Thursday, March 25, 2010

Cara Tuhan Menghibur Kita


Pernahkah kita merasa sangat sedih sampai menangis pun rasanya tak sanggup?
Pernahkan kita merasa sangat marah, tapi tidak bisa melampiaskannya?
Pernahkan kita merasa sangat kesal, tapi tidak tahu penyebabnya apa?
Segala sesuatu tampak menjadi buruk, sepertinya tidak ada harapan, dan tidak ada jalan keluar. Kadang kita tidak butuh apa-apa, sedikit penghiburan saja sudah cukup setidaknya membuat mood kita kembali membaik dan membuat kita sedikit tersenyum.


Lalu secara tiba-tiba langit yang tadinya hujan menjadi cerah
tiba-tiba seseorang yang sudah lama tidak kita temui, menghubungi kita
tiba-tiba di meja terhidang makanan kesukaan kita, tanpa kita minta
Itulah cara Tuhan menghibur kita, cara yang sederhana tapi berhasil membuat kita tersenyum.
Berhasil membuat kita kembali memiliki kekuatan.


Beberapa waktu yang lalu, saya dibuat kesal sekesal-kesalnya oleh oma saya.
Oma saya ini umurnya sudah 75 tahun, agak bawel sedikit (maaf ya oma ^^v), model ibu-ibu jaman dulu yang cukup perfeksionis dan tidak suka melihat anak muda jaman sekarang yang serba praktis dan last minute. Pada intinya kami cukup sering beda pendapat dan beda sikap yang sering diakhiri kekesalan di hati saya. (jelas di hati karna saya tidak pernah cukup tega mengungkapkannya dan pada akhirnya memang selalu saya yang mengalah). Hari itu, entah apa yang memicu pertengkaran kami, mungkin ditambah mood saya yang sedang nggak bagus, intinya saya sangat kesal dengan oma dan saya memilih untuk pergi.


Di perjalanan ternyata saya se-angkot dengan guru saya sewaktu SMA. Ingatan saya memang sedikit buruk, awalnya saya nggak menyadari beliau adalah guru saya kalau saja bukan dia yang menyapa duluan. Akhirnya sepanjang perjalanan itu kami ngobrol banyak. Saya cukup merasa terharu karena ternyata beliau mengingat saya dengan sangat jelas, sekaligus merasa bersalah karena saya lupa siapa nama guru saya itu. Tiba-tiba perasaan saya menghangat. Senang rasanya diingat oleh guru yang punya banyak murid dan sangat mungkin lupa pada murid-muridnya, apalagi saya yang notabene tergolong biasa-biasa saja sewaktu SMA. Perasaan saya juga kembali menghangat ketika mendengar doa yang diucapkan spontan oleh guru saya itu, supaya saya cepat lulus, cepat mendapat pekerjaan, bahkan sampai didoakan supaya saya cepat menikah dan tidak lupa mengundang guru saya itu hehe..


Akhirnya saya memutuskan untuk ngopi-ngopi di starbucks (maklumlah kan tadi saya pergi memang tanpa tujuan). Segelas Greentea Frapucino biasanya selalu sukses bikin mood saya membaik. Saya memilih tempat di pojok, di sofa yang besar dan nyaman dan membuat saya betah berlama-lama di sana. Tepat di depan saya duduk, ada seorang laki-laki seumuran saya dan anak kecil perempuan yang saya duga adiknya. Mereka cukup menarik perhatian saya karena selain anak kecil itu yang cerewet banget, si kakak kelihatannya care banget sama adiknya itu. Nggak lama kemudian bergabung sepasang suami istri dan seorang wanita yang sudah agak tua, yang saya tebak pasti orang tua mereka dan neneknya.


Perasaan saya kembali menghangat. Bukan karena Greentea frapucino yang saya minum tapi karena melihat keluarga itu. Saya melihat si anak kecil bertingkah manja dan duduk di pangkuan ayahnya, sesekali juga saya melihat si ibu mengacak-acak kepala anak laki-lakinya, sesekali mereka juga tertawa karena candaan si nenek. Perasaan saya menghangat seolah tertulari kehangatan dari keluarga itu.


Entah karena saya yang keliatan banget sedang memperhatikan mereka atau karena mereka kasihan melihat saya autis sendiri, si Ibu tersenyum pada saya. Saya balas tersenyum yang disambut ajakan si nenek untuk gabung dengan mereka. Jelas saja saya menolak, tapi mungkin memang sudah kodratnya nenek-nenek itu tercipta menjadi bawel, nenek itu tetap saja mengajak saya ngobrol.


Perasaan saya semakin hangat, kekesalah saya tadi pagi sudah menguap tanpa sisa. Bahkan saya sudah lupa rasanya mood saya yang jelek tadi pagi. Bahkan lebih dari sekedar perasaan yang menghangat, saya tiba-tiba merasa senang. Sederhana memang, hanya karena saya bertemu dengan guru saya, hanya karena saya bertemu dengan keluarga yang begitu menyenangkan, hanya karena akhirnya saya punya teman ngopi bareng.


Saya pikir itulah cara Tuhan menghibur kita. Bukan dengan hal-hal yang besar, hal-hal yang harus terlihat ajaib, tapi dengan hal-hal yang sederhana Dia membuat hati kita menghangat. Kembali merasakan sukacita, kembali merasakan kasih yang pada akhirnya membuat kita bisa tersenyum kembali. Apa pun yang kita alami saat ini, mungkin jauh lebih berat dari sekedar seorang nenek yang selalu bawel setiap hari, tapi percayalah Tuhan selalu punya cara untuk menghibur kita.
Saya akhirnya pulang dengan perasaan hangat dan sukacita yang luar biasa. Saya kembali ke rumah, kembali mendengar oma bawel karena saya belum makan, tapi entah kenapa belum pernah saya merasa sebahagia itu dicerewetin sama oma, belum pernah saya merasa sebahagia itu karena masih memiliki oma yang begitu care sama cucunya.


Tha
200310...8 p.m.

mita octavacariani

No comments:

Post a Comment