Kamis, 24 Juni 2010

How about your friendship?



Tidak semua teman dapat dijadikan sahabat. Persahabatan itu harus dibangun. Tidak ada batasan waktu tertentu untuk menyatakan seorang teman telah menjadi seorang sahabat bagimu. Banyak definisi yang dihasilkan tentang sebuah persahabatan. Ada yang berkata sahabat adalah seseorang yang dapat berbagi suka juga berbagi duka, seseorang yang selalu ada setiap saat. Persahabatan adalah anugerah dari sebuah kepercayaan. Ada juga yang berkata, sahabat adalah seseorang yang mengenal semua kebaikan kita bahkan keburukan-keburukan kita.
Ehm, semuanya itu benar. Karena tak ada definisi yang pasti untuk menggambarkan arti dari sebuah persahabatan jika kita tidak mengalaminya sendiri. Aku punya banyak teman. Tidak sulit bagiku untuk mendapatkan seorang teman, sekalipun dalam sebuah komunitas yang baru. Easy going dan supel julukan yang kudapat dari teman-temanku. Namun tidak mudah bagiku untuk menjadikan mereka sahabat. Butuh proses, waktu dan kepercayaan yang lebih untuk menyebut mereka sahabat.
Proses yang dimulai dari sebuah keterbukaan. Kerelaan hati yang dating berjalannya dengan waktu untuk membuka siapa dirimu sebenar-benarnya. Dimana dari keterbukaan tersebut menumbuhkan kepercayaan tersendiri dalam dirimu terhadap sahabatmu. Menceritakan setiapa kebiasaan buruk darimu. Keterbukaan yang menjadikan dirimu terasa begitu transparan dihadapan sahabatmu. Kelebihan, kebaikan, keburukan bahkan kelemahan yang dimiliki.
Tidak lebih dari satu tahun ketika aku memutuskan bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menjadi sahabatku. Pada awalnya ada kecocokan dalam setipa pembicaraan, seringnya bertemu dan menghabiskan waktu bersama, timbil rasa nyaman satu sama lainnya. Selain keterbukaan yang kami alami, ada sebuah rasa aman, saling mengisi dan membangun serta energi yang positif dari kedekatan kami. Mengenal siapa dia tanpa terkecuali.
Berbagi suka dan duka, sharing mengenai masa depan, kesukaan kami masing-masing, membhasa topik-topik soal wanita, menghabiskan waktu-waktu bersama dan banyak hal lain. Memaklumi setiap keburukan yang sahabatku sering lakukan, dengan sindiran halus yang tak jua membawa perubahan pada sikapnya.
Hingga suatu hari, aku sadar telah menumpuk sebuah kekesalan padanya sampai akhirnya meledak dalam sebuah kemarahan. Merasa dirinya selalu benar, seperti mendengarkanku tetapi ia sedang berada didunia lain, tidak menyimak dengan baik ceritaku. Memilih untuk diam dengan suasana marah dalam hatiku, berharap ia akan sadar bahwa telah melakukan suatu kesalahan, tanpa harus aku menjelaskan semua padanya.
Untuk beberapa hari kedepan aku telah merubah sikapku menjadi sedikit dingin dengan alasan, tanpa menjelasakan dengan sepatah katapun apa yang sedang terjadi padaku, padanya dan pada persahabatan ini. Namun, kesadaran itu tak juga muncul dalam benaknya. Keadaan ini menyiksa hatiku sendiri. Terkadang aku berfikir, “ dia tidak berpersaan, masa tidak menyadari kesalahannya ? aku tidak mau menyapanya duluan”
Setelah beberapa waktu, karena tidak tahan dengan kondisi ini, akhirnya aku mengajaknya untuk berbicara empat mata. Dengan rasa kesal, marah dan menyesal menjadi satu, aku mengungkapkan semua rasa dihatiku. Beberapa menit kami beradu argumentasi, tetap denagan pendirian masing-masing, sampai akhirnya aku meminta maaf karena mungkin aku terlalu memaksa dia untuk berubah seketika, tanpa memberitahukan letak kesalahannya. Beberapa saat kemudian dia meminta maaf juga karena mungkin ia juga bersalah dalam hal ini. Tidak mau belajar peka dengan sesuatu yang tidak disukai sahabatnya.
Pertengkaran pertama telah meyakinkan kami bahwa kami adalah benar bersahabat. Kejadian ini telah membawa kami semakin dekat dari sebelumnya. Karena kami membuka hati untuk saling mengoreksi, membuka hati untuk sebuah teguran dari sebuah sikap buruk untuk menjadi sikap yang lebih baik lagi. Secara tidak sadar mungkin aku terlalu egois menganggap “sudah cukup” mengenal siapa sahabatku, tapi pada kenyataannya belum cukup tahu siapa yang jadi sahabatku. Perselisihan ini telah membuat kami mengenal lebih jauh dan semakin memahami.
Apakah ini pertengkaran pertama dan terakhir? Kurasa tidak. Ada perselisihan-perselisihan lain yang datang dalam persahabatan kami. Namun, tidak perlu beberapa hari, cukup beberapa menit saja untuk saling menegur sebuah kesalahan, menyatakan ketidaksukaanku terhadap perbuatannya memintanya untuk tidak mengulanginya dengan akhir saling menebar senyum dan memastikan diriku tetap ada bersamanya untuk mendukung dalam setiap perubahan yang kuminta dalam dirinya.
Yang lebih indah adalah perselisihan, perbedaan pendapat yang terjadi antara kami malah memperbesar rasa sayang diantara kami. Saat ini, tidak perlu merangkai kata-kata yang manis untuk menegur jika sahabatku melakukan kesalahan, atau mencoba menutupi kesalahan itu untuk menjaga perasaannya. Kurasa jika aku masih melakukannya, aku belum menjadi sahabat yang baik bagi sahabatku. Karena seorang sahabat yang baik tidak akan menutupi kesalahan sahabatnya tapi akan menegurnya sebagai tanda kasih.
How about your friendship?? Bagaimana dengan persahabatanmu? Apakah semuanya baik-baik saja? Tanpa pertengkaran, perbedaan pendapat ? Semua enak dilihat, manis didengar? Semuanya tidak buruk dan persahabatanpun tidak selalu harus ada perselisihan tapi ehm, amatilah apakah ada yang salah dengan persahabatanmu? Bukankah ada yang bilang “ besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya” saat saling menajamkan tidaklah mudah, perlu kerendahan hati dan mungkin saja ada rasa sakit yang tertoreh dalam hatimu. Tapi sadar atau tidak sadar semuanya sedang membawamu untuk menjadi seorang pribadi yang lebih baik bagi dirimu juga orang lain (Sahabat, Red). Bukankan akan terasa begitu indah jika dalam persahabatanmu ada begitu banyak warna yang tentunya akan memperkaya warna dihidupmu.
Bersyukurlah jika anda memiliki sahabat, jagai dia, sayangi dia dengan kasih yang tidak pura-pura. Bangunlah persahabatanmu dengan cinta

2 komentar:

  1. bagus :) kadang kita terlalu memaksakan kehendak kita pada sahabat kita :) aku ngga punya banyak sahabat :) but believes me, dia berarti lebih dari ratusan teman ;)

    BalasHapus
  2. Sahabat gua biasanya berasal dari teman yang sudah melewati beberapa pertengkaran/perselisihan along the way. Sometimes, they know me even better than I know myself. They put the trust and faith in me, dan teruji melalui rentang jarak dan waktu. :D

    BalasHapus