang. Kota dimana saya tinggal dari 5 tahun kebelakang sampai saat ini. Kota yang merepresantasikan life style kota Jakarta dengan berbagai ilusi, tujuan, keangkuhan, kemajuan, kesibukan, kecanggihan dan segala hal lain yang terduga maupun tidak. Well, inilah reviewnya


source google

Film Selamat Pagi, Malam atau dengan judul lain “In The Absence of the sun” sebuah karya dari Lucky Kuswandi sebagai penulis dan sutradara. Film ini menceritakan tentang realita kehidupan di Ibu kota Jakarta dengan segala hal yang complicatied didalamnya. Digambarkan dalam kehidupan 1 malam oleh 3 orang wanita. Gia, yang diperankan oleh Adinia Wirasti, seorang wanita yang udah lama banget tinggal di New York tapi akhirnya kembali ke Jakarta tanpa alasan dan tujuan yang pasti. Naomi, yang diperankan oleh Marissa Anita. Seorang Art student saat di New York, tapi meninggalkannya ketika dia kembali ke Jakarta. Dira Sugandi, yang mewarnai film ini dengan perannya sebagai Sofia, seorang penyanyi di klub yang menjadi paginya setiap malam. Dayu Wijayanto (nama yang masih asing bagi saya) berperan sebagai Cik Surya, seorang wanita paruh baya yang di tinggalkan dalam kemarahan perselingkuhan suaminya.

Menurut saya film ini cukup berani karena mengungkap beberapa hal yang mungkin tidak biasa untuk dibahas.  Dunia kelam yang terjadi di ibu kota, kehidupan malam yang ‘melekat’ dalam keseharian orang-orang yang mencari kehidupan dalam malam yang menjadi sebuah pagi bagi mereka.
Gia, yang adalah mantan pacar dari Naomi yang lebih dahulu kembali ke Jakarta dipertemukan dalam sebuah malam yang seolah tak berujung, membawa mereka kembali ke dalam kenangan masa-masa di New York, yang juga membahas tujuan Gia kembali ke Jakarta. Peran yang dilakoni oleh Adinia Wirasti ini, berhasil menyampaikan kebingungan yang terjadi pada dirinya. Tanpa tujuan, tidak siap terhadap perubahan yang dia sudah temui sejak kepulangannya ke Jakarta. Marissa Anita yang menjadi Naomi sebagai lawan main Gia, berhasil mengambarkan seorang wanita metropolitan yang menenggelamkan dirinya ke dalam hingar bingar kehidupan Jakarta. Hidup dengan 2 gadget, duduk bersama dalam meja makan tanpa bicara, peran lawan bicara terganti oleh smartphone. Kehidupan yang penting eksis, tanpa kejujuran kebahagian yang terpancar dalam sebuah jepretan kamera.

Cik Surya, dengan kemarahan yang memenuhi isi kepalanya malah jatuh kedalam tawaran dunia malam yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.

Singkatnya malam yang membawa kehidupan 3 wanita kepada kehidupan masa lalu, atau tujuan baru didepan. Lucky Kuswandi berhasil memberikan kebebasan bagi penonton untuk menutupnya dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi di Jakarta.

A city of confusion
A city of disconnection
A city of reconnection