Senin, 02 Mei 2011

Selagi ada Kesempatan by : Kristin Aritonang

Bukan waktu yang sudah lama aku berada beberapa ratus km dari kediaman orang tuaku. Tepatnya di ibukota aku berada sekarang. Hidup sebagai anak kosan memiliki suka dan duka. Jika kamu bertanya “Mana yang lebih banyak kadarnya? Suka atau duka?. Mm dengan waktu yang sedang saya jalani sekarang masih terasa seimbang.

    Sesaat setelah saya lulus kuliah, saya ingin sekali bekerja diluar kota kelahiran saya. Dalam pikiran saya, jauh dari orang tua, keluarga, teman-teman, orang-orang sekitar akan menjadi hal yang benar-benar baru dan akan melatih kemandirian. Dan salah satu keinginan saya adalah hidup menyewa sebuah ruangan berpetak untuk menjadi tempat tinggal, atau lebih dikenal dengan kost.

    Tahun pertama semua hal tadi terealisasi kecuali ngekost. Namun, keinginan ini mulai timbul dan tenggelam. Akhirnya ditahun kedua keinginan itu terjadi. Tinggal disebuah ruangan berukuran 3X4. Semua aktivitas dilakukan diruangan yang sama. Mm, aku adalah anak wanita satu-satunya dikeluargaku. Jadi tak heran, begitu diprotect oleh orang tuaku. Bunyi telepon saat aku berada diluar rumah sudah tidak asing lagi terdengar hampir tiap jam. Untuk beberapa bulan pertama hidup dimasa kosan dering telepon masih sering terdengar. Jam pulang kantor, atau waktu libur dering telepon genggam tak henti-hentinya berbunyi.

    Memasuki bulan berikutnya suara deringan telepon mulai jarang terdengar. Hanya sesekali saja. “ Mungkin orang tuaku sudah mulai terbiasa dengan keadaan aku tak berada dekat disamping mereka” pikirku. Hidup sebagai anak yang mandiri adalah sebuah sukacita bagiku. Aku bebas mengekspresikan diri . Walaupun ada duka juga, makan sendiri memanage segala sesuatu sendiri. Semuanya memberi kenikmatan tersendiri bagiku.
Namun, berbeda keadaannya setelah beberapa lama. Kerinduan kepada keluarga begitu memenuhi seluruh isi hati. Padahal intensitas waktu kepulangan kedaerah asalku cukup sering yakni satu bulan satu kali. Tapi mulai ada rasa kehilangan. Suara dering telepon yang mulai aku rindukan, omelan mama jika aku pulang telat, ya semuanya mulai jadi kerinduan besar dalam hatiku.

    Terlebih ketika aku sakit. Manja mungkin itu julukan yang tepat buatku. Sampai berjam-jam berada dalam pelukan mama aku bisa tahan, tidak hanya saat sakit, saat sehatpun aku suka melakukannya. Saat mama makan, aku suka ikut nimbrung juga dan pada akhirnya disuapi.

    Kekangenan itu semakin memuncak saat aku tak bisa berada disamping mama saat dia terbaring sakit di RS. Rasanya sakit dan tak enak. Aku hanya bisa mengetahui kabar lewat telepon genggam. Saat-saat ini jadi mengingatkanku saat aku berada didekatnya mungkin tak banyak waktu yang kupunya untuk bersama-sama dengannya. Lebih banyak waktu yang kupunya bersama teman-temanku diluaran.

    Saat ini begitu terasa berharganya waktu yang aku punya ketika pulang ke rumah. Mm, berada dua atau tiga hari di kota kelahiranku kupilih untuk tetap bersama dengan keluargaku dirumah. Tidak ada yang lebih indah ketika bisa berkumpul dengan keluarga. Saat-saat seperti ini selalu aku nantikan ya tak pernah ingin semuanya berlalu.

    Selagi ada kesempatan, gunakan waktu sebaik mungkin, sebanyak mungkin bersama keluarga. Karena mungkin suatu saat kita tidak punya waktu yang cukup untuk  bersama-sama dengan mereka. Mm, apalagi saat kita sudah menikah kelak, punya kehidupan keluarga sendiri, waktu yang kita punya tak sebanyak sebelum berkeluarga. Nikmatilah kebersamaan bersama keluarga dan bahagiakan papa, mama,abang,kakak,adik. Ya selagi masih ada kesempatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar