Senin, 20 Juni 2011

Unconditional Love by : Kristin Aritonang


Masa-masa meregang nyawa
Menjadi jalan awal aku ke kedunia
Tak peduli seberapa besar resiko baginya
Tak peduli rasa sakit yang merasuk tulang
Menyusup ke setiap sumsum,
Serasa memutuskan setiap aliran darah
Tapi….
Ia tetap bertahan
Ia tetap berjuang demi aku
Ya, demi aku si buah cintanya
Saat tangis pertamaku merebak
Seketika itu pudarlah setiap sakit, setiap lelah perjuangannya
Hanya senyum bahagia, yang terpancar diwajahnya
“Terima kasih karena t’laj jadikanku wanita sempurna” ucapnya
Menjadi seorang mama bagi bayi kecilku.
Waktu berjalan, mengiringi pertumbuhanku
Didalam hari-hariku, tak pernah aku kekurangan cinta
Tak pernah aku kekurangan senyuman
Mama selalu ada untukku
Disaat aku sedih juga disaat bersuka
Dia tak pernah berlalu dariku
Namun,
Terkadang kepeduliannya membuatku marah
membuatku risih
Karena ia masih saja menggapku sebagai gadis kecilnya
Satu kali, dua kali bahkan berulang kali
Kulakukan sikap buruk padanya
Hingga suatu hari
Jauh dikegelapan malam
Dengan samar-samar, kudengar sebuah suara
Kuberjalan mencari dari manakah suara itu ?
Sampai kutemukan sesosok pribadi yang tersungkur
Kudengar suaranya, hanyut dalam isakkan tangis
Rasa penasaran membawaku menembus kegelapan
Kudengar dan terus kudengar sampai terasa jelas ditelingaku
Tak hanya suara yang semakin jelas
Tapi pribadi yang semakin jelas kupandang
“Mama !!! “
Dalam kaget, dalam naluriku
Apa dia menangis karena aku ?
Karena sikapku yang kian memburuk padanya ?
Terjatuh…
Ku hempaskan tubuh ini dalam pelukannya
“ maafkan aku, ma “
Kata-kata itu terucap begitu saja
Entah mengapa, aku tak mengerti
Kamipun hanyut dalam ruangan air mata
“ Mengapa kamu menangis, nak ? “ suara mama lembut
Nyanyian, tangis, tawa, hampa, marah, cinta…..
Semua hanyalah bagian dari hidup
Tak bisa dielakkan, tak bisa dihindari
Karena semuanya harus dijalani
Jika hatimu berkata menyanyi, ya menyanyilah
Jika hatimu berkata tertawa, ya tertawalah
Jika hatimu berkata menangis, ya menangislah
Karena mungkin, saat itulah saat yang tepat melakukannya
Sama seperti sekarang,
Disaat kau menyusup masuk didalam tangisku
Hatiku sedang berkata, menangislah
Maka aku menangis !!
Tetapi tak perlu sekelilingmu ikut bersedih
Nak, dengar Tuhan dan suara hatimu
Maka pengertian itu akan datang merasuk setiap relung hati
Masih dalam tangis
Tak kudengar sepatah kata marah dari mama
Padahal aku sudah menyakitinya,
Menolak setiap perhatian dan kebaikannya
Mungkin dia menangis setiap malamnya karena aku
Semakin tenggelam aku dalam penyesalan
“Maafkan aku mama”
Mama benar, aku memang gadis kecilmu
Yang masih belum mengerti tentang kehidupan
Yang hanya mengikuti ego sesaat
Terima kasih untuk malam ini
Terima kasih untuk setiap tetesan air matamu
Terima kasih untuk semua kebaikanmu
Terima kasih karena aku ini gadis kecilmu
Terima kasih karena dalam gelapnya malam
Mama menjadi matahariku
Dan akan selalu menjadi penerang bagiku
Terima kasih karena lembut tuturmu
Menjadi lagu cinta dalam hidupku
Mengajarkanku bagaimana menjadi seorang wanita
Tak pernah cukup kata tuk ungkapkan semua
Rasa cintaku, rasa bahagiaku, rasa syukurku
Karena memilikimu sebagai mamaku
Kasihmu, kasih tanpa syarat
Mama, aku mengasihimu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar