Senin, 28 Juni 2010

Indahnya Tak Seindah Dirimu by : Yohanes Wibowo



Suatu senja yang cerah di tepi gemercik sungai,
suara jangkerik dan kicauan burung bersahut-sahutan.
Deruh air yang menerpa bebatuan
seakan-akan berpadu dengan desis daun tertiup lembutnya angin gunung yang menari-nari
Setetes embun begitu lincahnya melompat dari dedaunan,
saling berkejar-kejaran dengan penuh canda tawa.
Seakan tak peduli dengan hiruk pikuk dunia,
mereka saling tertawa dan bersenda-gurau.
Melompat dari selembar daun dengan indah kedalam sungai,
melenggak-lenggok mengikuti tarian sungai,
sesekali melompat dan menghempas bebatuan yg berkilau.
Sekawanan air yg bergurau dengan penuh sukacita,
membuat kerumunan lumut hijau sirik dan hanya terpukau,
memandang dari jauh dan hanya berangan,
“Seandainya aku adalah mereka”.
Tapi kehidupan mereka bagai kincir angin yang tak berdaya,
meluncur dari bebatuan gunung ke samudera raya,
menguap dan terbang melayang ke angkasa,
bergumul dalam badai nan kelam,
jatuh terhempas terjerembab ke daun dan bebatuan.
Bersyukurlah kita bukan mereka,
yang bisa memilih kapan menangis dan tertawa.
Bersyukurlah kita bukan mereka,
yang meski tertawa tapi tak berdaya.
Karena kamu lebih berharga, jauh lebih berharga,
dari kawanan air, kerumunan daun, ataupun bebatuan ind

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar