Senin, 26 Juni 2017

ROTI HOMEMADE DENGAN BREAD MAKER REBREAD



Suatu hal yang membanggakan sekali kalau bisa membuat berbagai makanan homemade sendiri. Selain lebih sehat pastinya. Tapi tidak semua orang bisa memasak loh, dibutuhkan latihan dan kreasi dalam memasak dan membuat makanan. Apalagi olahan tepung seperti roti, agak-agak susah susah gampang ya buatnya. Meski resep sudah diikuti secara pasti tetap saja ada aja yang bikin kita gagal. Tapi gimana kalau ada alat yang cukup dengan dipencet-pencet saja langsung jadi makanan? ughh pastinya bikin happy ya hahaha..

Baca selanjutnya disini...

Jumat, 21 April 2017

Wisata Kematian di Tana Toraja yang Mempesona #TanaTorajaPart1 - By : Mita Vacariani



Kenapa disebut wisata kematian? Karena tempat-tempat yang iconic di Tana Toraja berkaitan dengan kuburan, tulang belulang jenazah, dan tempat orang meninggal. Tapi nggak perlu takut atau bergidik ngeri, karena tempat-tempat wisata di Tana Toraja justru unik dan membuat kamu terpesona.

Sedikit informasi tentang Toraja, Kabupaten Tana Toraja terletak di propinsi Sulawesi Selatan dengan ibu kota Makale. Kemudian wilayah kabupaten ini mengalami pemekaran menjadi Kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Untuk mencapai Tana Toraja, kamu bisa menggunakan jalur darat dan udara dari Makasar. Saya memilih jalur darat karena alasan biaya yang sudah pasti jauh lebih murah dan rasa penasaran ingin mencoba bis malamnya yang terkenal super nyaman. Beneran nyaman?? #IMHO, jauh deh kalau dibandingkan dengan bis-bis di Pulau Jawa. Kursi bisnya berukuran jumbo, sangat empuk dan nyaman. Ada sandaran kaki yang bisa dinaikan jadi nggak bikin kaki pegal selama perjalanan. Jarak baris antar kursinya juga lega jadi kursi bisa diluruskan sampai 180 derajat, enak banget buat tidur. Plus lagi kita dikasih selimut dan bantal, makin enak deh tidurnya. Saya membeli tiket bis kelas ekonomi seharga Rp. 140.000,- Untuk kelas ekonomi saja fasilitasnya sudah lumayan oke kok, apalagi kalau ambil yang kelas premiere, katanya kursinya ada pijat elektrik, lampu baca, TV, dan free WIFI.

bisnya gede plus gambar hello kitty yang unyu banget hehe..


interior dalam bis, selimutnya juga lucu kan (ini sih ga penting hehe)

kursinya kurang lebih kaya gini, ada senderan kakinya

Perjalanan Makassar – Tana Toraja yang memakan waktu 8-9 jam perjalanan jadi nggak kerasa. Kamu bisa naik bis nya langsung di pool bis masing-masing. Pilihannya ada banyak, tapi rata-rata kualitas bisnya sudah sama baiknya. Saya memilih naik bis primadona. Bisa beli tiket secara online juga disini.

Jadi ke mana aja saya selama di Toraja? Ini dia beberapa destinasi yang membuat kita kagum dengan wisata kematian ala Toraja :

1.         Kete Kesu
Belum ke Toraja kalau belum mengunjungi Kete Kesu. Kete Kesu adalah desa wisata di Tana Toraja, sekitar 4 KM dari Rantepao. Masuk areanya kita akan disambut dengan rumah-rumah adat Tongkonan yang megah. Tanduk-tanduk kerbau yang dipajang di depan rumah menandakan kekayaan pemilik rumah. Masuk ke bagian dalam Kete Kesu, ke arah tebing bukit terdapat kuburan-kuburan khas Toraja. Peti-peti kayu tua yang umurnya ratusan tahun tergantung di tebing. Tulang belulang dan tengkorak juga berserakan di area ini. Campur aduk deh antara ngeri sekaligus kagum melihat keindahan budaya dan adat di Toraja. Makanya nggak salah kalau Patricia Schultz menyebutkan Tana Toraja sebagai salah satu destinasi yang wajib dikunjungi sebelum mati dalam bukunya 1000 Places to See Before You Die (2003).

di Kete Kesu, di antara deretan rumah adat Tongkonan yang megah

peti-peti kayu di tebing di Kete Kesu

2.         Lemo
Masih berupa objek wisata makam, Lemo ini merupakan tebing tinggi yang diukir menjadi lubang-lubang untuk menempatkan jenazah. Makam-makam ini tersusun rapi jadi seperti hiasan tebing yang memiliki keunikan tersendiri. Ada juga deretan patung yang berwujud boneka manusia

di depan tebing batu Lemo

3.         Bori Kalimbuang
Terletak sekitar 5 KM dari Rantepao, tepatnya di Jalan Bori, Kecamatan Sesean di Toraja Utara, Bori Kalimbuang merupakan situs megalith terbesar di Toraja. Di sini kamu akan melihat batu-batuan lonjong yang disebut menhir berdiri tinggi menjulang. Sebenarnya di Toraja ada banyak menhir seperti ini, tapi Bori Kalimbuang ini yang menurut saya paling memukau. Sepintas mirip Stonehenge di Inggris, jadi tempatnya pasti instagram-able banget. Masuk ke area dalamnya lagi-lagi kamu akan menemukan makam-makam (tetep ya ga jauh-jauh dari makam) dan rumah adat Tongkonan.

deretan menhir di Bori Kalimbuang

lubang batu berisi peti jenazah

4.         Londa dan Kambira
Masih ada lagi nih tempat wisata makam terkenal lainnya di Toraja yaitu Londa, berupa goa-goa tempat meletakkan peti jenazah (lengkap dengan tulang belulang dan tengkorak manusia) dan Kambira yaitu kuburan bayi yang disebut passiliran. Sayangnya karena keterbatasan waktu saya nggak sempat mengunjungi kedua tempat ini. Maklum karena saya memilih one day trip di Toraja, jadinya waktu dimanfaatkan se-efektif dan se-efisien mungkin. Karena terbilang masih cukup sama seperti wisata makam yang sebelumnya saya kunjungi jadi sisa waktu yang ada saya pakai untuk wisata kuliner di Tana Toraja. Next, saya akan cerita seputar makanan enak dan ngopi enak di Toraja di postingan saya selanjutnya yaa.. #TanaTorajaPart2

Notes :
·           HTM Kete Kesu Rp. 10.000/ orang, HTM Lemo Rp. 10.000/ orang, HTM Bori Kalimbuang Rp. 10.000/ orang
·           Ada banyak kios-kios penjual souvenir khas Toraja untuk oleh-oleh di sekitar Kete Kesu dan Lemo. Barangnya bagus-bagus dan lumayan murah loh..

·           Saya keliling Toraja dengan menggunakan motor. Sewa motor bisa di depan wisma Maria 1 (daerah Rantepao, tidak jauh dari pool terakhir bis Primadona). Kalau kehabisan di depan wisma Maria ini juga ada tempat penyewaan motor. Harga sewanya Rp. 100.000/hari

Minggu, 26 Maret 2017

Pangandaran Trip By Kristin Aritonang


                Memutuskan untuk liburan adalah salah satu cara agar tetap waras ditengah sibuknya dunia pekerjaan. Sesuai dengan motto dari tripaddicts “Jalan-jalan itu bikin lo kecanduan” dan memang benar saya kecanduan traveling, kemana saja. Selain menyenangkan, traveling juga bisa dibilang mengembalikan energi yang terkuras selama beraktivitas. Kali ini liburan bareng @tripaddicts ke Pangandaran.



Trip Addicts
  1. Green Canyon
Tujuan pertama adalah Green Canyon. Setelah menempuh +/- 12 jam perjalanan dari Jakarta ke Pangandaran dengan menggunakan ELF, main air sepertinya menjadi pilihan yang tepat. Sarapan di batu karas yang lokasinya tidak jauh dari meeting point untuk body rafting.




Team Green Canyon

Persiapan pertama, menggunakan perlengkapan body rafting dimulai dari pelampung, sepatu karet yang disediakan (standar untuk body rafting), pelindung lutut dan helm. Dari tempat meeting point, kami menggunakan mobil bak terbuka menuju lokasi pendakian. Waktu yang diperlukan sekitar 20 menit, dilanjutkan dengan naik turun bukit selama 15 menit.


Our Happy faces

Sabtu, 18 Maret 2017 pukul 10.00 WIB dibuka dengan briefing tentang hal-hal yang perlu diperhatikan selama body rafting oleh pemandu. Berbeda dengan rafting yang menggunakan perahu sebagai medianya, body rafting menggunakan tubuh sendiri untuk terapung di air.

Saat sampai start, ternyata saya harus melompat ke air dari atas batu yang tingginya 2 meter. Lemes!!!! Baru saja sampai dan harus langsung lompat. Deg-degan banget. Percayalah untuk saya yang suka main air tapi nggak bisa berenang, di suruh lompat itu sangat menakutkan. Tapi masa balik lagi ke atas?!? malu dongggg. Dan saya pun lompat, blup blup blup…. Thanks to pelampung yang membawa saya naik ke permukaan. Berenang sekitar 3 meter, naik ke batu dan saya harus lompat lagi. Kali ini dengan arus yang lebih kencang dari sebelumnya. Takut? tentu saja. Bahkan saya beberapa kali berdoa dan lutut lagi-lagi terasa lemas. Disemangati oleh teman-teman, yang nasibnya nggak beda jauh dengan saya. Nggak bisa berenang, selalu panik kalau ketemu air but we make it happen! Saya berhasil untuk kedua kalinya. Naik turun batu, terbentur sana sini. Membiarkan arus air membawa saya menepi untuk mendarat sejenak. Mempercayakan rekan didepanmu untuk memimpin menyusuri sungai. Naik ke atas batu yang tingginya 7 meter dengan bantuan tali dan kerjasama teman-teman. Kurang lebih saya harus lompat 15 kali dari batu yang tingginya beragam. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke finish sekitar 5 jam. Lama juga yah perjalanannya. Lelah tapi nggak berasa.



Pemandangan yang disuguhkan membayar semua perjuangan selama 5 jam dengan semua gaya lompatan. Bagus banget, indahnya ciptaan Tuhan dan saya tinggal menikmati. Ada batu yang tingginya 5 meter, bentuknya menyerupai payung sehingga disebut batu payung dengan pantulan sinar matahari menghasilkan pelangi, so beautiful.


Can you see the rainbow ?

Kalau ada yang tanya, what do you feel? So Proud of my self! Saya berhasil mengalahkan rasa takut. Takut tenggelam, takut terbawa arus, takut celaka dan takut lain-lain. Karena body rafting ini, rasa takut itu sebenarnya kita sendiri yang buat. Saat saya bilang bisa, maka saya bisa. Saya yakin berhasil, maka berhasil akan diraih. Dan jangan lupa ada orang-orang disekitarmu. Dan hmm satu lagi, saya berhasil keluar dari posisi nyaman hanya menonton orang bermain air, tapi saya menikmati bermain air. So Happy.  



Pernah ada yang bilang
“Kok mau sih ikutan body rafting?”
“Kok berani banget?”
Untuk cerita ke anak cucu hahaha. Untuk saya, setiap traveling punya sensasi, cerita sendiri dan yang penting saya happy melakukannya. Selera mungkin kata yang tepat, selera liburan saya ya begini salah satunya hahaha. It’s me and you… ?

  1. Batu Karas
Batu karas adalah salah satu pantai yang ada di Pangandaran. Sayangnya cuaca nggak terlalu bagus saat itu. Hujan sepanjang hari. Jadi jadwal melihat sunrise nggak terpenuhi. Hanya jalan-jalan pagi disekitar pantai.

  1. Pantai Batu Hiu
Pantai lain yang dikunjungi adalah pantai Batu Hiu. Ombaknya lumayan besar. Sehingga sedikit sekali yang main disekitaran pantai. Ada bukit yang kita naiki dan bisa melihat pantai dari atas. Kenapa dibilang pantai Batu Hiu? Alasan pastinya sih nggak tau ya, tapi ada monumen/patung ikan hiu yang bertengger ketika memasuki kawasan ini. Cukup oke untuk hunting photo.






  1. Citumang
Selain Green Canyon, Citumang bisa jadi salah satu tujuan body rafting. Nah, Citumang juga menjadi tempat body rafting kedua rombongan saya kali ini. Arusnya cukup tenang tidak sederas Green Canyon. Lama body rafting disini kurang lebih 1 jam. Apa tetap ada adegan lompat ? Tentu saja ada. Tidak sebanyak di Green Canyon. Ada air terjun kurang lebih 3 meter dan harus lompat dari sana. Gimana kalau nggak mau? Kalau nggak mau berarti kamu nggak bisa pulang hahaha.
Ada bagian naik ke atas menggunakan ranting-ranting pohon sekitar 9 meter dan melompat. Nah, kalau yang ini bagi yang mau saja.


Team Citumang



Apa saja sih yang perlu dipersiapkan untuk body rafting? Sebenarnya sih nggak perlu persiapan yang gimana-gimana. Cukup mempersiapkan diri untuk lompat saja J. Dan satu lagi, karena ini sungai yang nggak terlalu bersih, buat teman-teman yang memiliki kulit sensitive lebih baik membawa sabun antiseptic atau sejenisnya supaya terhindar dari bentol-bentol yang agak mengganggu.

You can visit www.kristinaritonang.com for another article

Kalau kalian mau jalan-jalan kesana bisa menghubungi tour yang saya pakai nih @tripaddicts harganya ramah banget di kantong.

Biaya all in one Pangandaran Trip 750K/orang.



                

Rabu, 01 Maret 2017

Jakarta Undercover by Kristin Aritonang

               Film yang diangkat dari novel yang berjudul sama karya Moammar Emka baru release tanggal 23 Februari 2017. Sebuah karya yang menguak sisi lain Ibu kota. Buat saya sih film ini agak beda dari film yang lain. Dunia malam yang lekat dengan sex dan narkoba, pencarian jati diri, persahabatan, kejujuran sampai pengorbanan ditampilkan dengan apik. Film yang di sutradarai oleh Fajar Nugros ini cukup berhasil menampilkan kebebasan dunia malam di Jakarta.



                Adalah Pras (Oka Antara) seorang perantauan yang bekerja sebagai wartawan. Dikejar deadline sebuah berita tiap harinya oleh Bossnya (Lukman Sardi). Tinggal di lorong rusun yang kumuh, sempit, tanpa jarak. Pras yang hampir wara-wiri dari awal sampai akhir aktingnya tidak usah diragukan lagi. Berkolaborasi lucu dan gemesin saat bersama Awink (Ganindra Bimo) seorang pria feminim yang terpaksa meninggalkan mimpinya untuk sekedar bertahan hidup di Ibukota, memilih bekerja sebagai penari striptis disebuah klub malam. Kelamnya Jakarta membawa dunia baru bagi Pras. Bertemu seorang model namun terjebak dalam dunia prostitusi lagi-lagi untuk bertahan hidup. Dia adalah Laura (Tiara Eve), berjuang untuk dirinya dan keluarga setelah ayahnya di penjara karena korupsi, ibunya yang sakit-sakitan dan menanggung hidup adiknya.
Yoga, seorang bandar narkoba (Baim Wong) yang nyaris mati diselamatkan oleh Pras tanpa alasan dan tanpa imbalan. Membawa mereka dalam ‘persahabatan’ dengan pegkhianatan.

                Set yang dipilih cukup baik, merepresentasikan apa yang ingin script writer dan sutradara sampaikan. Karakter yang paling mencuri perhatian adalah Awink dan Yoga. Pria feminin yang seolah terjebak dalam tubuh pria macho terasa begitu real. Setiap gimmick, dialog, ekspresi yang ditampilkan sangat sesuai porsi dan terasa natural.
Bahkan scene kejujuran Awink pada Pras adalah bagian favorit. Tidak banyak kata-kata tapi kejujarannya sangat terasa.
“Ganteng….” (Pras menoleh).
“ Nama saya yang sebenarnya, Fajar.” (Awink)

Yoga yang meletup-letup, penuh emosi sangat tepancar dari wajah yang disuguhkan oleh Baim Wong. Sisi sedih dengan menangis (adegan di ruangan dengan berdua dengan Pras), terasa natural dan ‘dapet’ banget kesepian dan kesedihannya.
Tio Pakusadewo yang muncul diakhir cerita tanpa banyak dialog. Eksekusi perannya sebagai pejabat yang haus ‘wanita’ dengan ekspresi mendominasi terpancar banget. Kualitas aktingnya memang juara.

                Ada beberapa adegan yang menggantung. Apa yang terjadi antara Pras dan Yoga selanjutnya tidak diceritakan sehingga terasa tidak tuntas. Bagian akhir antara Pras dan Laura. Kesedihan Pras yang teralihkan ketika dia berkata kangen dengan berteriak. Ketika dikatakan sampai dua kali jadi berasa agak lucu. Rasa sedih yang kurang ter-deliver dari Laura. Entah karena ekspresi atau tangis yang dipaksakan.

                Tetapi secara keseluruhan, film Jakarta Undercover berhasil menggambarkan kehidupan kelam secara nyata. Satu karya lagi yang membuktikan film Indonesia semakin berkualitas. Bravo to all casts and team.