Minggu, 13 Februari 2011

Lelaki Senja [2] by : Mita Vacariani

Batas kesabaran Metha sudah habis. Sudah 2 minggu Lukas hilang tanpa kabar. Besok rencananya Metha akan minta alamat Lukas ke TU. Mungkin dengan datang ke rumahnya, Metha bisa tahu apa yang terjadi. Padahal sebelumnya nggak ada masalah apa-apa sama Lukas. Bahkan hari terakhir mereka ketemu, Lukas ngajak Metha ke rooftop kampus untuk melihat senja. Metha akan selalu ingat hari itu.


“Neng Metha, ada tamu itu di depan,” kata Bik Ani mengejutkan Metha. Metha bangun dari duduknya dan berjalan malas melihat siapa yang datang. Sangat mengejutkan, ternyata yang datang adalah Lukas yang selama ini dia tunggu-tunggu.




“Lukas!” Metha tidak mampu menyembunyikan kekagetannya. “Kas, kamu tuh dari mana aja, kamu nggak tahu apa aku tuh bingung tiba-tiba kamu ngilang.”


“Maaf ya Meth, aku janji bakal ngejelasin semuanya kok, tapi kamu ikut aku dulu ya, aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat. Nanti di sana aku bakal jelasin semuanya.”


“Kamu tiba-tiba ngilang dan sekarang tiba-tiba juga muncul lagi terus mau ngajak aku pergi,gitu? Aku nggak ngerti deh sama jalan pikiran kamu.”


“Meth, please kamu ikut aku aja dulu.”


Metha akhirnya mengalah. Dia mengikuti Lukas yang ternyata mengajaknya ke rooftop kampusnya.


“Dua minggu ini aku memang sengaja pergi, untuk meyakinkan perasaan aku sendiri, untuk ngeberesin masalah aku, dan sekarang setelah aku yakin aku datang sama kamu buat ngejelasin semuanya.”


Metha hanya diam mendengarkan Lukas. Matanya melihat lurus ke depan,nggak berani melihat mata Lukas. Diam-diam Metha menebak-nebak maksud perkataan Lukas. Meyakinkan perasaan? apa ini maksudnya dia mau meyakinkan perasaannya sama aku.  

Dia kan tahu aku suka senja. Sekarang kan senja, apa dia mau nembak aku ya sekarang. Jadi selama dua minggu ini dia nyiapin cara yang paling romantis buat nembak aku. Apa aja Kas, aku pasti terima kok. Ayo cepetan ngomong, aku pasti jawab iya. 

“Dua minggu ini aku menyelesaikan masalah sama cewek aku, dan bentar lagi kami mau tunangan.”


Deg. Metha kaya tersambar petir mendengar perkataan Lukas barusan. Cewek aku? Tunangan? Maksudnya apa? Selama ini? 

“Maaf Meth, mungkin kedekatan kita selama ini sudah bikin kamu salah paham, tapi aku nggak pernah sekalipun mau maenin perasaan kamu. Aku cuma ngerasa nyaman sama kamu dan aku menganggap kamu sahabat, makanya aku datang buat ngejelasin semuanya.”


Sahabat atau ban serep? Pas dia ada masalah sama cewenya dia nyamperin  aku, sekarang dia udah baekan sama cewenya, bahkan mau tunangan dia ninggalin aku. 

“Meth, aku tahu aku salah, aku bener-bener nyesel dan minta maaf Meth, please aku mohon kamu mau ngerti.”


Metha hanya bisa diam. Hatinya sakit sekali. Benar yang selalu Kak Uthe bilang tiap kali dia cerita soal lelaki senja ‘berani jatuh cinta harus berani patah hati’. Ternyata patah hati rasanya sesakit ini. Metha nggak ingat lagi apa yang Lukas bilang, yang Metha ingat saat itu tangannya terasa sedikit panas karena menampar wajah orang yang selama ini dia suka.


***

Dua hari kemudian…
Sebuah Lukisan senja datang ke rumah Metha. Beserta lukisan itu terdapat sebuah surat singkat :
Maafin aku Meth…
Biar gimana pun, kamu pernah mengajariku untuk menyukai senja
Sampai kapan pun aku nggak akan lupain kamu.


Dua tahun kemudian…
Metha melangkah ringan di kampusnya. Hari itu dia mau bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya. Nggak kerasa sebentar lagi dia akan lulus.


“Metha!” sebuah suara yang tidak asing memanggilnya. Langkah Metha terhenti.


“Ka Uthe! Kakak ke mana aja? Ya ampun aku kangen banget sama kakak.”


“IyaMmeth, aku juga kangen sama kamu. Maaf ya waktu itu HP aku hilang, terus kan aku pindah rumah, sibuk skripsi juga, jadinya kita hilang kontak deh. Eh, gimana kabar kamu?”


“Aku baik kak. Sekarang lagi skripsi nih, mau cepet-cepet nyusul kakak jadi sarjana. Kakak sendiri apa kabar?”


“Aku sekarang lagi ngurus kepindahan aku ke Amerika. Mau lanjutin S2 di sana, sekalian nemenin cowokku, dia juga kan kuliah di sana sekarang. Eh, dia lagi ada di sini, aku mau kenalin sama kamu.”


Metha nggak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat cowok yang sudah sekian lama Metha coba lupakan kini muncul kembali di hadapannya. Tuhan lagi mainin aku ya? 

“Meth, kenalin ini cowok aku, Lukas, yang dulu aku sering ceritain ke kamu. Lukas, ini ade ku Metha.” Metha terdiam sesaat. Kemudian sambil tersenyum diulurkan tangannya, “Metha!”


Metha lalu melihat ke arah Uthe, “Ya udah deh Kak, selamet ya, akhirnya baekan juga. Aku pergi dulu ya ditunggu dosen nih, kakak kabarin aku ya jangan hilang kontak lagi.”


Metha melangkah ringan meninggalkan Uthe dan Lukas. Ditengoknya sebentar Lukas yang ternyata melihat ke arahnya juga. Metha memberikan senyuman manisnya. Lalu dikeluarkannya agendanya :
1.         Bisa kenal ama ‘lelaki senja’   Ö
2.         Punya kakak cewe (bisa nggak ya?) Ö
3.         Jadi anggota majalah kampus Ö
4.         Punya cowok seganteng, sebaik, sepintar lelaki senja hehe…X
5.         Semoga masalah Kak Uthe sama cowoknya bisa selesai Ö
Dari lima permohonan, satu yang nggak terkabul, not bad lah.

1 komentar:

  1. lanjutkan kak mitha nulis nyaa..semangat mit mit..

    BalasHapus