Minggu, 13 Februari 2011

Lelaki Senja [1] - by : Mita Vacariani

Metha’s wish list
1. Bisa kenal sama ‘lelaki senja’   Ö
2. Punya kakak cewek (bisa nggak ya?)
3. Jadi anggota majalah kampus
4. Punya cowok seganteng, sebaik, sepintar lelaki senja hehe…


Metha menutup agendanya sambil tersenyum. Dia baru saja memberi tanda checklist di wish list-nya yang pertama. Nggak nyangka dalam waktu singkat satu permohonannya bisa terkabul. Bukan hal mustahil kan kalau permohonan berikutnya bisa terkabul juga. Apalagi sekarang Metha janjian sama cowok yang dia sebut-sebut lelaki senja.




Cowok yang Metha sebut-sebut lelaki senja itu namanya Lukas. Dia itu seniornya Metha di kampus. Pertama kali melihat dia, Metha langsung jatuh cinta. Entah apa yang bikin Metha suka sama cowok itu, mungkin karena dia ganteng, baik, ato charmingnya senior, pokoknya yang jelas Metha suka. Itu saja. Titik. Soal kenapa dia dipanggil lelaki senja pun, ada cerita sendiri buat Metha.


Metha memang sangat menyukai senja. Setiap orang pasti punya kesukaannya masing-masing, ada yang suka sama bunga, langit, malahan Cia, sahabat Metha yang agak gokil itu sangat suka sama yang namanya hujan. Menurut Metha sih aneh banget, hujan kan bisa membuat semua kegiatan terhambat, malah bisa bikin banjir, jadi jelas aneh banget kalau Cia bisa segitu sukanya sama hujan. Tapi jawaban Cia atas kesukaannya pada hujan membuat Metha bungkam dan mengerti. Chemistry, as simple as that. Mungkin chemistry juga yang hanya bisa menjelaskan kenapa Metha begitu menyukai senja.


Hari itu, sama seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada yang terlalu istimewa. Seperti biasa Metha menikmati senja di salah satu kafe favoritnya bersama Cia. Tapi hari itu menjadi hari yang begitu bersejarah buat Metha, karena dia bertemu dengan seseorang yang membuat mata Metha tidak bisa lepas untuk melihatnya. seorang laki-laki menyanyi di salah satu sudut kafe dengan gitarnya, dia hanyalah penyanyi kafe biasa yang mungkin kebetulan sedang mengisi acara di kafe itu, tapi laki-laki itu begitu mempesona buat Metha. Lagi-lagi chemistry jawabannya, dan sejak saat itu Metha memanggilnya lelaki senja. Sayang Metha tidak sempat berkenalan dengan lelaki senjanya, dia hanya bisa berharap akan bertemu lagi dengan sang lelaki senja.


Siapa yang tahu kalau Metha akhirnya bisa bertemu lagi sama sang lelaki senja. Dunia memang sempit kan? Rasanya Metha nggak akan pernah lupa gimana kagetnya dia waktu melihat lelaki senja itu ada di kampus, dengan jas almamater dia berdiri di deretan senior yang mau nge-OSPEK Metha dan para mahasiswa baru lainnya. Metha juga akan selalu ingat waktu akhirnya dia dan lelaki senja bisa kenalan. Meskipun yang ini dengan bantuan Cia, sahabatnya.


Setelah itu Metha cari tahu segala sesuatu tentang Lukas-nama si lelaki senja itu, dan dengan bantuan Cia juga, lebih tepatnya Metha yang maksa Cia, Metha bisa dekat sama Lukas. Termasuk janjian dia hari itu buat belajar bareng.
Metha melihat jam tangannya. Sudah hampir 15 menit Metha menunggu, tapi Lukas belum datang juga. Janjiannya di taman kampus lagi, jadi agak sepi, nggak enak banget deh nunggu sendiri di sini. Metha menyesali kenapa dia milih taman kampus sebagai tempat janjian.


Untuk mengusir kebosanan Metha akhirnya memilih jalan-jalan di sekitaran taman. Taman ini keren juga sebenarnya, untuk ukuran kampus, tapi kayanya kurang jadi favorit untuk nongkrong anak kuliahan jadi agak sepi.


Waktu Metha lagi asyik menikmati taman itu, Metha melihat seseorang yang sudah sangat dikenalnya. Kak Uthe, asisten dosen di kelasnya, yang terkenal paling jutek. Beberapa temannya yang pernah punya masalah sama dia, terancam susah lulus. Sampai saat ini sih Metha nggak ada masalah sama dia, dan jangan sampai ada masalah tentunya. Tapi muka Kak Uthe kusut banget, kayak habis nangis, lagi nangis malahan, karena Metha melihat dia menghapus air matanya. Metha menghampiri Kak Uthe, ragu-ragu, “Ka Uthe?”


Uthe mengangkat wajahnya, kaget. “Eh, Meth.” Uthe mencoba tersenyum dan malu-malu dihapusnya air matanya. Dia lalu menggeser duduknya mempersilakan Metha duduk di sebelahnya.


“Maaf Kak, aku ganggu ya?”
“Ah, nggak kok. Kamu lagi ngapain di sini?”
“Aku lagi nunggu temen, Kak. Kalo kakak gal keberatan, boleh ‘kan aku temenin Kakak?”


Uthe cuma mengangguk. Metha menangkap sinyal bahwa Uthe memang lagi butuh teman. Spontan dielusnya punggung Uthe pelan. “Kalo Kakak mau, Kakak bisa kok cerita sama aku.”


Mendengar perkataan Metha barusan, Uthe menangis lagi. Beban di hatinya memang sudah terlalu menyesakkan, dan tawaran Metha barusan sangat melegakan Uthe. Dalam waktu singkat saja, Uthe bisa mencurahkan isi hatinya pada Metha.


“Meth, thanks banget ya, kamu mau nemenin aku.”
“Sama-sama ka, aku seneng kok kalo bisa bantuin Kakak.”


Uthe tersenyum melihat Metha. Dilihatnya ketulusan dari matanya. “Dari dulu aku pengen banget punya adik cewek, waktu ngeliat kamu barusan, Aku tuh kayak ngerasa punya adik.”
Uthe akhirnya pergi meninggalkan Metha karena ada yang harus dia kerjakan. Diam-diam Metha mengeluarkan agendanya lagi. Memberi checklist pada permohonannya yang kedua dan menambah satu lagi wish listnya.


5. Semoga masalah Kak Uthe sama cowoknya bisa selesai.


***

Hampir sebulan Uthe punya teman curhat baru. Namanya Metha. Padahal Metha itu tadinya cuma mahasiswa yang dibimbingnya di kelas, tapi tiba-tiba aja dia jadi bisa sedekat itu sama Metha. Uthe nggak gampang untuk percaya sama orang, tapi sama Metha dia bahkan bisa cerita semua masalahnya, termasuk soal cowoknya. Meskipun Uthe nggak cerita terlalu detail tentang cowoknya itu sama Metha, tapi yang jelas Uthe merasa lebih lega karena dia merasa nggak sendirian waktu ada masalah kayak gini.


Metha juga sering cerita banyak hal. Katanya dia lagi suka sama satu cowok di kampus. Metha memanggilnya lelaki senja. Uthe sebenarnya penasaran sih, siapa cowok yang bisa bikin Metha jatuh cinta, tapi Metha belum mau menyebut nama cowok itu. Katanya malu kalo Uthe ternyata kenal. Metha bilang nanti dia pasti kenalin sama Uthe.


Tapi sudah beberapa hari ini Metha uring-uringan. Katanya sudah hampir tiga hari, lelaki senjanya itu menghilang. nggak ada SMS, nggak ada telepon, bahkan dihubungipun nggak bisa. Ditelepon ke rumahnya, nggak pernah ada yang angkat. Handphone-nya nggak pernah aktif. Uthe sendiri sebenarnya ada perasaan sedikit nggak enak tiap kali Metha cerita tentang cowok itu. Uthe nggak ngerti apa, tapi dia ngerasa ada sesuatu sama cowok itu. Tapi Uthe berusaha menyangkal perasaannya, mungkin itu cuma perasaannya saja.


“Sabar ya Meth, kali aja dia emang lagi ada masalah,” hibur Uthe.


“Kalo lagi ada masalah tuh harusnya cerita, bukannya ngilang kaya gini. Perasaan aku kan jadi ga enak Ka, takutnya dia kenapa-napa.”


“Ya mungkin aja dia emang lagi pengen sendiri dan dia gak mau ngerepotin kamu.”


Metha cuma diam. Semoga saja apa yang Uthe bilang itu benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar