Senin, 20 Juni 2011

UNTITLED - PART I by : Elfriska Sihombing


Bandar Lampung, 06 Oktober 2010.

Di luar ribut.

Derap langkah kaki menyeruak heningnya siang ini. Terang di luar, tidak ada rintik-rintik air mata awan yang terlihat di udara. Yang ada hanya genangan-genangan air sisa gerimis tadi pagi. Bising suara orang yang lalu lalang tak bermakna, tak terjangkau di area Broca. Hanya frekuensi benang kusut yang terbaca, seandainya memang ada equalizer.

Seraya mengerjakan buah karya di kotak elektronik, tempat aku menumpahkan semua isi kepalaku, sesekali aku menengok ke luar kamar. Sama. Kupalingkan lagi bola kepala dan seluruh isinya kepada lembaran kerja liquid crystal display yang beberapa hari terakhir menyita perhatianku (menyita perhatianku…?)_ well, tidak semua. Masih ada ruang bagi Tuhan, orang-orang yang aku kasihi, dan dia. [sebentar…apakah ‘dia’ disini bukan orang yang aku kasihi?). Aku berpikir terlalu ngelantur.

Hari ini, gak mau tau, pokoknya aku harus bikin progress! Titik!” ujarku mantap dengan gaya proklamator kemerdekaan di depan kibaran bendera yang disorot dari angle bawah.

Sudah seminggu ke belakang aku merasa menjadi wanita yang menyawer-nyawerkan hidupnya di tengah hiruk-pikuk tugas yang seharusnya aku kerjakan. Khayalanku melambung, membayangkan mahkota yang mendarat di kepalaku sambil dikalungi penghargaan sebagai “Mahasiswi Tidak Produktif Minggu Ini” dari dosenku. Beep! Aku menghentikan imajinasi gilaku. Kebiasaan…ucapku dalam hati dan kembali meletakkan perhatianku pada karya ilmiah yang menjadi salah satu syarat bagi ‘rata-rata’ semua orang-orang yang memakan bangku perkuliahan (makan bangku? yuck..!) untuk memperoleh tanda koma di belakang nama yang telah orang tua mereka berikan.

Jarum jam dinding kamar di kamarku pun terus berputar, tanpa kusadari sesuatu yang mirip kembang api memecah keheningan di hatiku yang paling dalam, di area bawah sadarku, di dalam lambungku, dan si sela-sela sumsum tulangku (lagi-lagi lebay). Beep! Di luar begitu ribut, tapi di sudut-sudut hatiku begitu sepi. Seolah-olah ingin merebut perhatianku, "sesuatu" itu terus mengganggu.

C'on..Fokus…fokus, nez! It's been one year. Just get over it!

***

2 jam kemudian.

Akhirnya aku menghela napas panjang, seolah-olah baru saja keletihan berlari. Badanku kusandarkan pada kursi yang sedang aku duduki. Kakiku terjuntai lelah ke depan, kesemutan. Ternyata berpikir lebih menguras tenaga dibanding jogging. Phew… Kupejamkan mataku. Gelap. Kesadaranku yang dua jam lalu masih compos mentis mulai menurun dan hampir dibawa kabur alam mimpi, ketika ada suara di balik pintu.

“Nez… Nez… You’ve got a package! Gw taro di depan kamar ya. Berat nih.. Kayanya special tuh”

Celingak-celinguk. “Oh..eh.. iya, iya. Taro aja di situ. Thanks, Mer!” sahutku sedikit linglung dan bukannya bangun, tapi melanjutkan mimpi yang sempat ter-delay.

Bangun tidur.

Histeris. OMIGOD. Aku baru saja memimpikan Jono, pria chubby (tapi, ganteng!) yang pernah muncul di kehidupanku, dulu, waktu aku masih sma. Tiba-tiba saja aku merasakan geliat-geliat usus di rongga perutku, saraf-saraf parasimpatis sehati memberi efek hiperperistaltik, tanda stress melanda.

Zaman masih muda dulu, kayanya gimana gitu, kalo pelajar SMA ditaksir oleh mahasiswa. Seperti naik pamor!

Sudah 3 tahun berlalu, aku tidak pernah bertemu atau bahkan berhubungan dengan Jono via telepon atau email. Kabar terakhir yang aku dengar, Jono sudah bekerja di perusahaan asing yang bergerak di bidang jasa perbankan. Gud luck for him!

“Gosh! Ko bisa-bisanya ya aku mimpiin dia?”. Langsung kusambar gelas berisi air putih dingin yang terdampar di samping laptopku, seraya mengelus kening, aku tak habis pikir.

***

Tidur di kursi nampaknya bukan hal yang menarik lagi untuk dilakukan, mengingat sekarang tengkukku positif pegal-pegal, pantatku panas, dan pinggangku nyeri.

Aku tersenyum sendiri mengingat mimpi yang baru saja membawaku kembali pada cinta masa laluku, Jono. Di mimpi itu aku melihat Jono sedang berlari menuju suatu tempat berkabut untuk menjemput seorang wanita yang berambut pendek. Sial! Rambutnya memang pendek, tapi dia tidak memakai kacamata! Artinya, itu bukan aku. Meskipun wajah wanita itu tidak terlihat, aku tau itu bukan aku. Di bunga tidurku aku tidak memiliki peran, aku hanya penikmat, bak penonton yang sedang menyaksikan pertunjukan opera. Beep!

Jon, andai kamu tau.. kamu telah begitu menyita perhatianku. Dulu.
Khayalan masa lalu tentang Jono memang ‘ga ada matinya. Dia meninggalkan kenangan bak ‘kisah cinta’ ala sinetron remaja.

***
 
Saatnya W.A.R.A.S.

Aku melangkah mendekati pintu kamarku segera setelah ingat bahwa Meri mengatakan aku mendapat kiriman paket. Tiba-tiba saja, otak aku mikir, “Yang bener aja! Ga pernah sejarahnya aku dapet paket! Eh, pernah deng… paket dari majalah langgananku. Itu doang!”

LUCKY ME!

Benar kata Meri. Nampaknya paket kali ini berbeda dari paket-paket biasanya. Ukurannya lebih besar (sedikit) dan kertas pembungkusnya berwarna biru muda, corak boneka beruang! Sedikit geli sih… tapi OKlah. Dari penampakan luarnya, aku mengira-ngira, mungkin sekali pengirimnya seorang pria. 

Tiba-tiba saja perutku mules, ketika khayalan tingkat tinggiku mengatakan, jangan-jangan itu paket dari Upik! Cowo nyentrik dari universitas lain yang akhir-akhir ini mendekatiku. ‘Ga..’ ujarku menggunakan kuasa perkataan. Lebih tepatnya, ‘semoga bukan dia..’.

Aku meraih paket yang diletakan Meri tepat di samping pintu kamarku dan masuk ke kamar. Kubuka perlahan-lahan selotip yang membungkus kotak kiriman tersebut, tidak sabar untuk segera mengetahui siapa gerangan seseorang yang berbaik hati mengirimkan paket di masa liburan dimana aku tidak bisa pulang ke Bandung karena kewajiban seorang mahasiswa.

Setelah aku selesai membuka bungkusan luarnya, aku menemukan sepucuk kartu berwarna biru dengan gambar es krim.


……..Aku tahu ini siapa!!!

 


to be continue...

2 komentar:

  1. Itu jono yang ngirim...
    Hahahha...
    Ya kannn...
    Jono.. Oh jono...

    Tp mantapp...
    Greattt...

    BalasHapus
  2. bukan.. hahhaha.
    Kelanjutannya ada di untitled part II nya bang :)

    BalasHapus