Jumat, 14 Mei 2010

Dasi by : Mpok Mercy Sitanggang

Muka saya merah. Itu karena, saya marah.
Menurut saya, sebagai seorang isteri, saya sudah mendekati angka sempurna, bukan hanya pintar pada urusan asmara di dalam bilik dua kali tiga milik kami berdua, dan gerakan badan saya setiap malam yang tanpa busana, tapi juga jago untuk urusan memanjakan lidah dengan segala masakan ciptaan saya. Seorang anak yang juga bertumbuh dengan baik dalam pola asuh saya, tidak ada yang kurang sedikitpun, malah berlebih kasih sayang.
Saya rela mengorbankan cita – cita dalam kepala, menanggalkannya dan menjadi seorang ibu rumah tangga.

Jadi, saat ini, saya protes keras.
Kalau citra saya yang sangat baik tersebut, menjadi luntur, hanya karena saya tidak bisa memakaikan suami saya… DASI..!!
Dan hebatnya lagi. Hanya karena hal itu, saya menerima talaknya. Bukan talak satu, melainkan langsung loncat pada angka tiga.
Saya marah, sangat marah..!!
Tidak hanya kepada suami saya, yang asal menalak tanpa mengingat cerita dan sejarah yang terlalu banyak punya cerita, tapi saya lebih marah pada diri sendiri, kenapa saya sampai tidak bisa memakaikan dasi pada kemeja suami saya, dan akhirnya tanpa mengurangi rasa hormatnya pada saya, dia pergi mencari perempuan yang sanggup memakaikannya untuk dia. Dan saya tidak bisa menerima kalau posisi saya ini, lalu digantikan oleh seorang perempuan yang selama ini berkeliaran di lingkar kehidupan saya, dan menerima uang setiap bulannya dari saya sebagai gaji.
Setan..!!
Kurang ajar..!!
“ Saya tidak rela diperlakukan seperti ini…” saya menutup muka dengan kedua tangan saya, dan membiarkan tangan itu basah karena air mata.

Saya ingat betul bagaimana setiap saya tidak bisa memakaikan dasi pada kemeja yang akan dia pakai, dia memaki, dan makiannya itu teringat sampai sekarang, “ Bagaimana mungkin bisa jadi isteri yang baik, kalau hanya persoalan dasi saja tidak mengerti..!!! ” dan setelah memaki, dia pergi dengan membawa beberapa dasi – dasinya itu.
Saya merasa ludah itu terlempar untuk saya, dan jatuh mengotori muka saya yang cantik dan terhormat.
Dan saya tidak pernah tahan, ketika saya memergoki suami saya, dengan perempuan itu, di kamar yang pintunya terbuka, dimana perempuan itu sedang memakaikan dasi untuk dia. Merona wajah suami saya di depan muka perempuan itu, ingin rasanya saya menerobos masuk dan mencuri lelaki saya itu dari sana, tapi, kaki saya terkunci di depan pintu, saya hanya bisa menangis, sambil menggigit dasi dalam genggaman.
Ternyata, saya bukan isteri yang sempurna, penilaiannya hanya sebatas pada tangan yang membuat simpul dasi. Perempuan yang bisa memakaikan dasi pada kemejanya, merupakan perempuan yang sempurna dan terhormat, walaupun dia hanya seorang… pembantu..!!


Peristiwa di dalam kamar itu, bersarang terus di kepala saya. Mulai dari malam ini, saya memukul genderang perang, saya harus bisa memakaikan dasi, startnya harus segera dicuri, saya tertantang.
Tapi, persetan,
Saya tidak perduli pada dasi.. dasi itu, hanya alat untuk bisa selingkuh.
Saya capek. Saya tidak peduli lagi pada lelaki dan dasinya itu, pada perempuan yang mulai jalang dengan kelihaian tangannya memakai dasi. Tapi selalu menangis menciumi kaki. Katanya dia terpaksa, karena ada yang menekan dari belakang.

Saya kecewa.
Pada suami saya.
Pada perempuan itu,
Terutama pada dasi
Dan .. tangan saya.!!

Pernah suatu kali saya meratap di depannya, saya teriak dan berjanji untuk selalu menyajikan masakan yang super lezat, merubah tatanan rumah menjadi asri dan rapi, dan yang paling menggiurkan, menurut saya, adalah penawaran saya akan gerakan – gerakan yang lebih erotis lagi di atas tempat tidur. Tapi dia membalas teriakan saya, dengan tamparan di pipi dekat telinga, yang membuat telinga saya berdegung sampai sekarang, dia katakan, kalau semua itu menjadi tidak penting, ketika saya tetap tidak bisa memakaikan dasi, untuknya. Selalu titik. Tidak pernah berubah menjadi koma.
Seperti semut saya dimata dia, dan kalau sudah begitu, dia akan berdiri, menutup pintu kamar dengan keras dan membuka lembut pintu kamar yang lainnya. Dan saya tahu itu kamar siapa.
Saya memang tidak bisa memakaikan dasi pada kemeja suami saya, tapi bukan berarti saya rela perempuan itu melahap suami saya, karena minusnya saya ini.
Saya memang tidak rela, tapi suami saya memberikan tubuhnya sendiri, dengan percuma..


Perceraian itu semakin dekat.
Seperti tersambar petir, ketika ada satu lembar kertas di depan muka dan pulpen yang sudah disediakan.
Mulanya saya menolak.
Saya ambil kertas itu, dan dimukanya, saya robek – robek jadi pecahan paling kecil, dan saya hamburkan ke mukanya, kalau sudah begitu, dia akan balas memaki saya, dan dengan terang – terangan, masuk ke dalam kamar dengan pintu yang tidak sama dengan pintu saya, dan akhirnya tenggelam di sana, tidak keluar lagi.
Kalaupun dia keluar, saya tidak tahu waktunya.
Dari tempat saya berdiri, saya masih bisa terdiam, menahan nafas, lalu memalingkan muka, lari ke kamar dan semuanya kembali pada asap.
Entah sudah kali kedua, ketiga, keempat dan kali kesekian, lelaki itu selalu masuk kamar yang berbeda, dan keluar kamar, dengan kemeja yang sudah rapi beserta dengan dasinya. Kemeja dan dasi yang baru, bukan keluar dari lemari kamarku.

Suami saya, tidak pernah lagi menempatkan saya pada posisi yang sebenarnya. Anak saya hanya satu, itupun mereka curi juga, dan hal itu sangat melemahkan pertahanan saya, karena, setiap harinya, dia memakai seragam yang juga memakai dasi.
Dulu, memang, tidak ada artinya, ketika tangan perempuan itu mulai menggantikan tangan saya, melakukan pekerjaan saya untuk mereka, pekerjaan yang tidak bisa saya lakukan : Memakaikan dasi.
Tapi sekarang, jadi sakit di dalam dada ini, melihat semua itu jadi terbiasa. Perempuan itu selalu merah matanya, setiap kali bertabrakan mata dengan saya.

Lucu. Saya tertawa sambil menangis, ketika tiba – tiba pikiran saya nakal, pikiran yang masuk ke dalam ruang sidang ( nantinya ). Apakah hakim tidak akan tertawa terbahak – bahak, ketika kami berdua hadir di hadapannya, dan bertanya perihal sebuah tujuan kedatangan,“ Masalah apa ?”
Dan dengan bangga suami saya berdiri dari kursinya, menunjuk saya dengan telunjuknya dan berteriak kencang, “ Perempuan ini tidak bisa memakaikan dasi untuk saya “,
Saya berteriak menirukannya di depan cermin dalam kamar.
Lalu, apa yang harus saya lakukan saat itu ?
Bagian yang paling menyayat itu, adalah ketika suamiku menunjuk seorang saksi kunci. Saksi akan ketidak becusan saya sebagai seorang isteri. Saksi itu namanya Inah, pembantu kami, seorang perempuan pemilik pintu yang selama ini, menjadi pintu suamiku juga. Dengan dada terbusung, suami saya lantang bicara, “ Inah lah, yang selama ini memakaikan dasi untuk saya dan Nabila.. “.
Dari bangku terdakwa, saya hanya sanggup menggigit bibir, mempermainkan deru nafas saya, mengumpulkan keberanian untuk membalas teriakannya, “ Kalau begitu, kawin saja sama inah… !!! ” dan semua penonton bertepuk tangan.
Hanya saya yang menangis.
Tadinya saya pikir saya menang. Tapi, saya kembali jatuh pada air mata yang sebelumnya dan sebelumnya lagi, ketika, mata saya menangkap tangan yang melingkari pinggang perempuan itu, saya sudah tahu tanpa perlu lagi melihat siapa pemilik tangan itu.

Saya menarik lagi, pikiran saya dari ruang persidangan itu.
Saya tidak penah memiliki pikiran untuk ada di sana, saya mengakui kesalahan saya, dan saya yakin suami saya juga khilaf, saya yakin semua akan kembali normal.

Sumpah, dia tidak pernah tahu, bagaimana perasaan saya. Saya juga sedih, karena tidak bisa membuat simpul yang benar, pada dasi yang dipakai oleh suami saya, bahkan suatu ketika saya pernah bertanya sesuatu sama dia, “ Sayang.. apakah kamu harus memakai dasi setiap ke kantor ? “ tanya itu seiring dengan tangan saya yang mengelus lembut bahunya, dan mulut saya yang menekan mulutnya juga.
Suami saya tidak menjawab pertanyaan saya, malah, merebut paksa dasi itu dari tangan saya, dan kembali membuka pintu kamar yang beda dengan pintu kamar saya, anak saya juga ikut ditarik lelaki itu. Terpekik saya, mengikuti langkahnya menuju kamar dan pintu yang berbeda itu.
Dari balik lubang kunci kamar Inah, saya menangis. Berjongkok sambil menangis. Mengisi lubang kunci dengan air mata saya.
Melihat perempuan yang beruntung itu merona pipi dan matanya, Inah memang masih muda. Perempuan muda dengan kulit sawo matang yang lembut, serta rambut panjang terurai dan bola mata syahdu, pujaan kaum lelaki, badan yang terbentuk, membuat aliran pada darah seperti berhenti. Dia memang tidak seperti pembantu. Dia seperti pencuri..!!
Hancur hati saya.

Inah bukannya tidak mengerti. Inah tahu, saya sedih.
Ada air mata mengalir di bawah kaki saya, saya menunduk, dan melihat Inah di sana. Dia dengan permintaan maafnya.
“ Maafkan saya ibu..” lalu dia tidak berani mendongak, terus saja begitu, kalau sudah begitu, saya akan langsung cepat mengambil badannya dan menghapus air matanya.
“ Semua salah saya.. “ saya berkata lirih.
“ Saya akan mengajari ibu..” perkataan Inah juga lirih, tapi bibir saya menyambutnya dengan senyum.
Suami saya tidak harus tahu soal belajar ini.
Hampir setiap hari, tangan saya belajar memainkan bagian yang panjang dan yang pendeknya, lalu disimpulkan. Tapi selalu saja gagal, Saya menangis dalam pelukan Inah. Dia juga ikut menangis.
“ Saya angkat tangan..” itu kata saya, pada dasi yang terakhir terpakai dan tetap gagal.
“ Saya rela melepas dia..” suara saya lirih berbohong pada sebuah kata, memegang tangan Inah, dan menyerahkan sebuah dasi masuk ke dalam genggaman tangannya.
Saya juga tahu, kalau Inah sedang berbohong.

Saya tidak pernah mengira akan seperti ini jadinya.
Saya teringat ketika SMP. Saya pejamkan mata, dan berusaha mengembalikan kembali peristiwa tersebut. Saya berusaha memakai dasi sendiri, tapi tidak pernah bisa. Selesai pada usaha yang belum terlalu keras. Ibu saya kasihan melihat saya yang terus menangis ketika harus memakai dasi, ibu menghentikan air mata saya, dengan membelikan dasi yang sudah bertali, jadi saya tidak perlu susah payah untuk menyimpulkannya lagi, tinggal dimasukkan melalui leher, ke dalam kerah kemeja, dan kemudian dirapikan.
Selesai.
Lantas, saya berangkat sekolah dengan terus mengulam senyum, dan untuk selanjutnya, saya selalu bisa tersenyum sebelum berangkat sekolah.
Saya masih pejamkan mata, dan terus berusaha mengembalikan peristiwa yang sekarang, saya tidak pernah bisa membuat suami saya tersenyum setiap hari sebelum dia berangkat kerja.
Karena dasinya tidak bisa yang bertali.
Tapi Inah bisa. Suami saya memuji Inah tapi memaki saya. Anak saya menggelayuti Inah, tapi merengeki saya.
Muka saya pucat, seperti kekurangan darah.
Kenapa, saya jadi seperti seorang isteri yang nampak tolol ? hanya gara – gara sebuah dasi.
Yang paling kejam menurut saya, ketika mulut suami saya, tidak lagi pernah menekan pada wajah dan mulut saya. Dan pintu kamar saya yang setiap malam saya sengaja biarkan tidak terkunci, agar langkahnya bebas masuk ke dalam, akan terus tidak terkunci sampai pagi. Itu hukuman paling keji, untuk seorang isteri.

Besok pagi sidang perceraian saya yang pertama digelar.
Malam ini, saya tidak bisa tidur, bahkan hanya memejamkan mata saja juga tidak. Saya menangis. Saya berharap, ada penyesalan pada hati suami yang mengambil jalan ini. Tapi, rasanya tidak mungkin, kalau mendengar suara tawa dari kamar yang lain.
Seperti tersedot energi dari dalam tubuh saya, gontai langkah saya menuju lemari pakaian suami saya dan membukanya. Lantas menangis, karena pemandangan di depan saya ini.
Suami saya adalah seorang lelaki pecinta dasi, koleksinya ada di depan muka saya ini. Dulu, dia tidak pernah sama sekali meminta saya untuk memakaikan dasi untuknya, semua dikerjakan sendiri.
Pernah saya coba untuk memakaikannya, tapi gagal, dan dia tidak marah, hanya tersenyum dan kembali memakai sendiri.
Lain dulu lain sekarang,
Sekarang, kerjanya hanya mengamuk, merebut dasi di tanganku, membuka pintu kamar kami, dan membuka pintu kamar yang lain.
Hanya karena masalah dasi.
Saya tidak habis pikir.
Kemarahan saya memuncak malam ini, saya ambil semua dasi yang ada di depan saya, dan saya lemparkan ke atas kasur, saya menarik nafas panjang, dan lalu mulai berbuat sesuatu.
Saya mengganti baju dengan baju kemeja suami, dan mulai kesetanan, saya mencoba memakai semua dasi itu, sendirian, tapi tidak bisa.
Saya coba lagi, dan tetap tidak bisa. Coba terus, dan tetap tidak bisa.
Saya marah dan mengamuk.
Saya buka kemeja yang saya pakai, dibuang ke lantai, begitu juga dengan dasi – dasi itu, teraup dengan tangan saya, dan terhamburkan begitu saja di lantai.
Saya tutup muka saya dalam bantal putih, dan membiarkan tangis dan teriakan jadi satu..
Di dalam bantal penuh air mata ini, saya kembali mengingat kata, yang menurut saya hanyalah sebatas kelakar saja, tadinya, “ Seorang suami yang memiliki isteri yang dapat memakaikan dasi untuknya, adalah seseorang yang beruntung, karena saat itulah, kedekatan yang luar biasa terjadi di antara mereka… “
Sebatas alasan yang dibuat – buat.

Menunggu sidang besok, adalah hari yang paling menyiksa sepanjang waktu hidup saya di dunia. Tapi toh, saya juga berdoa, untuk kebahagiaan suami saya dengan perempuan yang pintu kamarnya beda dengan pintu kamar saya itu.
Menunggu malam berganti menjadi pagi adalah siksaan, tapi tidak bisa memakaikan dasi adalah ujian dan takdir yang tak berujung. Lebih dari menyiksa.

Tiba – tiba, saya merasakan hawa dingin yang menyusup masuk ke dalam kamar, dan seperti ada denting suara piano iramanya tentang perjalanan kehilangan, ada yang berjalan lalu akhirnya menghilang, Aku mengambil salah satu dasi dari tumpukan yang melantai tersebut, mengangkatnya, melihatnya dan kembali mulai menangis. Sebuah dasi hadiah ulang tahun perkawinan yang pertama, dari saya.
Ya Tuhan, irma musik itu semakin keras menggema di dalam kamar saya ini, dan angina nya juga semakin kencang meniup, tangan – tangan saya ini begitu kaku dan dingin. Bertabrakan dengan suara – suara tawa, yang saya tahu, dari mana asalnya.
Dasi itu saya genggam, dan saya ciumi. Foto manis pernikahan kami juga saya biarkan telungkup dan jatuh.
Saya tidak bisa membiarkan air mata ini tidak jatuh pada permukaan muka saya, apalagi ketika dasi – dasi itu mulai dipenuhi oleh muka suaminya saya. Langkah saya bergerak mengambil kursi dan lalu duduk di atasnya, mulai mengambili dasi – dasi yang berserakan di lantai, dasi itu, mulai diikat dengan dasi – dasi yang lainnya. Dasi ini sekarang jadi dasi yang panjang.

Saya mulai berdiri di atas kursi, melihat lagi dasi di tangan, dan dengan dasi yang sekarang panjang ini, lebih meyakinkan saya, bahwa, besok, dipastikan tidak akan ada saya di dalam ruang sidang itu. Dasi yang panjang ini sekarang sudah melingkari leher jenjang saya, dan dalam hitungan detik, saya masih bisa mengingat muka suami dan anak saya untuk yang terakhir kalinya.
Akhirnya, kursi penyanggah itu, saya tendang. Dan badan sayapun menggelantung. Semua dasi – dasi yang tersisa di lantai, jadi saksinya.

Angin berhenti, membuat jadi lembab, musik juga, menghampa dalam sepi. lantas,

Kenapa, suara tawa dari kamar dan pintu yang lain itu, juga tiba – tiba berhenti ??



The end.
( untuk seorang isteri yang dikalahkan oleh sepotong dasi )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar