Selasa, 27 Juli 2010

menahan rasa by : Haris


detuk jantung tak berirama
saat dia lewat dalam benak
semua tenang dan damai terasa
seakan ingin jatuh tergeletak

untaian kata terpendam
saat ada di dekatnya
walau berada di tempat kelam
rasa damai selalu terasa

ingin rasa menggapainya
tanpa daya tertahan rasa
rasa bersalah di masa silam
yang menghatui gelapnya malam

walau hanya memandang mu
itu sudah cukup bagiku
walau hanya lewat puisi ini
kuungkapkan semua rasa di hati

Minggu, 18 Juli 2010

KENAPA HARUS SAKIT, KALAU BISA BERNYANYI ? by :Mpok Mercy Sitanggang

“ Ini belum selesai. Tidak akan selesai mungkin.
“ Kenapa ? “
“ Masih ada yang tersisa “
“ Apa ?
“ Buat apa ? “
“ Apa ??? “
“ Maksa banget ..!!! “
“ Cus.. !!! “
“ Maaf..”
“ Maksud ?? “
“ Saya tunggu kata maaf itu. ASAP “
Nisa selesai dipaksa. Alit selesai memaksa Nisa. Sementara Saya, Toni dan Ana hanya jadi saksi pemaksaan luka tersebut. Mereka berdua tidak pernah selesai bercerita tentang cerita yang dikeluarkan dari gulungan berikat erat. Ikatannya bahkan sudah berkarat. Susah payah ikatannya dibuka lagi. Seperti luka yang sudah mengering. Dikorek terus yang sudah kering. Yang kering kembali menjadi luka. Luka itu yang rasanya sama seperti luka yang dulu. Luka yang sekarang bernama. SAKIT.
Huff.. Dada Nisa selalu sesak setiap kali teringat akan rasa sakit ( itu). Seolah – olah Dia berjalan mundur dengan cepat. Berjalan mundur bukan karena disuruh mundur. Tapi, didorong dari depan. Dipaksa untuk mundur. Nisa berjalan sambil teriak – teriak. Bahkan keringat jagung yang terlihat tidak mampu di tahan sapuan bedak. Walau mahal sekalipun. Nisa tersudut. Nisa tidak bisa keluar dari cerita lalu. Cerita yang ada di dalam mobil, ada di kepala Alit, Toni dan Ana. Tidak di kepala Saya. Saya hanya melihat. Muka Nisa merah. Urat leher Nisa ketarik. Suaranya parau terlalu banyak diumbar.
Di dalam mobil itu.

Senin, 12 Juli 2010

untuk itu sahabat ada by. Alin Shagala



Tepat jam tiga sore mereka berjanjian untuk bertemu dan sekedar ngopi bareng dan saling mengadu cerita-cerita lucu yang sudah mereka siapkan masing-masing. Ya…itulah yang menjadi kegemaran dua orang sahabat wanita itu, mereka sering menghabiskan waktu dengan ditemani suara tawa mereka yang agak berisik. Sore itu Rere lebih dulu datang dan lima belas menit kemudian Ica pun tiba. Dengan suara khas yang sedikit kasar dan tepukan pada bahunya membuatnya sedikit kesal sambil tersenyum menahan tawa. Ujarnya “kapan sih kasar lo bisa ilang Re?”
“ntar Ca kalo ‘kasar’ gue diculik baru ilang..”
“eh, kemaren kemana lo Re?Gue nunggu lo chating tapi kaga muncul-muncul, molor ya lo?
“ya eyalah Ca,ngapain lagi coba malem-malem..!”
“Re, kapan ya kita punya cantolan?!”
“nyante ajalah Ca, toh jodoh ga kan kabur..yah, kaya kita aja bisa sahabatan kaga nyangka kan?”
“nyangka aja ah Re..kita kan sama-sama preman jadi wajar aja kalo kita bisa nyambung dan endingnya jadi sahabat”
“hah,,,siapa bilang gue preman? Lo aja Ca ama keluarga lo, gue ga ikut-ikutan..!”
“eh jangan belokin diri lo Re…gw tau jelas gelagak preman lo..hahhaha”
“oia Re..by the way, gue ga pernah tau loh background lo yang sebenernya…certain donk!”
“tumben elu nanya-nanya gue Ca, ada apa neh?”
“iya, soalnya udah ga ada topic yg lucu lagi Re”
“hfh…kirain…!!”
“tapi emang bener ya Ca..kenapa ya dulu gue disebut preman? Hampir orang yang baru kenal gue, pasti pada takut ma gue..!”
“Rere…rere….mata lo aja udah preman…tau !!!”
“hahahhahaha,,,,,Ca gue dulu emang suka jailin orang abis-abisan, boongin guru, manjat sana sini, malakkin adik kelas, bringas banget lah pokonya..tapi kan itu dulu, jadi wajar kalo gue bukan disebut lagi preman!!”
“nah mending elu Re, gue sama sekali ga kaya lu, gue orang yang rajin dikelas, deket sama guru dan suka bantuin temen-temen gue, tapi kenapa gue disebut preman juga?!”
“udah lah Ca..lupain aja….ngapain coba kita bahas pandangan orang-orang yang sebenernya salah besar..”
“bener elu Re…tumben lo waras,,, !”
Sepanjang dua tahun persahabatan mereka banyak dihabiskan hanya untuk ngopi, ngobrol, tertawa dan hal-hal yang membuat mereka senang sementara.
Tapi dibalik itu semua, Rere sebenarnya tidak tau kalau latar belakang Ica broken home, ia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang masih mencari pengganti ayahnya. Orang tuanya bercerai setahun setelah mereka bersahabat, tapi tidak sedikitpun yang Rere ketahui tentang keluarga Ica. Seringkali Ica menangis karena sering bertemu ayahnya yang kerap kali menggandeng wanita yang lebih muda dari ibunya. Dirumah Ica hanyalah seorang pendiam yang hanya tersenyum ketika melihat ibunya lalu masuk kamar hanya untuk diam dan diam, dan berbeda ketika ia bertemu dengan Rere, semuanya ia sembunyikan dengan rapi. Entah merasa malu, minder, tidak percaya, terlalu berat untuk diceritakan…entahlah. Tapi itulah Ica yang sebenarnya.
Berbalik dengan keadaan Rere yang sebenarnya. Ica tidak pernah tahu kalau sebenarnya Rere mengidap sakit kanker. Rere sering tiba-tiba pamit lebih dulu pada Ica dengan alasan sakit perut, padahal Rere sudah tidak kuat menahan sakit ditubuhnya. Rere sering memaksakan pergi untuk nongkrong tapi sulit untuk dia membohongi tubuhnya yang sedang digrogoti penyakit. Setiap Rere sampai dirumah, ia langsung tiduran dipangkuan ibunya sambil menahan rasa sakitnya dan meneteskan air mata. Sempat Rere ingin bercerita pada Ica tentang keadaanya yang sebenanya tapi ia berharap bisa sembuh dan akan menceritakannya setelah ia sembuh nanti.
Tiga tahun persahabatan mereka tetap dalam keadaan yang sama. Hanya diiringi tawa diatas kesedihan mereka masing-masing. Dan sebulan kemudian ternyata Rere harus keluar negeri untuk bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif demi mencapai kesembuhannya, karena kanker Rere sudah stadium tiga. Rere berkata pada Ica ia harus pergi keluar negeri dengan alasan ayahnya pindah kerja, padahal ia akan berobat.
Sempat Ica merasa sedih karena Ica tidak sempat menceritakan keadaan keluarganya yang sebenarnya, sama dengan Rere yang sedih karena ia belum berani cerita tentang sakitnya.
Tiga bulan setelah kepergian Rere keluar negeri, Ica mendapat kabar dari sebuah telepon dari Ibu Rere yang mengabarkan bahwa Rere telah meninggal dunia…………………..
Persahabatan bukan bicara soal senang dan tawa saja. Tapi persahabatan yang sesungguhnya adalah ketika kita mau saling terbuka dan percaya. Jangan katakan ‘kita bersahabat’ jika kita tidak pernah tahu yang sebenarnya tentang sahabat yang sering ada disamping kita. Persahabatan menjadi sempurna ketika kita memiliki waktu untuk terbuka, percaya dan mendoakan.
Jika ada penyesalan, lupakanlah itu..karena penyesalan hanyalah menyesali masa lalu, ingat anda masih memilki masa depan dan harapan…kecuali jika anda ingin menyesal kembali. Rangkullah sahabat kita ketika ia sedih, dan topanglah ketika ia lemah bahkan terjatuh. Karena untuk itulah kata ‘sahabat’ ada.

tak terlintas by : Haris


ku jatuh dan terjatuh lagi
seakan lembah kelam menjadi sobat ku
menjauh dan terus berlari
isi hati ini mulai membatu

lembah kelam menemaniku lagi
memelukku sebegitu eratnya
hasrat terpendam untuk mendaki
melepaskan diri dari peluk-nya

detak jantungku mulai melemah
harapan dan mimpi indah memudar
tanpa harapan ku melangkah
tanpa harapan ku terkapar

terlihat jauh di atas sana
seseorang menanti-ku
namun jauh disana
lembah memisahkan-ku

tak ku kenal nama-Nya
Dia memanggil nama ku
kuabaikan diri-Nya
tanganya terulur untuk ku

Lembah kelam diabaikan-Nya
'tuk menggapai jemari-ku
tak terlintas ini smua
DIa peluk erat hidup-ku

Cinta-Nya lebih dari sebuah maha karya
jutaan warna tak melukiskan Cinta-Nya
jiwa ini terpana dan terpaku
http://www.puisicinta.tk/

Selasa, 06 Juli 2010

Ketidakmustahilan

Ketidakmustahilan
Tak hanya satu atau dua
Tak terhitung banyaknya…
Ya permintaan yang Ia genapi bagiku
Saat kujumpai Ia dalam kamar rahasia
Mulai kuungkapkan kata demi kata
Dari yang kuyakini pasti terjadi
Sampai kata-kata ragu yang terucap
Memenuhi bibir ini
Kelu dalam diam, ketika kudengar Ia berucap
Mengapa keraguan itu ada dalam mulutmu?
Mengapa kebimbangan itu menghiasi pertemuan kau dan Aku?
Bukankah ketidakmustahilan adalah kesukaanKu?
Tak cukupkah semua ?
Tuk buktikan bahwa Aku lebih dari mampu?
Airmata ini jatuh karena hati yang meragu
Kata-kataNya t’lah ingatkanku akan ketidakmustahilanNya
Kedepan ……
Kan kuhiasi perjumpaan aku dan Dia dengan ketidakmustahilan

Hanya lima menit

Canda tawa, tangis bahagia,kesedihan
Bahkan kemesraan dalam persahabatan kita
T’lah hiasi setiap sudut tempat ini
Tak pernah cukup waktu
Saat kebersamaan kita tlah dipertemukan ditempat ini
Namun, semuanya t’lah sirna
Hanya dengan lima menit
Ketika kau memilih kata pisah !!!
Karena sebuah kesalahan yang t’lah lalu
Tak pernah kusangka
Tak pernah terbersit olehku
Saat kata yang menyakitkan itu terucap dari bibirmu
Adakah persahabatan dapat berakhir?
Kurasa tidak
Tempat ini adalah saksi…………
Saksi perjumpaan pertama kita
Juga saksi perpisahan yang tak pernah kuingini
Tapi….
kuharap keadaan ini hanya sementara
Kan kutunggu kau kembali ditempat ini

Sabtu, 03 Juli 2010

embun pagi by : Alin Shagala



embun pagi ini sambut hariku,
hari dimana aku bisa melihat matahari.
Merasakan anugrah Tuhan yang ada dalam setiap hitungan detik.
Katakan kepada setiap alam untuk menyatakan keindahanNYA
Setiap cahaya diberikanNya untuk setiap langkahku..
Disuatu pagi aku tidak melihat embun itu lagi..
Apakah ada cerita tawa dan senyuman hari ini..
Siapa yang akan berada disisiku hari ini..
Aku sangat takut..
Aku tergesa-gesa dalam langkah egoisku..
Aku terjatuh…
Langkah menuju pintu pun terasa semakin jauh
Cahaya itu seperti hilang.
Tidak ada sedikit arah untuk melangkah, walau hanya selangkah pun..
Kasihku pudar dan hanyut dalam kegelisahan..
Pada hitungan detik mataku menjatuhkan air..
Langkahku seperti lumpuh…
Aku hanya terdiam dan tidak sanggup untuk berdiri tegak
Tuhan, Engkau tahu luka hatiku..
Tuhan, Engkau tahu betapa jauh langkahku dari sudut mataMU..
Terimakasih Kau balut luka hatiku..
KASIH….itulah yang selalu Kau tanamkan dilubuk hatiku
Kemenangan ..itulah yang menjadi ketetapanMU atas hidupku
Aku tahu…aku harus melangkahkan kakiku kembali pada cahayaMU
Esok aku akan melihatMU kembali..
Untuk ceritakan kemurnian kasihMU ..
Langit kembali Kau sediakan..
Matahari kembali berikan cahaya..
Embun kembali sambut pagi..
Tuhan terimakasih untuk pagi ini..
Aku tahu
bahwa hari ini,
esok
dan
detik-detik yang akan datang
Kau mengasihiku…