Minggu, 26 Februari 2017

Online Shopping dengan budget paling minimal?? Hayuuuu ahhh..



Wanita itu suka belanja titik. Ntah koleksi baju, atau koleksi sepatu, atau tas atau make up? Bener atau bener..?? Apalagi Online shopping sekarang mudah banget. Dari mulai perintilan seperti peniti sampe barang rumah tangga yang besar saja bisa beli online. Sebenernya murah mana sih antara beli offline atau online?

* Beli Online itu tinggal pesan. Tunggu barang diantar. Gak perlu repot cape keluar, gak perlu macet-macetan atau rempong bawa anak-anak yang cape minta pulang 😃 Hemat waktu jelas, Hemat Ongkos dan hemat tenaga.
* Cuma gak enaknya kita gak bisa lihat-lihat atau cuci mata. Gak bisa sambil jalan-jalan buat refreshing.
* Tapi jelas pengeluaran bakalan lebih terarah kalau offline malah kebanyakan yang dibeli jadinya. Melenceng dari tujuan. Rencana Mau beli A tapi yang dibeli B,C,D sampe Z. Dan barang A malah ga dapet. 😂
* Harga di online shop malah terkadang lebih murah dibanding offline. Karena online shop itu persaingan harga tinggi banget. Dan semua bersaing memberi harga termurah meski cuma beda 500 rupiah.

Buat yang hobi belanja online (saya..saya..saya..), ini tips buat belanja dengan budget minimal dan dapetin harga paling murah :

1. Promo Diskon
Setiap market place biasanya pasti ada promo diskon bulanan atau bahkan harian. Kamu bisa follow sosial medianya atau sekali-sekali cek lapaknya. Seperti Indomaret atau Alfamart setiap info promo bisa dilihat di Line. Atau Seperti Lazada, MatahariMall atau JD.id yang update promonya di FP nya. Jangan males membandingkan harga di setiap market place. Karena kadang harganya bisa jauh beda juga loh.
Contoh : Promo Buy 1 Get 1 di Shopee untuk produk P&G, Promo tebus murah di Indomaret.

2. Jasa Titip (Jastip)
Sekarang sudah banyak loh yang menawarkan jasa titip. Mereka ini memang suka keliling mall atau jalan-jalan keluar negeri dan counter untuk berburu diskon. Sebagian besar sudah punya koneksi dengan pegawai tokonya. Jadi begitu ada barang yang didiskon para pembuka jastip ini bakal langsung berburu. Dan kita bisa "nitip" beli. Upah jasa titipnya rata-rata berkisar mulai dari 5000 rupiah tergantung barang. Misal Jasa titip Ikea, Sepatu branded (Rebook, Adidas, Sketcher,dll). Lumayan kan kalau bisa dapet diskon sampai 70%. Biasa Jastip gini banyak di IG dan FB. Untuk jastip keluar negeri bisa dapat harga lebih murah karena tidak masuk pakai pajak.
Contoh : Saya kalau beli sepatu nunggu info diskonan 70%. Dapet Rebook diskon 70% dengan Jastip 50rb, masih jauh banget lebih murah dibanding beli di counter dengan harga normal.

3. Barang Preloved
Barang preloved bukannya barang bekas pakai? eits.. meski bekas pakai kadang kondisinya masih bagus banget. Kalau lagi beruntung kadang ada yang baru sekali pakai, tapi karena kurang cocok langsung dijual. Atau misal salah beli ukuran baju, salah beli warna bedak, dll. Atau misal barang ex-kado, karena punya barang yg sama akhirnya salah satu dijual dan harga jual dibawah harga beli normal. Bisa dicari di IG atau OLX dan Tokopedia atau Bukalapak. Untuk barang-barang yang sifatnya tidak personal (misanya Pakaian dalam. Ya masa beli pakaian dalam second hehe) bisa mengirit banyak kalau beli barang preloved.
Contoh : Saya pernah beli Bouncer baby dapet 1/2 harga aslinya dengan kondisi baru dibuka dari kotak dan belum dipakai hanya karena yg jual salah beli warna bouncer. Anaknya laki-laki Bouncernya pink. Jadi dia jual 1/2 harga saja. Yang untung ya saya pas lihat iklannya. Haha

4. Grosir
Untuk barang-barang yang akan dibeli dengan jumlah banyak bisa beli di grosiran. Misal beli pakaian dalam kan biasanya perlu banyak. Lebih murah jauh beli selusin dapet harga grosir. Kebanyakan kalau selusin? Bisa ajak teman untuk join. Nyari harga grosir dimana? Di tokopedia sekarang banyak harga grosir tetap ada batas jumlah minimum pembelian.

5. Manfaatkan promo free ongkir
untuk beberapa market place sekarang sudah banyak promo free ongkir atau diskon ongkir. Bisa dimanfaatkan bagi yang bertempat diluar pulau jawa. Atau untuk yang perlu barang secara cepat bisa menggunakan tokopedia dan Bukalapak, tersedia pengiriman menggunakan GoSend dengan tarif flat 15km dengan jarak maksimum 25km.
Contoh : Biasa untuk keperluan mendesak misal nyari barang (misal diaper) yang tidak dijual di sembarang toko, saya beli di tokopedia menggunakan gosend. Tarif hanya 15rb. Itungan Jam barangnya sudah sampai. Tanpa perlu keluar rumah macet2 menghabiskan waktu.

6. Lelang
Sekarang sudah banyak online shop yang menggunakan sistem lelang. Produk yang dilelang biasanya adalah produk yang sudah tidak up to date, atau sisa dagangan, atau juga memang sengaja dilelang. Untuk produk-produk seperti Tupperware atau oriflame misalnya banyak sekali dilelang di sosmed. Biasanya di FB atau grup jualan. Kalau beruntung bisa dapat harga lelang jauh dibawah harga normal. Tapi kalau lelang dilihat-lihat juga jangan sampai kalap "bid". Karena bukannya dapet harga murah malah jatuhnya sama aja dengan harga normal. Dicek dulu harga aslinya berapa agar kita bisa tau batas "bid" agar dapatnya dibawah itu.

So, dengan mencoba tips-tips diatas kamu bakalan bisa menghemat banyak loh.. selamat berburu ya!

Senin, 20 Februari 2017

HIIT for The First Time by Kristin Aritonang

Istilah ini baru-baru aja saya ketahui. HIIT atau kepanjangan dari High Intensity Interval Training adalah jenis latihan kardiovaskular yang menggabungkan jenis latihan intensitas tinggi dengan jenis latihan intensitas sedang atau rendah dalam selang waktu tertentu. Biasanya dilakukan kurang lebih 20 menit ( Source google ). Berawal dari kegiatan lari saya yang sudah mulai berkurang dikarenakan arenanya sedang dalam renovasi (GBK, red). Iseng-iseng cari workout tutorial yang bisa dilakukan di rumah. Pernah ada yang menyarankan untuk kembali ke gym, tapi saya masih keukeuh belum mau join lagi, takut angot-angotan.

                Officially HIIT ini saya lakukan. Baru 1 minggu ya baru 1 minggu (5 hari dalam seminggu) alias masih baru banget.  Sebelum menemukan jenis training ini, saya sengaja mencari-cari tutorial di IG atau youtube dari beberapa orang yang saya follow, dimana mereka melakukan olah raga yang bisa di lakukan anywhere, everywhere and everytime. Mudah sekali mencarinya bisa dengan hashtag workout atau sejenisnya, video/gambar-pun saya temukan berikut dengan penjelasannya. Apakah saya mencobanya ? Ya saya mencoba beberapa gerakan yang lumayan mudah saya lakukan.

                Karena masih merasa kurang paham dengan gerakan-gerakan tadi, akhirnya saya mencari tutorial lain, dan ketemulah HIIT. Videonya banyak banget bahkan dilengkapi dengan fokus dari latihan tersebut akan larinya kemana. Misalnya untuk 5 Minute Butt and Thigh Workout for a Bigger Butt, 10 Min Abs Workout , jadi bisa banget disesuaikan mau latihan seperti apa dengan hasil seperti apa. Nah 1 minggu ini saya melakukan 2 training diatas. Karena pengen banget fokus kearah perut dan bokong.



Squat (Source Google)

                Hari pertama latihan dengan HIIT, rasanya itu WOWWW banget deh berasa cuapee huhuhu. Ya namanya juga High Intensity, so berasa tinggi juga tingkat capeknya. Padahal waktu latihan dari 1 video itu hanya 5 menit dan 10 menit. Kalau ditotal waktunya dari pemanasan, beberapa gerakan angkat beban hingga pendinginan adalah 30 menit. Saya adalah tipikal orang yang agak susah berkeringat, tapi setelah melakukan training ini bahkan dari hari pertamapun, keringat bercucuran banget. Berasa lelahnya dan tidak heran pegal-pegalnya mantap HAHAHA. Tapi masih berasa seruuu sampai dihari yang ke-5.

                Cukup bangun tidur lebih awal minimal 1 jam dari biasanya dan mulai melakukan latihan ini. 5x dalam seminggu dan ditutup dengan lari pagi saat car free day di hari minggu sekitar 3-5km, I think is enough for now.

                Kalau ditanya udah ada hasilnya ? Tentu saja belum. Nanti akan saya bagikan beberapa progress yang saya alami setelah 1 bulan ya. But for sure, sekarang ini saya bisa bilang bahwa saya merasa jauh lebih segar, relax, jauh lebih nyenyak saat tidur.

Hmm, no shortcut for your healthy life (always try). Kalau bukan dimulai dari sekarang, kapan lagi. Yeay, I’m just having fun with my new activities .

Kamis, 16 Februari 2017

The Place I'll Come Home To by : Mita Vacariani



Verde Beer House, 9 p.m.
     Bianca baru saja berhasil memarkirkan mobilnya ketika handphone-nya berdering. Hampir lima menit dia berputar-putar mencari tempat parkir karena halaman parkir Verde sudah penuh malam itu. Dengan susah payah Bianca pun terpaksa parkir secara paralel. Seperti biasa beer house langganannya ini memang selalu penuh menjelang weekend seperti ini.
     Suara seksi Adam Levine yang sudah sangat familiar di telinganya masih juga berbunyi. Bianca sengaja memilih lagu itu khusus untuk orang yang menelepon ini, Caleb.
   “Yes, Cal?” Jawab Bianca begitu ditekannya tombol hijau. Dengan multi tasking, sambil menelepon, Bianca mematikan AC dan mesin mobil, bersiap turun. Messy hair nya disisir dengan jari, sementara tangan satunya masih memegang handphone, “Iya ini gue udah di parkiran, bentar lagi masuk. Ya udah ya, gue langsung masuk kok.
    ”Bianca memutus pembicaraan sepihak, malas berdebat panjang di telepon hanya karena dia datang terlambat. Bukannya langsung keluar dari mobil, Bianca malah duduk terdiam sambil menyandarkan dagunya ke setir mobil. Melihat orang-orang yang keluar masuk Verde, bisa dibayangkan penuhnya beer house itu. Untuk ukuran orang yang sudah beberapa hari lembur dan kurang tidur, Bianca sebetulnya lebih memilih pulang, mandi, dan selimutan sampai ketiduran. Kalau bukan karena Caleb yang memaksanya datang, Bianca pasti sudah menikmati hangatnya tempat tidur sekarang. Tapi kapan sih, Bianca bisa menolak Caleb. Hujan badai pun mungkin dia akan datang kalau Caleb yang minta.
         Entah sejak kapan Caleb punya privillage khusus seperti itu, apalagi Bianca baru mengenalnya sekitar tiga tahunan. Berawal dari sama-sama staff baru di kantor tempat Bianca bekerja, hubungan dia dan Caleb makin berkembang dari partner kerja, partner makan siang, sampai partner diskusi. Mulai dari hal-hal nggak penting seperti gosip-gosip kantor terbaru sampai sharing soal impian dan hidup, Caleb menemukan kenyamanan pada Bianca.
          Awalnya Bianca menyangka pertemanannya dengan Caleb hanya akan bertahan selama mereka bekerja di kantor yang sama. Tapi rupanya bahkan setelah Caleb resign dan mendapat pekerjaan baru, mereka masih sering jalan bareng. Pelan-pelan dia bahkan bisa gabung dengan sahabat-sahabat Caleb. Jangan tanya sedekat apa mereka sekarang, karena Bianca selalu menjadi orang yang pertama tahu tentang apa pun yang terjadi dengan Caleb.
          Mungkin karena Bianca selalu bisa jadi teman ngobrol yang menyenangkan, Caleb selalu cerita apa saja dengannya. Mulai dari mimpinya menjadi arsitek handal, keluarganya, sampai wanita-wanita yang ada di sekelilingnya. Untuk bagian yang terakhir, Bianca sampai lupa nama-nama wanita yang selalu Caleb ceritakan, saking banyaknya. Let me describe about Caleb, dia memang tipikal pria yang akan menjadi idaman para wanita. Tubuh tinggi tegap dengan otot-otot terbentuk sempurna hasil dari nge-gyw yang rutin, mata yang indah, dan pembawaan yang supel dan hangat. Dan yang terpenting, Caleb tahu seperti apa memperlakukan wanita. Bianca selalu menyebut mereka korban perasaannya Caleb dan Caleb menyebutnya pemanis hidup. Bianca selalu bertanya-tanya, tidakkah ada seorang saja wanita yang benar-benar Caleb cintai, dan Bianca akhirnya menemukan wanita itu. Seseorang yang bisa menjungkirbalikkan dunia Caleb. Wanita itu bernama Inka.
       Ketukan pelan di jendela mobilnya, menyadarkan Bianca dari lamunannya. Bianca segera bangkit dan membuka pintu mobil.
            “Lama banget sih,” protes Caleb begitu Bianca sudah keluar dari mobilnya.
           “Sabar dong, emangnya gampang cari parkir pas lagi penuh begini,” Bianca membela diri,                   “Pake disusulin segala, bentar lagi juga aku masuk.”
        “Justru itu sengaja aku susulin, tadinya mau bantuin kamu parkir,” jawab Caleb ringan, kemudian merangkul pundak Bianca, “Yuk masuk, yang lain udah pada nungguin.”
            Sentuhan ringan Caleb membuat Bianca sedikit mengerjap. Entah sejak kapan dia harus ekstra mengendalikan detak jantungnya setiap kali bersentuhan dengan Caleb, sementara dilihatnya Caleb kelihatan santai-santai saja. Bianca benci perasaan ini, perasaan ‘aneh’ setiap kali bersama Caleb. Dia benci karena bingung harus berbuat apa.
            Caleb menuntun Bianca ke tempat biasa mereka duduk. Sofa melingkar di pojok tengah Verde selalu menjadi spot favorit mereka. Sesampainya di sana rupanya sudah cukup ramai. Ada Resa dan Erik sahabat-sahabat Caleb dari SMA, yang kemudian jadi sering nongkrong dengan Bianca juga. Ada juga Theo teman kantornya Caleb dan pacarnya Indah, dan Regina, yang baru Bianca kenal barusan, sepertinya sih pedekateannya Resa. Bianca nggak menyangka akan seramai itu. Dipikirnya hanya ada Resa dan Erik seperti biasa. Tahu udah rame gini kan mending nggak usah dateng, pikir Bianca dalam hati.
          “Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga,” kata Erik begitu Bianca duduk. Bianca awalnya memilih duduk di samping Erik, tapi Erik malah bergeser dan memberikan tempatnya untuk Caleb. Seperti ada aturan nggak tertulis kalau Bianca harus selalu di samping Caleb, dan Bianca kadang gerah akan hal itu.
           “Pesen minum dulu Bi,” Resa memberikan buku menu pada Bianca. Bianca menggangguk dan menerima buku menu itu. Bianca baru saja akan memesan cocktail atau sedikit minuman beralkohol lainnya yang mungkin bisa menghilangkan kepenatannya setelah seharian sibuk di kantor, ketika kemudian didengarnya Caleb sudah memesan jus leci pada waitress.
            “Kamu pesen jus leci buat siapa?” tanya Bianca.
            “Aku pesenin buat kamu, biar kamu nggak usah pesen yang aneh-aneh,” jawab Caleb santai. 
         Bianca mendengus kesal. Diambilnya botol bir dingin milik Erik dan ditenggaknya dengan cepat isinya, sebagai bentuk protesnya pada Caleb.
            “Whoa..whoa..apa-apaan nih?” Caleb dengan paksa menarik botol bir tersebut, sebelum isinya benar-benar dihabiskan, “Cukup Bi, kamu nggak boleh minum sekarang. Aku jadi khawatir deh nanti kalau aku nggak ada siapa yang bakal jagain kamu.”
         “Mulai deh posesifnya,” sambung Resa yang disambut senyum puas di wajah Caleb. Apa Caleb nggak pernah sadar perlakuannya barusan semakin menambah kepedihan di hati Bianca.
***
         Entah sejak kapan Bianca menyadari perasaannya pada Caleb sudah terlalu jauh. Mungkin sejak Bianca merasa terlalu nyaman berada di samping Caleb atau mungkin karena Bianca selalu menjadi tempat Caleb bersandar.
      Bianca ingat, malam itu hari Jumat, sama seperti hari ini, Bianca baru saja beres lembur dari kantor. Dengan terburu-buru Bianca datang ke Verde karena mendapat panggilan darurat dari Caleb. Suara Caleb di telepon saat itu benar-benar membuatnya panik. Benar saja, sesampainya di sana, dilihatnya Caleb duduk sendiri di tempat biasa, sudah menghabiskan berbotol-botol minuman beralkohol.
       “Ini apa-apaan?” Bianca menjauhkan minuman dari jangkauan Caleb. Dilihatnya Caleb sudah terlalu teler untuk minum lagi.
         “Biarin aja Bi,” Caleb berusaha mengambil kembali botolnya, tapi kemudian menyerah karena sudah terlalu lemas untuk menggapai. Kemudian mengalirlah semua isi hatinya, “Aku sayang banget sama dia, Bi. Semua udah aku kasih buat dia, aku udah dibawa kenal sama keluarganya, temen-temennya. Kita bahkan udah ngomongin soal masa depan. Sekarang tiba-tiba dia jadian sama cowo lain. Damn.”
       Bianca sudah beberapa kali mendengar Caleb bercerita tentang Inka, dan dari cerita yang didengarnya, Caleb sepertinya benar-benar fall in love dengan wanita ini. Inka begini lah, Inka begitu lah, rasanya Bianca seperti sudah lama mengenal Inka karena seringnya dan begitu detailnya cerita Caleb. Dan kalau sekarang dia dengar apa yang Inka lakukan, Bianca cukup amaze dengan apa yang bisa wanita itu lakukan pada sahabatnya ini.
         Caleb sudah terlalu mabuk malam itu untuk bisa pulang sendiri. Bianca bahkan harus minta bantuan satpam untuk membopong Caleb masuk mobil. Beruntung dia cukup mengenal pemilik Verde, jadi mobil Caleb bisa dititipkan di situ. Namun Bianca tidak cukup kuat untuk menggotong Caleb sesampainya mereka di apartemen Caleb. Terpaksa dia hanya parkir di parkiran dan menunggu hingga Caleb bangun.
         Jam sudah menunjukan pukul empat pagi, ketika Caleb terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Dilihatnya Bianca duduk di samping dengan mata terpejam, tapi mulutnya bersenandung lagu yang diputar di radio mobil.
            “Bi,” Caleb menyentuh pelan bahu Bianca.
          “Hello sleepyhead,” Bianca tersenyum kemudian mengubah posisi duduknya, menghadap ke arah Caleb.
           “Berapa lama kita di sini?” Caleb cukup terkejut ketika melihat jam tangannya, sudah hampir pagi.
           “Cukup lama buat bikin kaki aku pegel banget,” canda Bianca, “Are you okay now?”
            Caleb tersenyum dan dengan natural dielusnya puncak kepala Bianca, “Makasih ya Bi, karena selalu ada buat aku.”
          Bianca blushing. Cepat-cepat dialihkan wajahnya, tidak mau Caleb menyadari hal itu. Mungkin sejak hari itu, Bianca tidak pernah lagi memandang Caleb dengan cara yang sama.
***
         “Oke guys, gue sengaja ngumpulin kalian semua hari ini, karena mau mengumumkan sesuatu,” kata Caleb tiba-tiba. Semua yang duduk di situ mulai penasaran.
           “Hari ini adalah hari terakhir gue di Jakarta,” lanjut Caleb lagi, “Karena mulai besok gue harus terbang ke Amrik ngerjain proyek yang kemaren sukses gue menangin tendernya.”
           Semua yang ada di situ spontan bertepuk tangan, ikut gembira mendengar kabar Caleb. Resa, Erik, dan Theo langsung bangkit dan memeluk sahabatnya, brotherly. Sementara Bianca sukses dibuat shock oleh pernyataan Caleb barusan. Ditinggal Caleb ke Amerika untuk jangka waktu yang lama rasanya bukan kabar yang cukup menyenangkan untuk Bianca dengar saat ini. Melihat respon yang lain, tiba-tiba Bianca merasa bodoh. Apa hanya dirinya yang baru tahu soal kabar ini? Dia pikir Caleb sudah menganggapnya sahabat yang bisa cukup dipercaya untuk tahu lebih dulu mengenai kabar seperti ini, tapi nyatanya Bianca mungkin yang terakhir tahu. Sebersit rasa nyeri muncul di hatinya. Karena tidak dipercaya, karena dia akan ditinggalkan Caleb, dan karena Caleb akhirnya pergi tanpa pernah tahu apa yang dirasakan Bianca selama ini.
         “Bi,” Caleb menyentuh pundak Bianca pelan setelah euphoria pengumumannya tadi selesai dan karena Bianca nampak tidak bergeming.
         “Jadi ini semacam farewell party ya?” tanya Bianca sedikit ketus.
     Caleb menangkap kekesalan di nada suara Bianca, “Maafin aku Bi, aku sama sekali nggak bermaksud menyembunyikan ini dari kamu,” Caleb menghela napas sejenak, mencoba memberi penjelasan, “Beberapa minggu yang lalu mungkin aku sempet cerita soal kerja sama perusahaan dengan klien di Amerika. Kita ngerjain pembangunan apartemen murah di sana. Aku sama temen-temen coba bikin konsep yang beda dan ternyata klien kita suka. Bos aku langsung nunjuk aku jadi team leader proyek ini, karena hampir sebagian besar konsepnya memang aku yang buat. Jadi ya otomatis aku harus langsung move ke sana.”
        Bianca masih diam. Dia semakin menundukkan kepalanya, berharap dengan bersikap seperti itu tidak ada seorang pun yang dapat melihat kesedihannya. Caleb bahkan masih ada di situ, tapi kenapa rasa kehilangan itu sudah begitu menoreh hatinya.
      “Nggak lama kok Bi, target kami setahun proyek itu selesai, dan aku balik Jakarta lagi. Oh, dan aku udah nitipin kamu sama Resa dan Erik, jadi kamu nggak akan kesepian selama aku nggak ada di sini,” Caleb masih mencoba menenangkan Bianca. Biar bagaimana pun antusiasnya dia dengan pekerjaan barunya di Amerika, Caleb tetap merasa berat meninggalkan Bianca.
       Melihat Bianca hanya diam, Caleb dengan refleks menggenggam tangan Bianca. Bianca kaget dan spontan berdiri sehingga menjatuhkan tas yang sejak tadi ada di pangkuannya. Hampir sebagian isi tasnya berhamburan keluar. Ketika Bianca sibuk memunguti barangnya yang jatuh, sesuatu yang kecil dan sedikit berkilau menarik perhatian Caleb.
           Sebuah anting perak yang sangat familiar bagi Caleb. Anting itu sudah dikaitkan dengan rantai kecil, mungkin bisa dipakai sebagai gantungan kunci. Caleb yakin betul anting itu adalah anting miliknya dulu. Anting yang hanya sebelah kiri itu selalu dipakainya dulu ke mana pun, tapi satu kali saja Inka mengatakan tidak suka pada pria yang memakai anting, tanpa pikir panjang dibuangnya anting itu. Dia kaget anting itu kini ada pada Bianca. Dibuat menjadi seperti liontin pada sebuah rantai sehingga tidak akan mudah hilang.
           Bianca terkejut ketika dilihatnya Caleb menemukan anting yang selama ini dia sembunyikan. Dengan cepat direbutnya anting tersebut dari tangan Caleb, tapi tangan Caleb tidak kalah cepat untuk menahannya.
           “Apa ini Bi?” tanya Caleb masih menggenggam anting itu.
           Bianca hanya diam, bingung mau menjawab apa. Rasanya masih jelas dalam ingatannya waktu Caleb membuang anting itu. Caleb membuang benda kesayangannya demi wanita yang dia sayang, dan wanita itu bukan Bianca. Bianca sudah akrab dengan kepedihan karena perasaannya pada Caleb hanya bisa disimpannya sendiri. Dia tidak mau merusak persahabatannya dengan Caleb selama ini. Selalu berada di samping Caleb saja baginya sudah cukup. Memiliki anting itu hanyalah sebagai simbol. Memiliki sebagian dari Caleb.
          Melihat Bianca tidak juga berkata apa pun, Caleb melanjutkan lagi, “Anting ini kecil banget Bi, kalau aku nggak pernah tahu gimana?”
         Bianca menemukan sorot mata kesedihan di mata Caleb. Ya Tuhan, bagaimana caranya dia tetap dapat bertahan selepas Caleb pergi nanti. Dia pasti akan sangat merindukan tatapan hangat Caleb, pelukannya yang nyaman, dan momen-momen kebersamaan mereka. “Gapapa kalau kamu nggak pernah tahu,” Bianca tersenyum penuh arti, “Memiliki anting ini saja sudah cukup membuatku bahagia.”
            Caleb menarik Bianca ke dalam pelukannya. Tidak peduli saat itu teman-temannya yang lain mulai memperhatikannya, yang dia inginkan saat itu hanya Bianca. Dalam pelukan Caleb, Bianca membiarkan air matanya perlahan jatuh.
***
Sabtu pagi, di apartemen Caleb..
          Bianca masuk ke apartemen milik Caleb. Sebelum pergi, Caleb sempat menyerahkan kunci apartemennya, katanya kalau Bianca lembur bisa sekali-kali istirahat di apartemennya. Jarak apartemen Caleb dan kantor Bianca memang lebih dekat jika dibandingkan dengan kantor dan rumahnya. Selama ini pun Bianca kadang suka numpang istirahat di apartemen Caleb.
         Apartemen yang didesain dengan konsep modern minimalis itu kini terlihat lebih rapi dari biasanya. Sepertinya Caleb menyempatkan diri dulu untuk beres-beres karena akan meninggalkan lama tempat ini.
          Bianca berjalan menuju kamar Caleb. Dengan perlahan dibuka pintu kamarnya. Selama ini Bianca tidak pernah sekali pun memasuki kamar ini. Sedekat apa pun mereka selama ini, Bianca tetap menjunjung tinggi yang namanya privasi dan kesopanan.
            Kamar Caleb terbilang cukup rapi untuk ukuran kamar pria. Nuansa warna hitam putih yang mendominasi di kamar itu menambah kesan maskulin bagi si pemilik kamar. Tidak terlalu banyak barang atau hiasan di sana. Mungkin karena sebagian besar sudah Caleb bawa. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian Bianca. Dua buah bingkai foto yang diletakkan di meja kecil, di samping tempat tidur.
         Bianca mengambil kedua bingkai foto itu. Bingkai pertama berisi fotonya dengan Caleb. Sepertinya foto itu diambil setahunan yang lalu waktu mereka sedang berlibur ke Bali. Di foto itu Caleb merangkul Bianca dengan paksa, dan tersenyum lebar. Sementara Bianca yang sedang tidak siap di foto, menunjukkan ekspresi cemberut dan terkesan lucu di foto itu. Melihat foto itu Bianca tersenyum. Hatinya merasa hangat. Belum sehari Caleb pergi, tapi dia sudah sangat merindukan pria itu.
            Bingkai foto satunya lagi membuat Bianca mengernyit bingung. Itu adalah foto dirinya yang diambil secara candid. Dia bahkan tidak tahu kapan foto itu diambil. Dirinya sedang duduk di sofa sambil membaca novel. Dibaliknya bingkai foto itu dan ternyata ada tulisan tangan di sana. Tulisan Caleb yang berbunyi The place I’ll come home to..
          Bianca terduduk dengan lemas di lantai, bersender ke pinggiran tempat tidur. Dipeluknya kedua bingkai foto itu dengan erat. Bianca tidak sanggup menahan lagi air matanya. Dalam diam dia menangis, mengingat Caleb, mengingat perasaannya yang tidak pernah tersampaikan. Di antara sekian banyak benda yang dapat Bianca temui di kamar Caleb, kenapa hanya ada dua foto tersebut di kamar Caleb. Seakan-akan foto itu adalah hal yang paling berharga baginya. Dan tulisan yang tadi Bianca lihat, tentunya memiliki makna yang tidak biasa. Mungkinkah selama ini Caleb juga memiliki perasaan yang sama? Perasaan yang juga disimpannya dengan rapi.
               Dalam tangisnya, Bianca tiba-tiba merasakan handphone-nya bergetar .
Caleb :
Tega banget sih kamu, nggak nganterin aku ke bandara.

Bianca :
Daripada sedih ngeliatin kamu pergi, nanti ada nangis-nangis di bandara kaya sinetron lagi.

Caleb :
Hahaha..Take care ya Bi, nanti kalau ada cowok yang deketin kamu, pastiin orangnya jangan kaya aku.

Bianca :
You too, take care Cal. Kalau mau deketin cewek, pastiin orangnya kaya aku.

Caleb :
Aku udah nggak mau deketin cewek lain lagi, kalau deketin kamu aja gimana? Hehehe.. I’ll miss you, Bi..

Bianca :
I’ll miss you too

            Bianca tersenyum ketika mengetikan pesannya yang terakhir. Tadinya dia kira percakapannya sudah selesai, ketika dirasakannya handphone-nya bergetar lagi. Rupanya Caleb mengirimkan pesan lagi.

Caleb :
Bi, satu tahun itu nggak lama, kamu mau kan nungguin aku pulang?

Bianca :
I will.

            Bianca menghapus sisa air matanya dan tersenyum lega. Dalam hati dia berjanji akan menunggu Caleb pulang. Caleb pasti kembali. Bukankah di foto tadi dia bilang dirinya adalah tempat untuk Caleb pulang? Aku pasti akan tunggu kamu pulang, Cal. 



Sabtu, 11 Februari 2017

Ayaka by : Teresia Rani

Namanya Ayaka, dinamakan begitu karena kata ibunya dia lahir saat musim panas di Jepang dan arti namanya berarti ceria. Rasanya nama itu cocok sekali untuk Ayaka. Sepanjang ingatanku, sejak 4 tahun lalu saat pertama kali bertemu dengannya sampai saat ini tak pernah aku melihatnya menangis. Senyuman lebar selalu ada di bibirnya. Sesekali wajah itu terlihat merengut kesal atau terdiam merenung tapi tidak pernah terlihat air mata mengalir di pipinya.

"Ibumu tu cocok kasih lo nama begitu, ya.. lo kayak happy terus. Gak ada beban hidup kayaknya"
"Ada kali mbak, cuma ga keliatan aja. hahaha" tawanya renyah sekali

Dia selalu memanggilku mbak, meski usia kami sebenarnya hanya terpaut 3 tahun. Pernah aku memintanya untuk memanggilku dengan nama saja dan dia tidak mau. "Gak sopan ah" ujarnya.

Dan kali ini wajah yang selalu tersenyum itu tampak basah oleh air mata di hadapanku. Tanpa sadar aku mulai mengerjapkan mata sekedar memastikan itu adalah air mata dan bukan tetesan air hujan dari atap cafe yang sedang kami tempati ini. Aku mencondongkan badanku penasaran ingin bertanya tapi ahh.. baru kali wajahnya tampak begitu sedih, membuatku kelu tak tega rasanya ingin bergurau mengenai air mata itu.

"lo kenapa,ya?" hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku bahkan kehilangan kata-kata melihat wajahnya saat itu.
"aku positif HIV mbak"
ingin rasanya aku bertanya "HIV? kok bisa? gimana ceritanya?" dan sejuta pertanyaan lain, tapi yang keluar dari bibirku hanya sebuah gumaman. Ayaka pun tidak melanjutkan ceritanya. hanya itu. Sebuah kalimat pernyataan yang mengundang banyak tanya.

Disitu, bersamaan dengan hujan turun, aku melihat air mata Ayaka mengalir dan bahunya mulai bergetar menahan tangis dan aku hanya bisa memeluknya. Kami terdiam, berpelukan dan menangis bersama.

Pikiranku mulai menelaah perkataannya. HIV? Bagaimana bisa? Ayaka yang kukenal adalah wanita baik-baik. Sesekali berkencan dengan teman pria tapi hanya sekedar makan malam atau pergi ke cafe. Aku tahu betul karena Ayaka selalu bercerita mengenai semua pria-pria yang sedang dekat dengannya. Ah, Ayaka... 4 tahun aku mengenalmu tapi kini bahkan mungkin ternyata sebenarnya aku tidak mengenalmu sama sekali.

Ntah berapa lama aku terdiam dan Ayaka perlahan mulai berhenti menangis, hanya sesekali air matanya turun. Beberapa pengunjung cafe mulai melirik ke arah kami, merasa iba atau hanya sekedar penasaran dengan situasi yang terjadi.

"Aku dulu punya pacar mbak, 5 tahun lalu. Kami pacaran sudah lama 2 tahun." Ayaka mulai bercerita. Aku menyeruput kopi hitam berusaha mendengarkan dengan seksama meski pikiranku mulai bercabang-cabang berusaha menerka jalan ceritanya.

"Saat perayaan hari jadi kami yang kedua, waktu itu..mmm.." Ayaka tampak mulai canggung, antara enggan melanjutkan tetapi ingin bercerita.

"Gimana ya mbak nyeritainnya, pokoknya ada kesempatan dan tiba-tiba ya begitulah.. tau kan mbak" ia menatapku dengan ekspresi berusaha menjelaskan maksudnya dengan matanya. Tangan kanannya meremas-remas gelas dihadapannya. Gugup.

"Maksudnya berhubungan?" tanyaku perlahan.

"Ya itu" Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kegugupannya menular, aku pun mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Aku mungkin sudah menikah, tapi rasanya tidak pernah bercerita tentang hal seintim ini meski dengan sahabatku sendiri.

"Gak lama setelah kejadian itu, dia kena sakit cacar air. 6 minggu kemudian dia meninggal" Ia melanjutkan. Lalu terdiam kembali.

Hening

Kenapa aku tidak bisa berkata-kata. Bahkan kalimat turut berduka saja tidak berhasil keluar dari mulutku.

"Aku gak percaya mbak masa cuma cacar air meninggal, teknologi kita kan sudah canggih. Aku tanya sama mamanya, akhirnya mamanya cerita kalau anaknya positif HIV. Itupun beliau kasih tau setelah aku desak mbak. Katanya beliau pun taunya waktu di RS pas pacarku masih dirawat. Infeksi. Daya tahan tubuhnya melemah langsung drop. "

Ayaka memanggil pelayan cafe, meminta minuman kedua.

"Waktu itu aku pikir saat ditinggal adalah waktu terburukku. Ternyata gak. Berita hari ini lebih buruk mbak. Aku baru tau hari ini kalau aku tertular. Hanya sekali melakukan dan aku tertular!! Antara kesal, sedih, campur aduk. Aku harus gimana mbak? 5 Tahun aku berusaha melupakan semuanya dan dalam itungan detik semua kembali. Bang!!" Tangannya mengepal. Antara kesal dan sedih. Aku tidak tahu pasti ekspresinya saat itu.

"Itu yang bikin aku selama 5 tahun ini ragu punya pacar,mbak. Rasanya sulit menemukan lelaki yang tulus menerima masa laluku. Mungkin aku yang sulit percaya juga. Tambah lagi tentang ini. Gimana coba?" air matanya mengalir kembali. Aku mencari tisu di dalam tas. Mataku sudah tidak bisa fokus mencari barang-barang didalam tasku.

"Aku ga tau harus ngomong apa,ya... " akhirnya aku berkata-kata dan yang keluar hanya sebuah kalimat bodoh tidak berarti. Ayo kasih semangat. Otakku berusaha mencari kalimat yang pas tetapi tampaknya otakku sedang tidak bisa berpikir. Aku benci situasi ini.

"Gak apa-apa mbak, aku cuma pengen cerita aja. Hah.. udah lega. Aku udah selesai nangis. Udah" Ayaka menarik nafas panjang beberapa kali dengan mata tertutup. Saat ia membuka mata, bibirnya tersenyum manis. Sama seperti Ayaka yang biasa kukenal.

"udah? Lah.. trus gimana? lo ga lanjut ceritanya ni? that's it?? udahan??" Serasa tak percaya aku bertanya keheranan, bagaimana bisa ada orang yang beberapa saat lalu sedih luar biasa lalu sekarang wajahnya biasa saja seperti tidak ada masalah.

"Udah mbak.. jangan gitu ah, ntar ak inget lagi loh. Mumpung udah hilang ni sedihnya. Masih sedih sih, tapi better lah. Cerita lengkapnya kapan-kapan aja. Kalau aku mood cerita lagi. Sekarang udahan ya. Aku mau cerita yang lain aja. Jadi gimana proyek kerjaan mbak kemaren" Ia mencomot cake coklat yang dari tadi belum tersentuh.

"Mbak! jangan liatin aku gitu ah" tangannya mengibas-ngibas di depan wajahku yang masih melongo keheranan.

"Ya... lo tu ya.. ampun deh! Gue gak tau lagi dah. Bisa ya lo nangis trus tiba-tiba haha hehe begini. Trus lo kalau udahan itu gimana? maksudnya gimana? Lo ga mikir trus gimana? Atau apaaa gitu?" tanyaku gemas.

"Ntar aja mikirnya, lagi males. Ngabisin kue dulu ya" ujarnya sembari asik mengunyah.

Setelah itu waktu kami hanya berbincang ringan, tanpa mengungkit apapun tentang hal yang baru saja ia ceritakan. Saat berpamitan pun wajahnya tersenyum, mencium pipiku dan melambaikan tangannya. Aku menatap punggungnya yang berlalu pergi. Pikiranku masih ingin meneruskan pembicaraan kami. Sudahlah mungkin lain kali saja.

"Gue ga tahu kenapa lo diberi cobaan seperti ini,Ya.. be tough,Ya..lo pasti kuat" bisikku dalam hati.

Hari-hari berikutnya kami hanya saling menyapa di sosmed, kesibukanku pada proyek yang sedang aku jalankan membuatku tidak punya waktu luang untuk bertemu Ayaka. Postingannya di sosmed masih seperti biasa, ringan, cerdas, ceria. Tidak akan ada yang menyangka apa yang sebenarnya sedang dia hadapi. Belakangan aku melihat foto-fotonya di sosmed sedang aktif kampanye anti HIV dan edukasi di dinas sosial tentang HIV/AIDS. Harus seperti inikah jalan hidupmu,Ya? Menjadi contoh untuk kemudian menjadi inspirasi agar tidak banyak orang yang jatuh kedalam lubang yang sama? Tapi kenapa harus kamu? Kenapa tidak orang lain? Apa karena Tuhan tau bahwa cuma kamu yang kuat untuk mengatasi hal ini? Dan cuma kamu yang bisa tetap tersenyum disaat orang lain yang bernasib sama langsung merasa tidak mempunyai harapan hidup lagi? Agar kamu bisa menjadi penyemangat bagi orang lain itu?


Dia Ayaka, Wanita ceria yang lahir di Musim Panas Jepang. Tetaplah tersenyum sahabatku. Meski hidup terkadang kejam, akan selalu ada senyummu yang akan membuatnya indah.