Minggu, 18 Juli 2010

KENAPA HARUS SAKIT, KALAU BISA BERNYANYI ? by :Mpok Mercy Sitanggang

“ Ini belum selesai. Tidak akan selesai mungkin.
“ Kenapa ? “
“ Masih ada yang tersisa “
“ Apa ?
“ Buat apa ? “
“ Apa ??? “
“ Maksa banget ..!!! “
“ Cus.. !!! “
“ Maaf..”
“ Maksud ?? “
“ Saya tunggu kata maaf itu. ASAP “
Nisa selesai dipaksa. Alit selesai memaksa Nisa. Sementara Saya, Toni dan Ana hanya jadi saksi pemaksaan luka tersebut. Mereka berdua tidak pernah selesai bercerita tentang cerita yang dikeluarkan dari gulungan berikat erat. Ikatannya bahkan sudah berkarat. Susah payah ikatannya dibuka lagi. Seperti luka yang sudah mengering. Dikorek terus yang sudah kering. Yang kering kembali menjadi luka. Luka itu yang rasanya sama seperti luka yang dulu. Luka yang sekarang bernama. SAKIT.
Huff.. Dada Nisa selalu sesak setiap kali teringat akan rasa sakit ( itu). Seolah – olah Dia berjalan mundur dengan cepat. Berjalan mundur bukan karena disuruh mundur. Tapi, didorong dari depan. Dipaksa untuk mundur. Nisa berjalan sambil teriak – teriak. Bahkan keringat jagung yang terlihat tidak mampu di tahan sapuan bedak. Walau mahal sekalipun. Nisa tersudut. Nisa tidak bisa keluar dari cerita lalu. Cerita yang ada di dalam mobil, ada di kepala Alit, Toni dan Ana. Tidak di kepala Saya. Saya hanya melihat. Muka Nisa merah. Urat leher Nisa ketarik. Suaranya parau terlalu banyak diumbar.
Di dalam mobil itu.
“ Kenapa sih harus diingat lagi ? “ Nisa teriak. Nisa duduk di samping Saya. Teriaknya terdengar jelas oleh telinga Saya. Apalagi degup jantungnya. Keringat di keningnya. Jadi saksi, kalau ingatan emosi itu, datang. Malam ini. Dalam mobil ini.
“ Tidak ada apa – apa “. Alit duduk di depan. Di samping Toni yang bertugas mengendarai mobil. Pandangan Alit lurus ke depan.
“ Masa sih ? “ Nisa terus mendesak. Badannya bahkan maju sedikit ke depan.
“ Sumpah..!! “ Alit bicara masih lurus pandang ke depan.
“ Tadi kita berdebat tentang system. Kenapa kamu jadi ngorek luka lama itu. kamu tahu, kalau semua sudah mati. Saya bahkan tidak bisa mengingat wajahnya. Jadi, berhenti bicara soal Dia..” Nisa bicara agak keras. Badannya mundur ke belakang, membiarkan punggungnya tertahan di kursi. Nafasnya berkejaran. Memang dasar alit. Tidak pernah berhenti sebelum ada yang teriak, atau nangis barangkali.
“ Saya juga di situ. Bertiga dengan kamu dan dia. Dia yang sekarang udah dikunci dalam lemari. Dia yang sekarang, bahkan kenangannya aja tidak ada. Sementara, dulu. Apa kamu pernah tahu. Kalau kita bertiga. Tapi, Saya tetap saja merasa sendiri. Kamu dan Dia sama – sama batuk. Tapi, Saya ? Tidak. Saya tidak batuk. Kamu tidak pernah lupa itu kan ? “ Alit bercerita panjang lebar, dengan badan yang agak dimiringkan. Dan kepala menengok ke belakang. Supaya Nisa bisa lihat mukanya. Saya dan Ana juga bisa lihat. Toni tidak perduli. Dia hanya asik membawa mobil ini.
Nisa tertawa. Nisa sempat mengingatkan Alit, tentang suatu peristiwa ketika dulu masih berdua dengan Dia. Bertiga dengan Alit. Mereka akhirnya tertawa bersama. Saya, Toni dan Ana juga tertawa. Mereka berdua mungkin mengerti, makanya tertawa. Kalau Saya ? tertawa karena melihat mereka lucu saat tertawa. Tiba – tiba, Toni buka suara. Simple tapi mengena.
“ Nisa, menurut Saya. Kalau kamu masih bisa bercerita tentang kisah Dia dengan tertawa seperti ini. itu artinya, kamu masih mengingat Dia. “ semua diam. Nisa apalagi.
“ Itulah Toni. Ketika Dia ulang tahun. Saya minta advice Alit. At least Saya mau kasih tahu Alit, kalau Saya mau ucapkan sesuatu. Tapi yang terjadi, Alit bicara panjang dan lebar tentang kisah masa lalu itu. Pahit terasa. Dan saya batalkan mengucapkan selamat. Dammnn…!!! “
Selesai bicara. Nisa tertawa ngakak. Diikuti oleh semua penghuni di dalam mobil.
Mobil melaju membawa luka yang dibawa dalam cerita. Cerita di dalam mobil. Masih sama. Tentang luka dalam persahabatan. Luka yang hanya Nisa yang tahu. Dan Tuhan pastinya. Semua hanya menerka. Tidak berhak untuk memaksa. Saya lega. Ketika semua teriakan di dalam mobil ini, berujung pada lepas tawa.
Woii. Udah sampai. Kenapa harus sakit, kalau bisa bernyanyi ??
Naik ke atas. Masuk ruang karaoke. Ketawa. Malam ini. sepertinya jadi malam tribute to Nisa. Tribute to rasa sakit. Tepuk tangan untuk rasa sakit, yang terasakan malam ini. sakit yang ternyata punya banyak fans. Membuat kita semua juga teriak. “ Rasa sakit ini juga punya Saya juga “ Mereka teriak sama – sama. Selamat datang rasa Sakit. Senang bertemu kamu lewat lagu. Lagu malam ini, semua tentang sakit. Mata kita, semua tertuju pada mata Nisa. Apalagi ketika Toni mulai bernyanyi. Saya bisa lihat Nisa langsung berdiri. Bergerak ke pojok. Telinga Nisa marah. Mulut Nisa lebih marah. Hati Nisa tidak marah. Marahnya sudah lewat. Sakitnya yang masih tersisa. But, Please.. bagi Nisa rasa sakit memiliki rasa sakit yang teramat sakit melebihi rasa sakit itu sendiri. Perihnya terkoyak. Perihnya seperti luka menganga disiram air garam di atasnya. Dan lalu, Nisa lari – lari sambil teriak. Kalau perlu sambil telanjang. Nisa bergidik. Mendengar Toni bernyanyi. Lagu kenangan. Masih tentang rasa sakit. Bukan persahabatan. Tapi sakitnya cinta. Ini lebih sakit. Lagu yang membuat memori tertendang jauh ke belakang. Saya melihat Nisa berkaca. Berkaca yang bukan mengenang karena rindu. Berkaca matanya. Tangannya mengepal. Berkaca yang karena benci. Amarah. Tapi Nisa tidak bisa marah sama Toni. Tidak bisa marah, karena suara Toni menyamai suara nya. Lengkung nada dan barisan irama lekat di dalam ingatan tentang sebuah perjalanan rasa yang dimulai lewat lagu. Nisa bercinta dengan rasa dalam lagu. Lagu yang keluar bersama rasa cinta yang menguat. Nisa teriak. Memandang lekat pada Toni, yang masih terus bernyanyi. Semua lagu Sakit ini. Hanya buat kamu, Nisa.
Bahkan Nisa, sempat merebut mike dari tangan Toni. Dan mulai bernyanyi. Sakitnya beneran datang. Mengepung seluruh ruangan. Sakit berdiri. Sakit duduk. Sakit jongkok. Sakit terbaring. Sakit telentang. Para Sakit itu. Ada di dalam ruang ini. Makanya kenapa, miris sekali irama malam ini. Saya melihat dan memandang sakit yang ramai malam ini. Saya melambaikan tangan. Mereka balas melambai. Sakit semua menunjuk pada Nisa. Saya menempelkan telunjuk pada bibir. Menyuruh mereka untuk diam saja. Jangan berbuat apapun. Tanpa berbuat saja. Nisa sudah merasakan rasa sakit yang luar biasa. Nisa menangis. Saya juga menangis. Kita memang seolah seperti mencandai rasa sakit. Padahal, kita semua, pernah merasakan perasaan seperti ini.
Saya rasakan ketika mike menjadi milik Saya. Satu lagu sakit lagi untuk Nisa. Untuk Saya juga, tepatnya. Rasa sakit yang bertebaran di dalam ruang ini, seolah – olah menyerbu Saya. kembali menghimpit badan Saya. dan menduduk kepala Saya. rasa sakit yang kembali berulang. Dari beberapa tahun yang lalu. Hadir malam ini. Tertular atau menular dari Nisa. Saya terus bernyanyi. Sampai para Sakit itu lepas, dan kembali ke tempatnya masing – masing.
Juaranya malam ini. Toni. Dia yang paling lama memegang mike. Suaranya yang paling emas. Nisa tidak berkedip melihat Toni. Berdendang semua lagu kenangannya bersama lelaki pemilik rasa sakit yang sekarang rasa itu di tendang semua buat Nisa. Toni bernyanyi sambil lekat menatap lekat. Suaranya sama. Kalau saja Nisa bisa.
Nisa hanya bisa teriak. Sesekali duet berdua dengan Toni. Dan kita semua mendengar mereka. Mendengar Toni. Ikut merasakan yang sakit. Menjadi Nisa dalam beberapa hal. Alit berulang kali tertawa melihat tingkah Nisa yang sedang terlempar jauh dalam lembaran kisah kenangannya itu. Alit tertawa bukan mengejek. Dia hanya mau bilang, kalau Nisa lah yang sudah mengorek sendiri luka itu. mengundang rasa sakit datang malam ini. Dan akhirnya tidak bisa lepas, karena rasa sakit sudah datang berduyun – duyun dan tidak mau pergi dari ruangan ini. lihat, rasa sakit itu bahkan sekarang berdiri di depan pintu.
Sudahlah, mari kita rasakan rasa sakit yang hadir malam ini, sebagai rasa sakit yang seperti bukan rasa sakit. Tapi seperti rasa sakit yang memang harus ada. Di tengah rasa yang lainnya. Rasa sakit yang kalau tidak ada. Maka tidak lengkaplah rasa bahagia itu.
Jadilah kita bernyanyi.
Tentang rasa sakit.
Kita bahagia. Kenapa harus sakit, kalau bisa bernyanyi ?
Karena rasa sakit juga yang mendewasakan. Nisa tidak peduli lagi, rasa sakit malam ini sudah melebur. Dia hanya mau mendengarkan Toni dan teman – temannya bernyanyi lagu rasa sakit versi mereka sendiri. Dia hanya mau bernyanyi senandung rasa sakit, dengan caranya sendiri. Bahkan kalau perlu, lagu tentang sakit, dinyanyikan dengan jingkrak – jingkrak. kalau bisa melompat – lompat sambil tangan kanan memegang pisau. Jadi kalau rasa sakit itu mendekat. Tinggal ditusuk aja. Lalu tertawa setelah itu.
Suara Toni memang bagus. Saya mendengarnya sambil terpejam. Rasa sakitnya malah semakin lebih terasa lagi. Mulai malam ini, kalau karaoke lagi bersama Nisa. Toni pasti bernyanyi lagu yang sama. Saya berulang kali bertepuk tangan. Sampai merah tangan Saya. Bukan tepuk tangan untuk rasa sakit yang jadi pemain utama malam ini. Bukan tepuk tangan untuk amarah yang mengikuti. Tapi, tepuk tangan untuk seorang dan beberapa orang teman yang malam ini, menemani Nisa. Menemani Alit. Menemani Toni. Menemani Ana. Menemani Saya. Menikmati rasa sakit. Lewat lagu. Kenapa harus merasa sakit, kalau bisa bernyanyi ??
Sudah malam. Sudah lewat tengah malam. Jatah bernyanyi sudah selesai. Kita semua cepat – cepat keluar dari ruangan. Keluar diam – diam. tanpa suara. You know what ?
Para sakit itu kecapean, mengikuti kita. Mereka tampak ketiduran di kursi. Ketiduran di lantai. Dan kita berhasil mengunci mereka di dalam. Mematikan lampu. Lantas, pulang. Adios. Kalian memang bisa datang, seolah mengejek Nisa. Mengejek Saya dan teman – teman Saya. Tapi kalian mungkin lupa. Rasa sakitnya memang ada. Tapi rasa sukanya lebih banyak dan lebih mendominasi waktu hidup. Tidak mungkin meratapi, dan ketinggalan kereta. Di dalam ruang itu mulut terkunci oleh lemparan waktu ke belakang. Di luar ruang itu mulut ini terbuka lebar dan tertawa menguap lepas keluar. Kesetanan menggelinding sampai ke jalanan. Hebat kan ? bahkan rasa sakit hanya ada beberapa saja tadi didalam ruangan. Tapi rasa bahagia dan tawa memenuhi sudut jalan. Dan Saya bahagia. Nisa bahagia. Alit, Toni dan Ana apalagi. Melihat orang – orang di situ berebutan mengambil tawa yang berserakan. Kami tidak ikut – ikutan.
Persediaan kami banyak.
Malam selesai. Rasa sakit masih terkunci di ruang karaoke. Gelitik tawa mengikuti sampai di depan rumah Saya. sampai membuka pagar rumah Saya. sampai di tangan mama Saya. menempel dalam tubuh Saya yang memeluki mereka satu demi Satu. Memeluk Nisa. Mencium pipinya. Memeluk Ana. Mencium pipinya juga. Memeluk Alit dan Anton. Mencium pipi mereka juga.
Dan, melambaikan tangan pada gelitik tawa yang ada di dalam mobil. Tidak turun. Tapi, janji. Pada pertemuan berikutnya. Tawa yang jadi juaranya. Rasa sakit, biar jadi cadangan saja. Kalau sudah capek tertawa. Kalau sudah capek bernyanyi.
Sampai naik ke atas tempat tidur. Saya masih tertawa. Aneh. Kenapa Saya terus tertawa. Ada yang mencolek Saya.
Ternyata Gelitik tawa mengikuti Saya. Berdua bersamanya. Saya tidur. Berpelukan. Mengingat Nisa. Merindui suara Toni.
Akh.. kenapa jadi rindu rasa sakit ?? rindu saat bernyanyi. Kenapa harus sakit, kalau bisa bernyanyi.
The end.
Jakarta, 17 juli ( 23.30 )
Note : hanya buat seseorang perempuan, seorang adik, seorang kawan, seorang sahabat, bahkan mungkin namanya sekarang, belahan jiwa mungkin. karena Saya berkaca pada kamu. Begitu pun sebaliknya.
Dan hanya buat seorang lelaki dengan suara emasnya. Mendengar suara kamu. Enaknya memang sambil terpejam. Merasuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar