Sabtu, 19 Februari 2011

Love Letter by : Natalia Galing

Kebahagiaan didapat salah satunya dari
mensyukuri dan menghargai hidup
serta memberikan banyak cinta pada orang lain,
bukan hanya memintanya…”

PROLOG

Aku berlari. Terus berlari.
Tidak. Aku tidak boleh menyerah... masih ada yang harus kuselesaikan...
Janjiku padanya...
Tapi tangan dan kakiku tak mampu. Bahkan lidahku pun...
Masih adakah hari esok? Hari yang selalu kunantikan... bahwa takkan ada kesudahan untuk semua kebahagiaanku ini... Mimpi yang tak akan pernah usai. Bisakah?
Atau...
Mimpi yang sebentar lagi akan usai...?

 
Oh, Tuhan! Aku tidak mau kehilangan perasaan sukaku padanya. Aku tak mau. Berikanlah aku kesempatan lagi... walaupun - yahh - aku tau Kau sudah memberikanku banyak kesempatan dan kebahagiaan. Tapi setidaknya berikan aku kesempatan, bahkan hanya untuk mengatakan bahwa aku sangat mencintainya...

“Aku mencintaimu, Aya...”


 Satu

“Sudahlah... Hentikan menggodaku, Kakak...” seru seorang gadis berumur enam belas tahun tepat setengah tahun yang lalu. Aya Mizukawa, gadis manis yang ceria dan sehari-harinya selalu bersemangat. Seolah tak akan ada duka lara menghiasi wajahnya, seolah tak akan ada musim dingin dan gugur dalam dirinya.
Hari ini dia dan kakaknya, Ayumi Mizukawa, 20 tahun, baru belanja dari supermarket hari minggu siang di akhir musim panas. Aya menggotong sekantong camilan sedangkan kakaknya membawa sekantong buah-buahan.
“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu padanya, Aya?” tanya Ayumi di tengah jalan perumahan sambil menggoda-goda adiknya yang mukanya sudah merah seperti tomat. Ayumi nyengir. “Bukankah dia kakak kelasmu yang tampan itu? Anggota klub basket dan kau manager di klub itu juga kan? Siapa namanya? Aku lupa...” Ayumi terkekeh-kekeh.
“Yukijiro... Namanya Yukijiro Todayama, berapa kali harus kuulang? Dan hentikan menggodaku seperti itu.” Aya tak menyangka kalau curhatnya seminggu yang lalu mengenai pria yang sedang ia sukai bisa membuatnya rugi seperti ini, terus-terusan digoda. Niat Aya dengan menceritakan tentang orang yang ia sukai sih hanya untuk memberi rasa tenang sehingga tak perlu menyimpan rasa itu sendiri saja. Eh nyatanya, kakaknya justru membuatnya tambah cemas. Kalau ternyata Ayumi nekat pergi ke sekolah dan mencari tau orang yang bernama Yukijiro dan lantas memberitaunya kalau Aya suka... kan gawat. Memangnya Aya tidak punya urat malu lagi?
“Mengapa kau tidak membawanya ke rumah dan memperkenalkannya pada Ayah dan Ibu?” Mata Aya menari-nari dengan pandangan adiknya.
“Kakak ini apa-apaan sih? Kami tidak ada hubungan apa-apa...” Aya bisa merasakan pipinya yang memanas karna malu. Kakaknya gila juga sampai mengatakan hal seperti itu.
Ayumi mengikik. “Ayolah...” godanya sambil mendorong Aya ke tengah jalan.
Ayayang memang sudah lemas lantaran belum makan siang dan masih dalam suasana malu dan berangan-anganterdorong ke tengah jalan dengan begitu mudahnya padahal di belakanganya mobil akan melintas. Mobil itu langsung direm mendadak oleh si pengendara, hampir saja tubuh Aya tertabrak.
Aya mendongak kaget, syok sekali tentunya. Jantungnya serasa sudah berhenti, nyawanya ada di ujung tanduk seperti tadi.
Cepat-cepat Aya langsung ke pinggir jalan dan mengangguk-anggukkan kepalanya berulang-ulang pada pengemudi mobil sedan yang berumur setengah baya itu. “Maaf.. maafkan saya…”
Supir itu hanya menghela nafas dan langsung kembali menjalankan mobilnya.
Aya bisa melihat ada seorang wanita seumur ibunya yang sangat anggun dan cantik duduk di sebelah supir itu. Dan ketika mobil itu melaju pelan, Aya dapat melihat seorang cowok yang duduk sendiri di belakang. Ia dapat melihat langsung cowok itu dari kaca jendela yang setengah terbuka. Aya sempat terpana, bukan karna jatuh cinta pada pandangan pertama atau apa, melainkan melihat mata cowok itu yang sepertinya sarat dengan kesedihan dan penuh dengan keputusasaan. Benarkah? Atau dia malah sudah asal menuduh?
Cowok itu membalas tatapan Aya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa berhenti memandang mata Aya. Walau ini pertama kalinya. Ia terus menatap Aya bahkan hingga mobil itu melaju jauh dari tempat Aya berdiri. Namun laki-laki itu tidak bisa berpikir apa-apa, tidak bisa menangkap apa-apa.
“Wahh… tadi itu hampir saja.” gumam Ayumi mendekati Aya.
“Ini semua gara-gara Kakak! Aku hampir celaka! Aku akan melaporkannya pada Ayah dan Ibu.”
“Hei, aku kan tidak sengaja.”
Mereka berdua terus berjalan menuju rumah mereka sambil terus beradu mulut soal peristiwa menegangkan tadi. Aya masih tidak terima kakaknya bisa sebegitu teganya mendorongnya ke tengah jalan tanpa berpikir kalau bisa saja ada mobil atau bahkan truk yang lewat dan menggilasnya.
“Wah…sepertinya ada yang baru pindah ke sebelah rumah kita…” ucap Ayumi memotong omelan Aya yang panjang soal peristiwa tadi.
Aya juga melihat apa yang dilihat kakaknya. Dia ingat betul kalau mobil yang terparkir di rumah sebelahnya adalah mobil tadi yang hampir saja menabraknya. Setahunya, rumah sebelah sudah kosong sejak pemiliknya memutuskan untuk menjual rumah itu karena bangkrut.
Sementara Ayumi sudah masuk ke dalam rumah, Aya masih berdiri mematung menatap rumah sebelah rumahnya. Apa laki-laki seumurannya yang ia lihat tadi juga akan tinggal di rumah itu? Entahlah.
Sepertinya aku akan mendapat tetangga baru…
Tiin..Tiiinn!
Aya terkaget karena suara klakson sebuah truk yang berada di belakangnya. Truk besar itu sepertinya membawa banyak barang seperti kasur, sofa, kulkas ataupun mesin cuci.
Pasti truk pengangkut barang...


“Hei semuanya, aku pulang duluan yaa…” seru seorang cowok berbadan tinggi layaknya pemain basket, sore itu pada teman-temannya. Lapangan basket masih ramai dengan anak-anak klub basket yang masih ingin tetap bermain walau pelatih sudah menyatakan bahwa latihan berakhir.
“Yukijiro, kau buru-buru sekali…” celoteh Kaito pada sobatnya itu.
Aya, manager klub basket, yang walaupun sedang sibuk mencatat review latihan basket tadi tetap fokus pada pembicaraan dua cowok itu. Dari ujung matanya ia berusaha melihat apa yang dua orang itu bicarakan. Yukijiro itulah yang disukai Aya sejak lama… sejak ia menjadi manager klub basket. Aya begitu mengagumi sosok Yukijiro yang baginya merupakan orang yang baik, perhatian dan keren.
“Yeah.. sebentar lagi kan kita Ujian Negara, harus banyak belajar kan?” jawab Yukijiro dengan senyumnya yang mengembang. Dilapnya keringat yang masih menetes di kening. Pria ini termasuk laki-laki populer di sekolah, selain karna merupakan ketua tim basket, dia juga cukup menarik, apalagi senyum dan gaya bicaranya.
Kaito terkekeh lalu duduk di bangku panjang, menghampiri tasnya dan mengambil sebotol air mineral. “Ujian oh ujian… ga nyangka juga bentar lagi kita bakal ninggalin sekolah ini.
Yukijiro melirik Aya yang berdiri tak jauh dari dekatnya yang masih mencatat. Yukijiro tersenyum dikulum. Tiba-tiba cowok itu mendekati Aya dan menepuk pundaknya. “Aya, aku pulang duluan ya…”
Aya menoleh, terkesiap. Dadanya langsung bergetar saat matanya beradu dengan Yukijiro. “Ng… oh ya…”
Mati aku. Semoga dia tidak menyadari mukaku yang merah ini.
Yukijiro tersenyum hangat meneduhkan hati Aya. “Jangan lupa doakan aku selalu supaya aku lulus Ujian Negara yang tinggal sebulan lagi.”
“Ba-baik…” Aya mengangguk layaknya seorang bawahan pada atasannya.
Yukijiro tersenyum lagi sebelum dia pergi bersama dengan Kaito. “Dah...”
“Dah, Manager..” seru Kaito pamit pada Aya dan mengikuti Yukijiro.
Aya meremas buku catatan yang dari tadi dia pegang itu. Masih menatap kepergian Yukijiro. Tak ada hal yang paling ia sukai selain menjadi manager klub basket ini karena dia bisa semakin dekat dengan sang ketua basket alias Jukijiro Todayama.
Sampai saat ini hati Aya masih bergetar.
Dia jadi ingat kata-kata kakaknya…
“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu padanya, Aya? Bukankah dia kakak kelasmu yang tampan itu? Anggota basket dan kau manager di klub itu juga kan??”


Aya duduk di beranda rumahnya sore itu sambil menatap langit. Dia menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya. Dia sedang merenungkan nasib cintanya kelak. Tadi sempat memikirkan apa yang akan terjadi kalau Yukijiro sudah Ujian Negara. Apa ini artinya mereka takkan bertemu lagi? Tapi Aya juga tak mau ambil pusing… Dia lebih suka memikirkan apa yang terjadi hari ini dibandingkan mengkhawatirkan hari esok yang masih jauh itu.
Ujian Negara sebentar lagi… Apa yang harus kulakukan? Apa sebaiknya aku memberikan sesuatu pada Kak Yukijiro? Tapi apa? Hhh.. sangat membingungkan sekali…
“Miiooongg…”
Aya terkejut saat melihat ada seekor kucing manis berbulu putih bersih berada di beranda rumahnya. Sepertinya kucing betina, terlihat dari gayanya memamerkan kecantikan. Kucing itu menatap Aya dengan sayang, sepertinya minta dielus. Perlahan tapi pasti kucing itu mendekati kaki Aya.
Aya mengernyit. Kucing siapa ini? Dia mengangkat kucing itu dan balas menatap, “Oke, aku belum pernah melihatmu sebelumnya, siapa namamu?”
Kucing itu cuma mengeong pelan. Matanya seolah tersenyum.
Aya melongo. “Oh tidak-maksudku-siapa nama pemilikmu?”
Kucing itu mengeong lagi. Bulunya yang bersih dan lembut di tangan Aya menggoda untuk dielus-elus.
“Ah, bodohnya aku! Kucing mana bisa bicara.”
Kucing putih cantik itu mengeong lagi, seolah mengerti dengan apa yang digumamkan Aya.
Aya mengelus bulu kucing itu dengan sayang dan meletakkan kucing itu di atas perutnya, “Cantiknya… Pemilikmu pasti merawatmu dengan sangat baik ya..
“Aya!”
Kepala Aya langsung mendongak mendengar namanya dipanggil oleh seorang pria di depan pagar rumahnya. Mata Aya seketika langsung membesar. Dia ingat kalau cowok yang berdiri itu ialah cowok yang pernah ia lihat di dalam mobil yang hampir menabraknya beberapa hari yang lalu. Cowok yang wajahnya seperti blasteran Jepang-Eropa. Rambut agak kecoklatan, mata tajam tapi hangat. Garis-garis wajah yang sempurna. Aya sampai menganggap kalau cowok yang memakai T-shirt abu dengan tulisan I’m not alone itu bisa jadi artis terkenal dengan modal fisik begitu. Dan kalau waktu pertama kali bertemu, Aya sempat merasa kalau cowok itu mengalami kesedihan atau keputusasaan dilihat dari matanya, kini Aya merasa kalau laki-laki itu sekarang jauh berbeda. Terlihat fresh...
Aya melongo polos. Dia kan…yang waktu itu… Kenapa dia tau namaku?
“Aya…” desah cowok itu menambah keheranan Aya. Cowok itu maju beberapa langkah mendekati Aya.
Reflek, Aya menunjuk batang hidungnya sendiri dengan telunjuk kanannya, “Kau memanggilku?”
Cowok itu balik tertegun. Dia balik mengernyit. “Maaf… bukan… Aku memanggil kucingku. Namanya Aya…” Dia menatap kucing yang sedang digendong Aya lalu menatap Aya dengan gugup.
Mata Aya terbelalak. Kucing ini bernama Aya??
Cowok itu berjalan mendekati Aya alias kucingnya itu-tentu saja. “Oh, akhirnya kutemukan juga… Dari tadi siang dia kabur entah kemana. Ternyata di sini rupanya…” Cowok itu mengerling, menatap Aya alias cewek tetangganya itu. Melihat wajah Aya yang masih kelihatan syok karena namanya sama dengan nama kucing, laki-laki itu pun bertanya, “Ng… apa jangan-jangan namamu Aya juga?”
Aya mengangguk polos.
Cowok itu langsung terkekeh pelan. Tak dia sangka kalau nama kucing yang ia berikan 2 tahun silam sama dengan nama cewek yang di hadapannya ini. Cowok itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aya. “Kenalkan namaku Yuichi… Yuichi Aoyama. Aku tinggal di sebelah rumahmu.”
Aya membalas, menyalam tangan cowok itu sambil tersenyum. “Namaku Aya Mizukawa..”
Yuichi malah tertawa lagi. Geli.
Aya juga jadi ikut tersenyum (walau sebenarnya agak tak terima karna namanya dipakai juga menjadi nama kucing. Tapi untunglah kucingnya cantik.)
Yuichi berhenti tertawa dan mengamati Aya dengan seksama. “Ng… kalau kau tidak keberatan… Maukah kau ke rumahku? Mmm, maksudku… untuk mengambil beberapa oleh-oleh yang dibelikan orangtuaku khusus untuk tetangga baru...”
Aya terbengong.
Yuichi jadi salah tingkah. “Yeah, kalau kau keberatan sihh….”
“Oh,… tentu saja aku mau.”
Yuichi tersenyum dan menggendong kucingnya. “Kalau begitu, aku ambilkan ya…” Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah yang berada tepat di sebelah rumah Aya itu.
“Kau mau masuk atau mau menunggu di sini saja?” tanyanya saat sudah sampai depan pintu rumah.
“Ng, di sini saja.”
“Oke, kalau begitu tunggu sebentar.”
Yuichi masuk ke dalam rumahnya dan Aya duduk di tangga teras rumah Yuichi. Aya tak menyangka kalau cowok yang kemarin ia lihat dalam mobil yang hampir menabraknya ternyata cukup bersahabat juga.
Beberapa saat kemudian cowok itu keluar sambil membawa kotak yang sepertinya ada cake atau semacam blackforest di dalamnya. Aya, kucingnya sudah tidak berada di pangkuannya lagi.
Yuichi duduk di sebelah Aya. “Nah ini dia… untuk keluargamu…”
“Terima kasih. Mana Ibumu? Aku juga ingin mengucapkan terimakasih padanya.”
“Tidak ada.” Jawab Yuichi datar.
“Ayahmu?”
“Tidak ada juga.” Yuichi menatap ke depan menahan senyum. Dia yakin cewek di sebelahnya ini pasti berpikiran macam-macam.
Aya bengong, masih menunggu penjelasan cowok itu mengapa orangtuanya tidak ada di rumah. Dia melirik Yuichi.
Yuichi tersenyum. “Sebenarnya aku tinggal sendiri di rumah ini.”
“Apa? Yang benar?”
“Aku pindah dari Orleans, kota kecil dekat Paris...”
“Paris? Maksudmu Eropa?” ulang Aya saking tidak percayanya.
Cowok itu mengangguk menahan senyum melihat kepolosan tetangganya itu. “Ya…”
“Kenapa kau pindah? Dan kenapa kau tinggal sendiri?” Entah kenapa Aya jadi merasa sangat iba, dia berpikir kalau Yucihi mungkin saja diusir oleh keluarganya hingga merantau sampai ke Tachikawa. Tapi itu tidak mungkin… jelas-jelas aku melihat ayah dan ibunya di mobil waktu itu…
Yucihi memandang Aya yang sepertinya sedang berpikir keras itu. Dia berdehem. “Bagaimana ya… Aku ingin mencoba suasana baru saja sambil menikmati bagaimana rasanya hidup mandiri.”
Aya menatap Yuichi dengan tekagum-kagum. Dia kira semua anak jaman sekarang akan manja dan hidup bergantung dari orangtua, tapi ternyata justru ada yang ingin hidup mandiri, hidup sendiri. Wow keren. “Tapi kenapa harus ke sini, ke Tachikawa?”
Yuichi tersenyum lagi, “Aku pernah tinggal di kota ini waktu aku berumur enam hingga dua belas tahun, Aya.”
“Begitu… jadi kau lahir di… di mana tadi?”
“Orleans.” sahut Yuichi, “Orangtuaku asli penduduk Jepang tapi Kakekku adalah orang asing, orang Paris. Keluargaku tinggal di Orleans…”
“Jadi kau sebatang kara di sini?” tanya Aya dengan nada tinggi.
“Berlebihan. Aku tidak sebatang kara, aku sendiri yang meminta untuk tinggal di sini tanpa mereka.”
“Maaf… “ Aya jadi malu, kata-katanya memang berlebihan. “…maksudku... apa tidak ada saudaramu yang lain yang tinggal di Tachikawa?”
“Ada… Paman Bibiku… Mereka juga tinggal di Tachikawa.”
Aya mengangguk-angguk lalu terdiam. Orang ini kenapa sih… Ingin hidup sendiri jauh dari orangtua… Apa alasannya? Aneh.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Yuichi tiba-tiba. Matanya memandang Aya sungguh-sungguh.
“Hah, apa maksudmu?”
“Beberapa hari yang lalu mobil Ayahku hampir menabrakmu kan?”
“Oh itu… Tidak, tentu saja aku tidak apa-apa. Lagipula itu semua karena kesalahanku.” Dalam hati mencelos juga, semua itu kan salah kakaknya… mendorong tiba-tiba, menyuruhnya untuk menyatakan perasaan pada Yukijiro.
“Baguslah kalau begitu.”
“Baiklah sepertinya aku pulang saja…” Aya bangkit berdiri. “Ng, kalau kau butuh bantuan atau apa saja kau bisa minta pertolonganku. Kurasa kau pasti akan kesulitan, mengingat kau adalah pria yang tinggal sendiri di rumah ini.”
Yuichi terkekeh. “Baiklah, aku takkan sungkan.”
Aya tersenyum, “Makasih untuk oleh-olehnya. Dahh…”


“Pagi…” sapa Aya pagi itu pada sahabatnya, Miyu Unouki, saat memasuki kelasnya. Tidak ada orang yang paling dekat dengannya saat ini di kelas selain Miyu. Aya sudah menganggap Miyu sebagai saudaranya sendiri.
“Pagi…” balas Miyu. Wanita ini mungkin termasuk cewek yang tak tak pernah ketinggalan informasi terbaru.
“Apa kau sudah mengerjakan tugas dari Pak Yamagawa?”
“Ah, itu tidak penting untuk saat ini.” ucap Miyu sambil mengibaskan tangan.
“Apa maksudmu?” Sebenarnya Aya setengah tidak peduli dengan kata-kata temannya itu. Dia lantas ke bangkunya yang dekat jendela, sangat strategis hingga bisa melihat lapangan basket. Dari jendela lantai dua itulah dia sering mencuri-curi pandang menatap Yukijiro saat istirahat atau saat kelas cowok itu sedang olahraga.
Miyu mengikuti Aya dan duduk di hadapan sahabatnya itu. Ia bertopang dagu sambil menerawang. “Aku dengar-dengar, akan ada anak baru di kelas kita…”
“Apa? Kau pasti bercanda! Sebentar lagi kan ujian akhir semester. Orang gila macam apa yang berani senekat itu? Dia pasti gila.” Aya menggeleng-geleng, seolah serius sekali meresponi gosip tak masuk akal yang diberitahu sobatnya. Dia sih tak ambil pusing dan tidak akan terlalu peduli
“Nah, itulah sebabnya, aku juga heran…Katanya
Kata-kata Miyu terpotong karena Pak Yamagawa tiba-tiba masuk kelas berbarengan dengan bel masuk yang berbunyi. Beliau meletakkan buku-buku tebalnya di atas meja guru dengan tegas membuat suasana yang tadinya ramai langsung hening lengang. Pak Yamagawa memang terkenal dengan sifat in time-nya selain terkenal juga dengan gaya rambutnya yang lurus dan belah tengah itu.
“Slalu tepat waktu…” gerutu Miyu dan buru-buru kembali ke tempat duduknya. Dia tidak jadi melanjutkan perkataannya pada Aya. Padahal baginya itu adalah bagian yang terpenting.
Pak Yamagawa berdehem. “Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, Bapak akan memperkenalkan seorang murid baru di kelas ini.” ujar guru Matematika itu.
Anak-anak di kelas itu langsung heboh, memang berita itu mengejutkan sih… Seperti apa yang dikatakan Aya tadi, rasanya tak masuk akal kalau ada anak pindahan di tengah-tengah semester begini.
Miyu yang walaupun duduk agak jauh dari Aya, sempat-sempatnya menoleh sambil mengangkat alis. Aya bisa menebak apa yang berusaha diungkapkan sobatnya itu : “Benar kan apa kataku?”
Kemudian seorang cowok dengan seragam barunya masuk ke kelas itu. Dia berdiri di depan kelas, tepat di sebelah guru. Cowok yang wajahnya seperti blasteran Jepang-Eropa. Rambut agak kecoklatan, mata tajam tapi hangat. Garis-garis wajah yang sempurna. Dia tersenyum menyapa murid-murid di kelas itu.
Sesaat Aya biasa saja, namun ketika ia melihat secara jelas wajah cowok yang berdiri di depan kelas itu, mulutnya langsung menganga.
Yuichi Aoyama?!
Benar, tentu saja, dia tidak salah lihat. Cowok itu tengah memperkenalkan diri.
“Salam kenal, nama saya Yuichi Aoyama. Mohon bantuannya.”
Tentu saja, ya, beberapa cewek saling berbisik semangat. Bagaimana tidak? Yuichi kan cukup tampan di antara cowok yang lain. Yeah, gayanya lumayan…
“Pindahan mana?” tanya Yui Atsuno yang bagi Aya cukup berani juga untuk bertanya secara langsung.
“Pindahan dari Orleans, Prancis…” jawab Yuichi tersenyum tenang.
Aya sudah menduga jawaban Yuichi pasti membuat suasana makin heboh. Buktinya semakin banyak cewek yang berbisik dan bergumam entah apa dengan semangat. Mungkin mereka berpikir betapa beruntungnya mereka mendapat teman baru yang tampan dan berkelas pula.
Tak sengaja mata Yuichi melihat Aya. Dia juga tercengang. Tak ia sangka kalau akan sekelas dengan tetangganya, yang namanya sama dengan nama kucingnya. Aya hanya tersenyum simpul tanpa berkata apapun.
“Baiklah, silakan pilih bangku manapun yang kamu suka, Aoyama…” kata Pa Yamagawa. “Ada banyak bangku kosong di kelas ini…”
Yuichi tersenyum. “Berhubung saya sangat menyukai pemandangan, saya akan memilih untuk duduk dekat jendela, Pak…”
Aya tak percaya. Yuichi memilih untuk duduk di bangku belakangnya yang kosong!! Cowok itu berjalan mendekat dengan cengiran halus menghiasi wajahnya. Yuichi meletakkan tasnya di meja belakang Aya.
Apa dia sengaja?
“Hello, Aya…” gumam Yuichi saat sudah duduk di bangku barunya, tepat di belakang tetangganya.
Aya menoleh, “Aku tak menyangka kau akan pindah ke sekolah ini.”
“Ya, aku juga masih tak percaya sekelas dengan tetanggaku sendiri dan bahkan duduk di belakangnya.”
Aya tertawa pelan.


“Kuharap aku tidak merepotkanmu…” ucap Yuichi pada Aya di kamar mandi rumahnya.
Aya hanya tertawa lepas. Sore itu, Yuichi minta bantuan Aya untuk diajari bagaimana cara menggunakan mesin cuci. “Yuichi, Yuichi… Masa kau tidak tau cara menggunakan mesin cuci? Katanya mau mandiri?”
“Berhenti mengejekku.”  Sejujurnya Yuichi malu sekali. Kalau bisa dia memang takkan minta bantuan pada Aya, lebih baik minta bantuan pada yang lain saja. Tapi masalahnya dia belum kenal siapapun di kota ini.
Aya menjelaskan langkah-langkah untuk menyalakan mesin cuci sambil sesekali masih tertawa sendiri.
Setelah sepuluh menit, mereka berdua sudah berada di ruang keluarga rumah Yuichi sambil menyeduh teh. Bahkan saat minum teh, Aya masih tertawa.
“Berhentilah tertawa, Aya!”
“Kau ini konyol… Apa kau tidak pernah menyentuh mesin cuci di Olegi?”
“Orleans…” koreksi Yuichi. “Aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah sebelumnya. Itulah sebabnya mengapa ibuku sangat khawatir dengan keadaanku. Tiap satu jam dia slalu menelepon.”
“Dari Orlegins?” seru Aya tak percaya.
“Orleans, Aya.”
“Yah apapun...”
Cowok itu menghela nafas. “Dia slalu bertanya apa aku sudah makan atau apakah aku baik-baik saja.”
Aya mengekeh. “Jangan-jangan kau juga tidak tau bagaimana cara memasak nasi?”
Yuichi terdiam, tak menjawab, membuat Aya tercengang.
“Ja-jadi…” Aya menelan ludah dan mengernyit, “Kau tidak tau cara memasak nasi?”
Yuichi mengangguk malu membuat tawa Aya meledak keluar.
“Kau gila… ingin hidup sendiri tapi tidak tau cara memasak nasi?! Tadi siang kau makan apa?”
“Aku tidak makan apa-apa, hanya roti yang dari kantin sekolah yang kumakan.” Jawabnya berusaha tetap tenang walau muka sudah kemerahan karena menahan malu. Ekspresi Aya membuatnya makin merasa bodoh saja.
“Apa? Hanya roti?” Aya langsung bangkit berdiri, “Baiklah tunjukkan dapurmu, biar aku memasakkan makanan untukmu yang sudah kelaparan.”
Yuichi tersentak namun sesaat kemudian mengekeh. “Itu yang kutunggu…”
Mereka berdua pun masak di dapur, sebenarnya hanya Aya yang memasak, Yuichi hanya memperhatikan saja. Aya sedang menggoreng telur dan ikan asap yang ia temukan dari kulkas rumah itu.
“Kau tau, kau sudah punya banyak penggemar di sekolah.” ucap Aya sambil membalik-balik telur dadar di pinggan.
“Benarkah? Kau tau dari mana?”
“Kau lupa ya, aku ini wanita. Lagipula di kelas banyak wanita yang membicarakanmu…”
“Dasar penggosip.”
“Aku bukan penggosip, Yuichi Aoyama! Aku hanya tak sengaja mendengar pembicaraan yang tak menarik itu.”
“Pembicaraan tak menarik?” kekeh cowok itu bersandar pada tembok sambil memandang Aya.
“Iya... Mereka sangat terpesona dengan ketampananmu dan karena kau berdarah bangsawan, juga…Aoyama dari Prancis!” lengking Aya tertawa.
Yuichi juga terbahak, punggungnya yang bersandar ke tembok saja hampir tergelincir saking gelinya ia tertawa. Tak ia sangka kalau selain polos dan baik, cewek satu ini juga ekspresif sekali kalau bicara.
“Mereka-termasuk aku, sangat heran melihat ada seorang murid pindahan dari Prancis-yang begitu jauh dari Jepang-menjelang ujian akhir kelas dua!”
Yuichi mengangkat bahu. “Yah, mau bagaimana lagi? Aku terlanjur ingin suasana baru…”
“Aneh.” komentar Aya memandang Yuichi. “Apa kau tidak merasa berat meninggalkan keluargamu juga teman sekolahmu yang berada di Prancis?”
“Tidak… Ini memang sudah keputusanku.”
“Yah terserahlah…”


“Aya, kudengar tetangga kita itu sekelas denganmu ya?” tanya Ayumi saat sarapan pagi.
Aya berhenti makan lalu mengangguk.
“Dan kenapa dia memilih hidup sendiri, berpisah dari orangtuanya? Apa dia broken home?” tanya Ayumi masih heran.
Aya langsung menggeleng. “Tidak mungkin. Dia sendiri bilang kalau dia ingin mencari suasana baru dan hidup mandiri. Justru orangtuanya yang berada di… akh-pokoknya di Prancis-sangat mencemaskannya.”
“Prancis?” Ayah yang tadinya cuek langsung menyela.
Aya mengangguk mantap. “Tapi aku agak kasihan juga padanya…Masa masak nasi dan memakai mesin cuci saja tidak bisa?”
“Apa?” seru Ayumi. Entah mesti tertawa karena di jaman hi-tec gini masih ada juga yang tak tau cara memakai mesin cuci atau mesti iba pada Yuichi.
“Jadi dia makan apa?” Kali ini Ibu Aya yang bertanya. Beliau yang tadinya masih sibuk di dapur langsung muncul dengan terheran-heran.
“Berhubung dia adalah orang kaya maka dia slalu memesan makanan dari restoran.” jawab Aya sambil melahap nasi kimchinya.
“Kenapa seperti itu?” tukas Ibunya lebih pada diri sendiri. Beliau memang paling tidak suka apabila melihat anggota keluarganya terus-terusan makan makanan restoran dan cepat saji.
“Yah, biarkan sajalah, Bu, dia kan orang kaya…” gumam Aya cuek.
“Kau ini tidak berperasaan…” tukas Ayumi pada adiknya, “Pasti sangat tersiksa tiap hari makan makanan restoran.”
Ibu mengangguk. Ia langsung bergegas ke dapur mengambil tempat bekal dan mengisinya dengan makanan yang sama yang dia masukkan ke tempat bekal Aya. Setelah itu dia letakkan di depan Aya membuat anak itu heran karena bekalnya sudah diberikan tadi.
“Untuk apa itu, Bu?”
“Untuknya… Saat istirahat kau harus memberikannya.” Sahut Ibu serius.
Aya menghela nafas, “Baiklah…” Dia memasukkan dua bekal makan siang ke dalam tasnya, tapi karna tidak cukup akhirnya dia jinjing saja keduanya lalu berpamitan kepada keluarganya.
Baru saja dia keluar dari halaman rumahnya, Yuichi juga keluar dari gerbang.
“Oh, pagi…” sapa Aya saat mereka bertemu mata.
“Pagi…”
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju sekolah.
“Kau tau, tadi aku mendapat SMS misterius-entah dari siapa…” gumam Yuichi tiba-tiba.
“Hah?”
“Isi SMS itu sih hanya mengucapkan selamat pagi dan supaya bersemangat di hari ini. Menurutmu bagaimana?”
Aya malah mengikik, “Sudah kukatakan padamu kan? Itu pasti dari penggemar barumu!”
“Jadi apa yang harus kulakukan?” tanya Yuichi polos.
“Ya, kau balas saja Terimakasih banyak, aku juga mencintaimu...” Aya langsung tertawa terbahak-bahak. Dia tak bisa membayangkan wajah wanita yang menerima SMS itu, pasti langsung pingsan.
“Dasar! Tapi aku heran kenapa kau membawa dua bekal sekaligus? Apa satu saja tidak cukup?”
Wajah Aya langsung merah. “Te-tentu saja tidak seperti itu. Tadi Ibu menyuruhku untuk memberikan bekal ini padamu…”
“Oh ya?”
Aya langsung menyerahkan kotak bekal yang sama dengan punyanya pada Yuichi. “Terimalah…”
Muka Yuichi langsung berseri-seri menatap kotak bekal itu. “Wow, bekal makan siang buatan sendiri... Sudah lama aku tidak seperti ini sejak aku tinggal di Orleans.” Bukan berarti ibunya tak memperhatikan makan siangnya, hanya saja di sekolahnya di Orleans sama sekali tidak ada murid yang membawa bekal, paling hanya anak kecil saja.
Aya tersenyum juga. Dia polos sekali sampai mukanya keliatan senang seperti itu…
Je vous remercie…” kata Yuichi tulus.
“Maaf?”
“Terima kasih dalam bahasa Prancis.” jawab Yuichi tersenyum.
“Yea... sama-sama bahasa Prancisnya apa?”
Yuichi nyengir. “De rien.”
“Yaa… de rien…”


“Aya, kau masuk klub mana?” tanya Yuichi siang itu setelah makan siang di jam istirahat. Dia sedang duduk di jendela di sebelah bangku Aya. Sepertinya duduk di jendela sebelah bangku Aya akan menjadi kebiasaan Yuichi untuk seterusnya.
“Aku masuk klub basket. Yuichi, kau mau jeruk?”
“Ya, boleh... Kau bisa main basket memangnya?” Yuichi mengernyit, memandang Aya yang bahkan sepertinya tidak atletis (mungkin karna terlihat dari tinggi badan Aya juga).
“Kau menghinaku?” tukas Aya, “Aku adalah manager klub itu tauk!” Aya mengupas kulit jeruk dan dia berikan kepada Yuichi.
“Oh, manager…” Yuichi melahap jeruk. Kukira dia benar-benar pemain inti.
“Kenapa? Apa kau juga mau masuk ke klub itu?” Kali ini Aya yang secara implisit menghina. Walau memang Yuichi badannya tinggi tapi Aya sebagai manager klub tau betul kalau Yuichi tidak akan selincah pemain basket di klubnya.
Yuichi angkat bahu dengan ogah-ogahan. “Ah tidak…aku tidak seminat itu. Malas ah…” Yuichi langsung mencomot jeruk lain yang sudah dikupas Aya. Yuichi mengerling ke lapangan basket dan melihat orang-orang yang sedang bermain basket di lapangan. “Eh lihat, ada beberapa orang  main basket di lapangan! Apa mereka itu anggota basket?”
Aya langsung bangkit berdiri dan langsung melihat ke bawah dari jendela, ke arah lapangan basket yang ditunjuk oleh Yuichi. Jangan-jangan ada Kak Yukijiro… Tapi ternyata hanya ada beberapa anak kelas satu yang sedang bermain basket. Dan mereka bukan anak klub basket.
Yuichi menatap wajah Aya dengan heran dan penuh minat. Rasanya aneh saja kalau Aya yang tadinya masih duduk tenang langsung tiba-tiba melihat ke lapangan saat Yuichi bilang ia melihat orang yang main basket. Dia jadi curiga sepertinya ada sesuatu atau mungkin seorang anak basket yang dikagumi gadis itu? “Kenapa ekspresimu seperti itu? Langsung tiba-tiba seperti tadi?”
Aya tak menjawab. Dia kembali duduk, berusaha bersikap normal dan tak ada apa-apa.
Yuichi mengangkat sebelah alisnya, “Ah! Aku tau! Kau pasti sedang memikirkan seseorang kan? Mm, pasti seorang pria di dalam klubmu sendiri, ya kan?”
Wajah Aya seketika itu juga langsung memerah. Ia berusaha mengabaikan cengiran Yuichi yang makin lebar. Kenapa ia bisa tau?
Yuichi terkekeh, “Aku sudah lama tinggal di Prancis. Kau tau, Prancis akan mengajarimu banyak hal soal cinta.”
Aya tertawa hambar, “Kota yang menarik, apa yang kau pelajari di sana soal cinta, Aoyama?” Tidak pernah terbayang di benak Aya kalau laki-laki itu akan lihai dalam perkara cinta.
Yuichi mendekatkan wajahnya ke Aya dan berbisik. “Kami kaum lelaki tau kapan seorang wanita sedang jatuh cinta, ekspresi mereka saat sedih, saat merindukan seseorang, kami tau...”
Aya meringis melihat cengiran Yuichi. “Masa?” Aya memutar kedua bola matanya. Memangnya lelaki Prancis cenayang apa.
Yuichi mengangguk semangat, “Tapi sayangnya wanita di sana tidak peka dengan perasaan pria. Tapi kurasa wanita di Jepang tidak seperti itu.” Yuichi menahan senyum, memainkan jarinya di atas meja Aya.
“Dari mana kau bisa beranggapan seperti itu?”
Yuichi terkekeh lagi, “Yeah, aku bisa melihat buktinya langsung dari ibuku…” Bagi Yuichi ibunya memang sangat peka dengan perasaan orang lain. Yuichi berdehem dan berkata lagi, “Jadi siapa dia?”
“Dia siapa maksudmu?” Aya mengernyit.
“Pria itu tentu saja…”
Wajah Aya langsung seperti kepiting rebus. Dia memang baru mengenal Yuichi, tapi sepertinya cowok ini bukan seorang penyebar gosip atau rahasia orang. Jadi mungkin tak ada salahnya juga kalau cerita sedikit mengenai pria yang ia sukai. “Dia anggota klub basket juga tapi dia kakak kelasku.”
Yuichi tersenyum penuh arti, “Kalian pacaran?”
“Oh tidak, itu tidak mungkin… aku tidak mungkin seberani itu untuk menyatakan perasaanku...”
“Siapa namanya?” tanya Yuichi menatap mata Aya lekat-lekat.
“Yukijiro…”
Yuichi tersentak. Ia mengernyit. Yukijiro? Dia kan…
“Ah, bodohnya aku!! Untuk apa aku memberitaukanmu hal konyol ini?” Aya memegang pipinya yang panas. Kenapa dia bisa sebodoh ini ya, langsung memberitaukan pada Yuichi mengenai orang yang ia sukai… Bagaimana kalau Yuichi tidak bisa menjaga rahasia? “Tolong kau lupakan apa yang barusan aku katakan…”
Yuichi memonyongkan bibirnya dan mengangkat bahu. Kalau Aya memang menginginkan begitu ya sudah… dia tak kan bilang apa-apa lagi. “Tidak masalah…Tapi ada satu syarat.”
“Syarat?”
“Kau harus mau mengajariku semua pelajaran di sini.”
Aya masih terbengong tak percaya, Yuichi setega itu memanfaatkannya.
Yuichi cepat-cepat menambahkan, “Kau tau kan aku pindahan dari Orleans? Di sana aku belajar menggunakan bahasa Prancis, pelajarannya pun tentu saja sangat berbeda. Jadi… aku tidak ingin tidak lulus saat ujian nanti…”
“Oh baiklah…” jawab Aya pada akhirnya setelah sekian lama terdiam.


Nice shoot, Yukijiro!” seru pelatih Eguchi saat sore seperti biasa latihan basket.
Yukijiro tersenyum lebar. Dia baru saja memasukkan bola ke dalam ring dengan sempurna membuat Aya terkagum-kagum. Yukijiro memang paling terkenal dalam tembakannya yang 95 % pasti masuk itu. Makanya tak heran juga Yukijiro sampai terkenal ke klub basket sekolah lain sebagai lawan yang tangguh.
Aya tak bisa menyembunyikan senyumnya. Keren sekali!!
Yukijiro menepi ke sisi lapangan sambil menyeka keringatnya dan meneguk air mineral. Dia lelah sekali dua jam latihan basket. Walaupun lelah dia tidak ingin semua ini berakhir… Sebentar lagi dia akan ujian Negara, tak ada waktu lagi untuk bermain basket. Yukijiro menatap lapangan sambil menerawang. Sampai saat ini dia juga masih bingung dengan universitas mana yang ia pilih. Yang jelas dari lubuk hatinya yang terdalam ia tidak mau meninggalkan teman-teman satu klubnya.
Aya mendekati cowok yang ia sukai itu. “Kakak hebat seperti biasa...”
Yukijiro menoleh dan tersenyum manis, “Yea…” Yukijiro menarik lengan Aya, menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
Belum Yukijiro mengatakan sesuatu, beberapa adik kelas datang menghampiri mereka berdua.
“Kami dengar, ini adalah hari terakhir Kakak latihan ya? Apa benar?”
Yang lain juga berkata, “Apa karena minggu depan ada Ujian Negara?”
Aya juga sebenarnya sedih apabila mengingat ini adalah hari terakhir dia bisa melihat Yukijiro latihan basket. Sedihlah… dia sama sekali belum menyatakan perasaannya pada pria itu. Aya hanya menunduk sambil menggigit bibir.
Yukijiro tersenyum simpul. “Benar… Tapi tenang saja kita kan masih bisa saling bertemu di kota ini.”
“Kakak mau kuliah di mana?” tanya yang lain.
“Entahlah… Kakak juga belum memikirkannya. Sudahlah kalian latihan lagi sana…”
Mereka pun pergi kembali ke lapangan, latihan lagi.
Aya diam mematung. Iya juga ya, untuk apa aku harus sedih. Aku kan masih bisa bertemu dengannya. Ya, walaupun tidak bisa sesering dulu…
Yukijiro memandang Aya yang bengong itu. “Aya…”
Aya tersentak, “Mmh, ya?”
“Kau melamun.”
“Ah, tidak, Kak…” Bagaimana ini, mukanya memerah lagi.
“Tidak terasa... Waktu bergulir dengan cepat ya... dan ini adalah hari terakhirku latihan basket... dan mungkin juga terakhir kalinya menjadi ketua tim.”
Aya mengangguk. “Banyak yang sudah terjadi ya, Kak...”
“Yeah... Ingat tidak saat klub kita mengadakan piknik bersama ke gunung? Ah sungguh tak terlupakan... walau memang terjadi sedikit kecelakaan saat itu...” Yukijiro tersenyum sambil memandang langit sore. “Kaito yang menyetir kepalanya benjol dan kita semua malah bingung mesti melakukan apa.”
“Dan yang kulakukan malah menangis...” Aya tertunduk malu pada dirinya sendiri.
Yukijiro menoleh dan menepuk sekali kepala gadis itu. “Walaupun yang kau lakukan hanya menangis, tapi itu memberi spirit tersendiri untuk kami... entah untuk yang lainnya, tapi bagiku Aya merupakan manager sekaligus malaikat penjaga untuk klub basket...”
Aya menatap Yukijiro tak percaya. Ia merasa selain pipinya yang sudah merah membara, jantungnya juga berdegup tak karuan. Dia... Bagi dia... aku ini malaikat penjaga?
Yukijiro mengulum senyum sambil memandang langit kembali. “Kau ini pas menjadi manager klub... Entahlah kalau orang lain yang menjadi manager...” Yukijiro terkekeh, “Kami pasti tidak akan semangat latihan.”
Aya tersenyum. “Kak Yuki juga kok... Sebagai ketua, Kakak berhasil membuat suasana selalu menyenangkan namun tetap berprestasi.” Aya membalas tatapan Yukijiro, “Semangat dan senyum Kakak itu menjadi poin plus sendiri klub basket ini.”
Yukijiro tercengang. Kalimat Aya yang tulus sudah menyentuh hati kecilnya.
Aya yang masih tersenyum tiba-tiba salah tingkah sendiri karna Yukijiro masih memandangnya pennuh arti.
“Yeah...” Akhirnya Yukijiro berkomentar juga sambil tersenyum manis. “Hari ini apa kau ada acara?”
“Ng?”
 “Aku mau mengajakmu makan. Yah, anggap saja sebagai salam perpisahan…”
Bibir Aya bergetar mendengar kata-kata Yukijiro itu. Ini pertama kalinya!! Selama ini dia memang akrab dengan Yukijiro, tapi kalau sampai diajak makan berdua rasanya belum pernah, lebih sering makan bersama dengan teman seklub yang lain.
Namun sebelum Aya sempat menjawab, Kaito datang tiba-tiba dan berkata, “Apa? Kau mau mengajak makan?” Sebelum Yukijiro sempat meralat, Kaito langsung berkata, “Teman-teman, Yukijiro mau mengajak kita makan sebagai tanda perpisahan katanya!”
Anak-anak klub tentu saja langsung heboh dan senang bukan main. Mereka berlarian mendekati Yukijiro, kegirangan, kebetulan perut mereka memang sudah kelaparan.
Yukijiro garuk-garuk kepala saja. Niatnya sih, dia cuma mau ngajak Aya, tapi gara-gara Kaito…
“Apa iya, Todayama?” tanya yang lain memastikan.
Yukijiro jadi kebingungan, akhirnya dia pun berkata, “Yahh… kalau kalian tidak ada acara…”
“Tentu saja kami mau!!!” potong mereka semua dengan sangat semangat.
“Asyik!!”
Yukijiro ikut tersenyum juga. Ya mau gimana lagi? Yukijiro tak enak juga kalau tidak mengajak yang lainnya yang  terlanjur tau dari Kaito yang salah paham.
Aya masih menatap Yukijiro yang sedang mengobrol dengan yang lain. Tadi dia merasa Yukijiro mengajaknya untuk makan bersama… Entah kenapa, Aya merasa sebenarnya hanya dialah yang diajak. Yeah, makan berdua mungkin… Mata Aya mengerjap, mungkin dia saja yang sudah berpikiran macam-macam.

***
Aya berjalan menuju rumahnya dengan langkah lesu. Dia lelah sekali. Dari tadi tertawa terus, mengobrol dan karoke dengan yang lain. Baginya hari ini tidak akan terlupakan. Masa ia sebagai manager disuruh menyanyikan lagu pembuka Sailor Moon ?! Otomatis semuanya kacau balau. Yang lain tertawa sampai menahan pipis karna kocaknya Aya yang bernyanyi polos itu. Yukijiro juga sempat disuruh bernyanyi salah satu lagu Orange Range . Mana Yukijiro juga sempat mengajak Aya untuk turut bernyanyi bersama.
Aya tersenyum dan menghela nafas. Ia melirik jam tangannya. Jam setengah delapan?! Tak terasa juga…
Saat lewat rumah Yuichi, Aya melihat rumah itu gelap gulita. Kemana dia? Kenapa gelap?
Dan barulah ia tau jawabannya saat masuk ke dalam rumahnya sendiri. Ternyata di situ sudah ada Yuichi sedang mengobrol dengan Ayumi sambil menonton tv.
Mulut Aya menganga. Kenapa dia ada di sini? Tak ia sangka juga Yuichi sudah bisa seakrab ini dengan Ayumi.
“Oh, hai, Aya…” sapa Yuichi ramah saat matanya tak sengaja melihat ke pintu masuk.
“Tadi kami mengajaknya untuk makan malam bersama…” jelas Ayumi seolah menjawab pertanyaan di benak Aya.
Mulut Aya masih menganga.
“Kau dari mana saja? Sudah makan?” Ayah muncul sambil membawa segelas kopi.
“Tadi ada makan-makan dari klub. Aku sudah makan kok....”
“Ya sudah, kalau begitu cepat mandi dan ganti bajumu…”
Aya malu berat mendengar kata-kata ayahnya padahal kan ada Yuichi di situ!! Yuichi hanya tersenyum penuh arti masih memperhatikan Aya yang langsung terbirit pergi.


“Aya, pulang sekolah ini kau bisa mengajariku kan?” tanya Yuichi saat istirahat siang.
Aya terbengong, masih belum paham. “Mengajari apa?”
 Yuichi berdecak tak sabaran. Telunjuknya ia sentuhkan ke kening Aya. “Kau jangan lupa kesepakatan kita kalau kau mau membantuku dalam pelajaran. Kau mau mengajariku kan?”
Akhirnya Aya ingat juga, “Oh, yahhh… Di mana?”
“Di kelas ini saja… nanti sepulang sekolah ya..
Aya mengangguk.
Yuichi pun pergi ke tempat Kimimaru dan kawan-kawan untuk menghabiskan waktu istirahat bersama. Sepertinya Yuichi sudah ada beberapa teman lelaki yang klop. Walaupun anak baru tapi sudah cukup disukai di kelas dan sudah mempunyai banyak teman.
Aya masih memandangi cowok itu sampai Miyu mengagetkannya. “Hayoo!! Ketahuan!! Jangan-jangan kau mulai menyukai Aoyama!”
Aya mendelik pada sobatnya itu. “Kau gila?”
“Kalian dekat sekali sampai sepulang sekolah akan belajar bersama…”
“Ah, biasa saja. Kau hanya salah paham…” gumam Aya cuek. “Dia saja yang terlalu bodoh... makanya aku mau berbaik hati bersedia mengajarinya. Kau tau kan sebelum ke sini dia sekolah di Prancis? Pastinya pelajaran sana akan sedikit berbeda dengan di Jepang... Jadi aku hanya sedikit membantunya saja.”
Miyu memonyongkan bibirnya, sedikit iri. Kalau Yuichi yang memintanya, Miyu akan dengan senang hati bersedia memberikan waktu ekstra. “Habis… kalian begitu mencurigakan. Ada hubungan apa sih?”
“Tidak ada apa-apa..” Aya bangkit berdiri dari bangkunya dan bersandar pada jendela sambil menatap lapangan basket. Ternyata di sana ada Yukijiro yang sedang asyik bersenda gurau dengan teman-temannya. Aya tak menyadari kalau dirinya tengah tersenyum menatap pria itu. Dia teringat dengan ajakan Yukijiro beberapa hari yang lalu untuk makan bersama. Sampai sekarang Aya masih merasa kalau Yukijiro hanya ingin mengajaknya saja.
“Aya…”
“Mmh, ya?”
“Kau melamun.”
“Ah, tidak, Kak…”
“Hari ini apa kau ada acara?”
“Ng?”
 “Aku mau mengajakmu makan. Yah, anggap saja sebagai salam perpisahan…”
Miyu langsung terkekeh saat tau siapa yang sedang dipandang sobatnya itu, “Slalu saja… kau memperhatikan ketua klubmu itu diam-diam...”
Aya tersenyum. Dia memang sudah sering menceritakan perasaannya kepada Miyu.
“Sebentar lagi kan Ujian Negara, dan setelah itu pasti perpisahan… Apa kau tidak mau menyatakan perasaanmu sebelum dia keluar dari sekolah ini?”
“Itu tidak perlu…”
“Lho, kenapa? Kau pengecut sekali…”
“Bukan begitu… aku kan masih bisa bertemu dengannya…”
“Darimana kau tau?”
Aya hanya tersenyum. Dia sih percaya dengan kata-kata Kak Yukijiro.
“Kami dengar, ini adalah hari terakhir Kakak latihan ya? Apa benar?”
 “Benar… Tapi tenang saja kita kan masih bisa saling bertemu di kota ini.”
***
Pulang itu, Aya dan Yuichi masih tinggal di kelas. Aya menepati janjinya. Dia bersedia mengajari pindahan dari Orleans itu beberapa mata pelajaran. Di kelas hanya ada mereka. Aya dan Yuichi duduk berhadap-hadapan dengan buku Matematika di atas meja.
“Aku heran sekali…” gumam Yuichi yang kedengarannya seperti mengeluh. Ia memainkan pensilnya di atas meja.
“Apa?”
“Kau tau… tadi saat istirahat aku diberi tau oleh Kimimaru dan Heiji kalau mereka pernah menangkap basah seorang gadis di kelas ini tengah memotretku saat pelajaran…”
“Hah? Yang benar?” Aya langsung mengikik. Dia tau kalau Yuichi mendadak langsung menjadi cowok populer di kelas karna ketampanannya, tapi ia tak menyangka kalau sampai ada juga yang memotret Yuichi diam-diam saat pelajaran. Apa jangan-jangan foto Yuichi itu ditempel di tembok kamar??
“Aku heran kenapa ada yang berbuat seperti itu…” Yuichi membalik-balik buku Matematikanya dengan malas.
“Ya karena dia menyukaimu…” jawab Aya singkat. “Kau harusnya bangga karna kau yang baru sekolah beberapa minggu di sini sudah bisa menangkap banyak hati gadis-gadis.” Aya tertawa pelan.
“Tapi sampai memotretku? Aneh sekali… Apa bagusnya sih, memotret orang?” tukas Yuichi.
“Yahh, mungkin sebagai kenang-kenangan…” Aya mengangkat bahu, merasa aneh juga dengan pernyataan Yuichi barusan. Memotret orang kan bukan sesuatu yang sangat tidak menarik, apalagi kasusnya kalau memotret orang yang disukai.
“Aku tidak menyukai seni fotografi… Tapi ya, mungkin ada beberapa pengecualian…”
“Pengecualian? Apa?”
“Entahlah…” Yuichi tersenyum sendiri.
Aya berdehem, “Ya sudahlah… Ayo kita mulai!”
Aya pun mengajari Yuichi mengenai Matematika selama satu semester ini. Dan Aya begitu heran karna Yuichi tidak terlalu banyak bertanya seolah dia sudah paham atau mungkin cepat paham. Tapi Aya tidak mau ambil pusing, bukannya dengan begini tugasnya untuk mengajar Yuichi akan menjadi ringan?
“Yuichi, kau tidak merindukan orangtuamu yang berada di Orleans?” tanya Aya saat mereka memutuskan untuk mengakhiri belajar hari itu.
“Kau ini bodoh ya? Tentu saja aku sangat merindukan mereka.” jawab Yuichi sambil berjalan duluan.
Cepat-cepat Aya membereskan buku-bukunya dan menyusul Yuichi. “Kalau begitu kenapa kau bersikeras ingin tinggal sendiri dan bahkan berbeda benua dengan mereka? Jepang dan Prancis kan jauh sekali.
Yuichi memiringkan wajahnya sambil menatap Aya, “Sudah berapa kali aku bilang? Aku ingin suasana yang baru.”
“Tapi kan tidak harus di kota ini…” Aya masih bersikeras dengan pendapatnya. “Kalau ingin suasana baru kau bisa saja kan tinggal di kota lain namun masih di Prancis...”
Yuichi berhenti berjalan dan langsung berdiri di depan Aya. Ia sedikit merendahkan badannya sampai matanya dan mata Aya sejajar. Yuichi mengetuk-ngetuk kening Aya dengan telunjuknya. “Aku sangat menyukai kota ini. Dulu kan aku pernah tinggal di sini…”
Aya memonyongkan bibirnya menandakan bahwa ia belum puas sama sekali. “Aku jadi berpikir jangan-jangan kau sedang menghindari sesuatu di Orleans kan?”
Yuichi terdiam namun kemudian dia menepuk kepala Aya dengan pelan. “Itu bukan urusanmu…”
Aya tersenyum kecut sambil merapikan rambutnya yang agak berantakkan. Sudah kuduga dia pasti menghindari sesuatu sampai pindah ke sini… Tapi apa? Hutang? Tidak mungkin!! Wanita? Yah, itu bisa saja…
“Sudahlah… Aku lapar sekali…” gerutu Yuichi kembali berjalan. “Aku makan di rumahmu ya…”
Aya tersenyum kecil, ga tega juga sih… kan kasihan melihat seseorang tinggal sendiri tanpa bisa memasak-nasi sekalipun!-lagipula orangtuanya sama sekali tidak keberatan, mereka juga kasihan pada Yuichi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar