Rabu, 01 Maret 2017

Jakarta Undercover by Kristin Aritonang

               Film yang diangkat dari novel yang berjudul sama karya Moammar Emka baru release tanggal 23 Februari 2017. Sebuah karya yang menguak sisi lain Ibu kota. Buat saya sih film ini agak beda dari film yang lain. Dunia malam yang lekat dengan sex dan narkoba, pencarian jati diri, persahabatan, kejujuran sampai pengorbanan ditampilkan dengan apik. Film yang di sutradarai oleh Fajar Nugros ini cukup berhasil menampilkan kebebasan dunia malam di Jakarta.



                Adalah Pras (Oka Antara) seorang perantauan yang bekerja sebagai wartawan. Dikejar deadline sebuah berita tiap harinya oleh Bossnya (Lukman Sardi). Tinggal di lorong rusun yang kumuh, sempit, tanpa jarak. Pras yang hampir wara-wiri dari awal sampai akhir aktingnya tidak usah diragukan lagi. Berkolaborasi lucu dan gemesin saat bersama Awink (Ganindra Bimo) seorang pria feminim yang terpaksa meninggalkan mimpinya untuk sekedar bertahan hidup di Ibukota, memilih bekerja sebagai penari striptis disebuah klub malam. Kelamnya Jakarta membawa dunia baru bagi Pras. Bertemu seorang model namun terjebak dalam dunia prostitusi lagi-lagi untuk bertahan hidup. Dia adalah Laura (Tiara Eve), berjuang untuk dirinya dan keluarga setelah ayahnya di penjara karena korupsi, ibunya yang sakit-sakitan dan menanggung hidup adiknya.
Yoga, seorang bandar narkoba (Baim Wong) yang nyaris mati diselamatkan oleh Pras tanpa alasan dan tanpa imbalan. Membawa mereka dalam ‘persahabatan’ dengan pegkhianatan.

                Set yang dipilih cukup baik, merepresentasikan apa yang ingin script writer dan sutradara sampaikan. Karakter yang paling mencuri perhatian adalah Awink dan Yoga. Pria feminin yang seolah terjebak dalam tubuh pria macho terasa begitu real. Setiap gimmick, dialog, ekspresi yang ditampilkan sangat sesuai porsi dan terasa natural.
Bahkan scene kejujuran Awink pada Pras adalah bagian favorit. Tidak banyak kata-kata tapi kejujarannya sangat terasa.
“Ganteng….” (Pras menoleh).
“ Nama saya yang sebenarnya, Fajar.” (Awink)

Yoga yang meletup-letup, penuh emosi sangat tepancar dari wajah yang disuguhkan oleh Baim Wong. Sisi sedih dengan menangis (adegan di ruangan dengan berdua dengan Pras), terasa natural dan ‘dapet’ banget kesepian dan kesedihannya.
Tio Pakusadewo yang muncul diakhir cerita tanpa banyak dialog. Eksekusi perannya sebagai pejabat yang haus ‘wanita’ dengan ekspresi mendominasi terpancar banget. Kualitas aktingnya memang juara.

                Ada beberapa adegan yang menggantung. Apa yang terjadi antara Pras dan Yoga selanjutnya tidak diceritakan sehingga terasa tidak tuntas. Bagian akhir antara Pras dan Laura. Kesedihan Pras yang teralihkan ketika dia berkata kangen dengan berteriak. Ketika dikatakan sampai dua kali jadi berasa agak lucu. Rasa sedih yang kurang ter-deliver dari Laura. Entah karena ekspresi atau tangis yang dipaksakan.

                Tetapi secara keseluruhan, film Jakarta Undercover berhasil menggambarkan kehidupan kelam secara nyata. Satu karya lagi yang membuktikan film Indonesia semakin berkualitas. Bravo to all casts and team.
               
               



Tidak ada komentar:

Posting Komentar