Kamis, 12 Januari 2017

Review Film Selamat Pagi, Malam by Kristin Aritonang

        Film ini sebenarnya rilis 2 tahun lalu, juni 2014. Mungkin ‘agak’ telat bagi saya nonton dan mereview. Tapi, film ini cukup menarik jika di kupas dari berbagai sudut pandang. Kota dimana saya tinggal dari 5 tahun kebelakang sampai saat ini. Kota yang merepresantasikan life style kota Jakarta dengan berbagai ilusi, tujuan, keangkuhan, kemajuan, kesibukan, kecanggihan dan segala hal lain yang terduga maupun tidak. Well, inilah reviewnya


source google

Film Selamat Pagi, Malam atau dengan judul lain “In The Absence of the sun” sebuah karya dari Lucky Kuswandi sebagai penulis dan sutradara. Film ini menceritakan tentang realita kehidupan di Ibu kota Jakarta dengan segala hal yang complicatied didalamnya. Digambarkan dalam kehidupan 1 malam oleh 3 orang wanita. Gia, yang diperankan oleh Adinia Wirasti, seorang wanita yang udah lama banget tinggal di New York tapi akhirnya kembali ke Jakarta tanpa alasan dan tujuan yang pasti. Naomi, yang diperankan oleh Marissa Anita. Seorang Art student saat di New York, tapi meninggalkannya ketika dia kembali ke Jakarta. Dira Sugandi, yang mewarnai film ini dengan perannya sebagai Sofia, seorang penyanyi di klub yang menjadi paginya setiap malam. Dayu Wijayanto (nama yang masih asing bagi saya) berperan sebagai Cik Surya, seorang wanita paruh baya yang di tinggalkan dalam kemarahan perselingkuhan suaminya.

Menurut saya film ini cukup berani karena mengungkap beberapa hal yang mungkin tidak biasa untuk dibahas.  Dunia kelam yang terjadi di ibu kota, kehidupan malam yang ‘melekat’ dalam keseharian orang-orang yang mencari kehidupan dalam malam yang menjadi sebuah pagi bagi mereka.
Gia, yang adalah mantan pacar dari Naomi yang lebih dahulu kembali ke Jakarta dipertemukan dalam sebuah malam yang seolah tak berujung, membawa mereka kembali ke dalam kenangan masa-masa di New York, yang juga membahas tujuan Gia kembali ke Jakarta. Peran yang dilakoni oleh Adinia Wirasti ini, berhasil menyampaikan kebingungan yang terjadi pada dirinya. Tanpa tujuan, tidak siap terhadap perubahan yang dia sudah temui sejak kepulangannya ke Jakarta. Marissa Anita yang menjadi Naomi sebagai lawan main Gia, berhasil mengambarkan seorang wanita metropolitan yang menenggelamkan dirinya ke dalam hingar bingar kehidupan Jakarta. Hidup dengan 2 gadget, duduk bersama dalam meja makan tanpa bicara, peran lawan bicara terganti oleh smartphone. Kehidupan yang penting eksis, tanpa kejujuran kebahagian yang terpancar dalam sebuah jepretan kamera.

Cik Surya, dengan kemarahan yang memenuhi isi kepalanya malah jatuh kedalam tawaran dunia malam yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.

Singkatnya malam yang membawa kehidupan 3 wanita kepada kehidupan masa lalu, atau tujuan baru didepan. Lucky Kuswandi berhasil memberikan kebebasan bagi penonton untuk menutupnya dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi di Jakarta.

A city of confusion
A city of disconnection
A city of reconnection

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar