Tuesday, July 6, 2010

Hanya lima menit

Canda tawa, tangis bahagia,kesedihan
Bahkan kemesraan dalam persahabatan kita
T’lah hiasi setiap sudut tempat ini
Tak pernah cukup waktu
Saat kebersamaan kita tlah dipertemukan ditempat ini
Namun, semuanya t’lah sirna
Hanya dengan lima menit
Ketika kau memilih kata pisah !!!
Karena sebuah kesalahan yang t’lah lalu
Tak pernah kusangka
Tak pernah terbersit olehku
Saat kata yang menyakitkan itu terucap dari bibirmu
Adakah persahabatan dapat berakhir?
Kurasa tidak
Tempat ini adalah saksi…………
Saksi perjumpaan pertama kita
Juga saksi perpisahan yang tak pernah kuingini
Tapi….
kuharap keadaan ini hanya sementara
Kan kutunggu kau kembali ditempat ini

Saturday, July 3, 2010

embun pagi by : Alin Shagala



embun pagi ini sambut hariku,
hari dimana aku bisa melihat matahari.
Merasakan anugrah Tuhan yang ada dalam setiap hitungan detik.
Katakan kepada setiap alam untuk menyatakan keindahanNYA
Setiap cahaya diberikanNya untuk setiap langkahku..
Disuatu pagi aku tidak melihat embun itu lagi..
Apakah ada cerita tawa dan senyuman hari ini..
Siapa yang akan berada disisiku hari ini..
Aku sangat takut..
Aku tergesa-gesa dalam langkah egoisku..
Aku terjatuh…
Langkah menuju pintu pun terasa semakin jauh
Cahaya itu seperti hilang.
Tidak ada sedikit arah untuk melangkah, walau hanya selangkah pun..
Kasihku pudar dan hanyut dalam kegelisahan..
Pada hitungan detik mataku menjatuhkan air..
Langkahku seperti lumpuh…
Aku hanya terdiam dan tidak sanggup untuk berdiri tegak
Tuhan, Engkau tahu luka hatiku..
Tuhan, Engkau tahu betapa jauh langkahku dari sudut mataMU..
Terimakasih Kau balut luka hatiku..
KASIH….itulah yang selalu Kau tanamkan dilubuk hatiku
Kemenangan ..itulah yang menjadi ketetapanMU atas hidupku
Aku tahu…aku harus melangkahkan kakiku kembali pada cahayaMU
Esok aku akan melihatMU kembali..
Untuk ceritakan kemurnian kasihMU ..
Langit kembali Kau sediakan..
Matahari kembali berikan cahaya..
Embun kembali sambut pagi..
Tuhan terimakasih untuk pagi ini..
Aku tahu
bahwa hari ini,
esok
dan
detik-detik yang akan datang
Kau mengasihiku…

Monday, June 28, 2010

T . E . M . A . N . by : Christ Poso Shakti

Apa kabar sobat?
Lama tidak berjumpa.
Akankah kau mendekapku balik,atau
mendorongku pergi?
Lama tak Bertemu bukan berarti saya lupa.
Dunia begitu fana
Sudah rindu petang bersamamu
Pikiran melayang akankahku didera
sejuta pertanyaan
Ceritakanlah padaku kisahmu setelah
engkau bernapas lega

Saat kau bahagia apakah ada yg menemani?
Waktu kau galau siapakah yg menghalau
rasa itu?

Saatnya kau berangkat.tlah ada yg
menjemputmu
Nantikan hadirku ditaman dibangku itu
disana itulah jumpa kita yg berikutnya.

kata2 ini mungkin tak terlihat berarti saat kau pertama melihatnya namun,kuyakini saat kita tlah lama tak bersua dan menjalani kehidupan masing masing,kau kan slalu mengingat hari hari dimana kita pernah tertawa bersama,
menangis bersama dan berjuang bersama.

saat senja nanti,ingatlah!di hatiku,pigura yg terindah pasti kan kusediakan bagi kisah tentang kita yg slalu menantikan senyummu!


temanmu yang bangga padamu

Indahnya Tak Seindah Dirimu by : Yohanes Wibowo



Suatu senja yang cerah di tepi gemercik sungai,
suara jangkerik dan kicauan burung bersahut-sahutan.
Deruh air yang menerpa bebatuan
seakan-akan berpadu dengan desis daun tertiup lembutnya angin gunung yang menari-nari
Setetes embun begitu lincahnya melompat dari dedaunan,
saling berkejar-kejaran dengan penuh canda tawa.
Seakan tak peduli dengan hiruk pikuk dunia,
mereka saling tertawa dan bersenda-gurau.
Melompat dari selembar daun dengan indah kedalam sungai,
melenggak-lenggok mengikuti tarian sungai,
sesekali melompat dan menghempas bebatuan yg berkilau.
Sekawanan air yg bergurau dengan penuh sukacita,
membuat kerumunan lumut hijau sirik dan hanya terpukau,
memandang dari jauh dan hanya berangan,
“Seandainya aku adalah mereka”.
Tapi kehidupan mereka bagai kincir angin yang tak berdaya,
meluncur dari bebatuan gunung ke samudera raya,
menguap dan terbang melayang ke angkasa,
bergumul dalam badai nan kelam,
jatuh terhempas terjerembab ke daun dan bebatuan.
Bersyukurlah kita bukan mereka,
yang bisa memilih kapan menangis dan tertawa.
Bersyukurlah kita bukan mereka,
yang meski tertawa tapi tak berdaya.
Karena kamu lebih berharga, jauh lebih berharga,
dari kawanan air, kerumunan daun, ataupun bebatuan ind