Rabu, 12 Mei 2010

sahabat dalam bungsu.. by : Destien Mistavaqia



“bung, bung, bungsu...!!!” teriakan tiga orang wanita yang ketiga-tiganya adalah anak bungsu.. ”huwaahha..wkwkwwk..hihihhii..” dilanjutkan dengan tawa khas mereka yang ngga banget. Mereka itu udah sama-sama bungsu, jorok, sama-sama jerawatan, yang mukanya pada ngga karuan tapi teteup oke dan kece.
”son, lu udah beli majalah the’gogirl belum?” tanya linsa.
”udah donk.. fashion’nya bagus-bagus tuh..!” jawab Sonia. Sebenernya pada awalnya, mereka rajin beli majalah, cuma untuk ngeliat model pakaiannya doank, mereka kan suka yang unik-unik. Mukenya juga udah unik.
“eh, liat nih!!” seru Desy di tengah obrolan linsa dan Sonia. “ada lomba fashion style. Hadiahnya juga seru, juara pertamanya, jalan-jalan keBali.”
“uWaaaaah.....!!!” teriak Bungsu Gank. Mereka langsung melirik satu sama lain, menandakan bahwa mereka pasti bisa memenangkan lomba tersebut.
~***~
“lagi ngapain lu Son?” tanya linsa kontan melihat perbuatan Sonia.
“lagi cengo.” Jawab Sonia singkat.
“jorok lu Son, bukannya cari fashion di internet, malah asikk sendiri.”
Sonia hanya menjawab dengan tawa keringnya. “hhe..”
”iiiwh.. kalian mah, jorok banget sih..!! jiji tau..!!” teriak Desy yang sangat membenci kalau ada yang mengupil didepannya. ”ikh, cuci tangan sana..!” lanjut Desy jengkel.
Sementara itu, linsa melanjutkan mencari model pakaian yang lucu, unik dan modis untuk perlombaan fashion minggu depan. Sedangkan Sonia, malah mengotak-ngatik jerawatnya yang jelita memakai tangan. Desy hanya diam sambil melihat magazine. ”eh, Sonia sama Linsa, berarti ngga boleh ikutan perlombaannya donk..!?” karena umur Desy yang termuda 4tahun dari mereka.
”kenapa..??” tanya mereka serentak. Yang ngga nerima kalo mereka ngga diperbolehkan ikut perlombaan.
”disini dicantumin, yang boleh ikutan sebagai perserta hanya mereka yang berumur 12-16 tahun dan 17-20 tahun. Haha.. kalian kan umurnya udah 22tahun. Udah bangkot, Tua gitu lohh..”
Kesal Sonia dan Linsa, sambil bertatap muka. ”arrgh..!!”
~***~
Hari perlombaan itupun tiba. Mereka sudah bersiap-siap mendengarkan pengunguman. Dan ternyata...
”bung, bung, bungsuu..!!!” sambil menumpukkan telapak tangan mereka ditengah-tengah lingkaran dimana mereka berada dan mengangkat tangan mereka ke atas kepala, menandakan bahwa mereka senang karena memenangkan perlombaan ini. ”tuh kan, kata gue juga apa! Kita pasti menang, walaupun muka ni anak ngga ngejual, yang penting kan model pakaiannya dapet, ya ngga?” kata Linsa yang senang karena mereka berhasil.
”uweii,, udah sama-sama cantik juga, masih aja ngejek. Huft.” kata Desy yang jengkel saat itu.
”haha.. udah akh.” kata Sonia menghentikan. ”yang penting’kan kita bisa ke...”
”Bali...!!!” teriak Bungsu Gank dengan serempak. Dilanjutkan dengan tawa mereka yang khas.
~***~
”semuanya siap..?!!” teriak Desy dengan semangat.
”siaap..!!” dilanjutkan oleh kedua bungsu gank yang lain.
Mereka berangkat dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, menuju Bandara Ngurah Rai, Bali.
”hoaamm..” Linsa menguap, disertai Sonia dan Desy yang juga ikut menguap. Mereka tertidur di pesawat. Bermimpi seakan-akan mereka tengah berada dikerumunan banyak orang dengan pemandangan sunset di hadapan mereka. ’Gubrakk’, tak sadar Linsa telah terjatuh dari tempat dudukannya, menghilangkan mimpi indah nan damai berada di pulau Dewata Bali. ”heuh, dasar!! Pake acara jatuh sagala..” ia melanjutkan mimpi indahnya, namun mimpi itu tak muncul dari benaknya, yang ia lihat hanyalah pria yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga dipesawat. ”apa sih..?” dalam hatinya. ”ngeliatain mulu, kalo suka ngomong..!!” ’pletuk’ suara tangan yang tak sengaja mendamprat tepat diwajah Linsa. ”auw..” kata Linsa kesakitan. ”heh, kenapa lo..?” tanya Linsa kesal pada Sonia yang berada disebah kanannya. ”Lu ngigau ya, Son? Sakit tau.” Sonia tetap saja tertidur dalam mimpinya yang sepertinya indah. ”huh..!” keluh Linsa jengkel, melihat temannya yang tertidur lelap dan mengigau tanpa batas. ’clak’, suara air yang terjatuh membasahi lengan kiri Linsa. ”iwh, apaan nih..?” sambil melihat kearah kirinya dan memasang muka cool, ”hmm.. ni anak satu, pake ngacai hokcai segala. Duh, malu-maluin ikh. Masa di pesawat ngiler..?! arrrgh.. kena tangan gue lagi..” Linsa menyusutkannya ke baju Desy yang tetap nyeyak ngga mau dibangunkan. ”duh, mau tidur, tapi malu sama cowok yang dari tadi ngeliatin gue.” pikir Linsa dalam hati. ”lumayan sih, ganteng. Hehe..”
~***~
Pintu pesawat terbuka, dan mereka mulai turun menyusuri anak tangga. Mereka merasa bagai bermimpi dan tak terbangun dari tidur mereka.
”uwaa.. jadi ini teh Bali toh..?” kata Sonia yang saat itu seperti anak katro.
”heuh, dasar katro. Jangan menunjukan gerak gerik yang mencurigakan kalo kita ini belum pernah ke Bali..!” kata Linsa cerewet.
”ehm. Bali,, i’m coming..!!!” teriak Desy lebih katro. linsa dan Sonia saling menatap, dan mulai menjauhkan diri dari hadapan Desy yang terlihat jauh lebih katro.
”uwh, dasar ndeso..!” kata Linsa dan Sonia kompak.
Desy hanya menatap keatas, pada tulisan besar yang ada dihadapannya.
”Des, kenapa? Ko bengong?!” Linsa melihat Desy kebingungan.
”iyah, ini Bali, Des. Udah jangan terharu gitu akh.” mata Desy mulai berlinang.
”iya Des, kita berhasil ke Bali. Udah jangan sedih gitu.” kata Sonia melanjutkan.
”kita disini kan mau senang-senang, masa kamu nangis sih Des?” kata Linsa nampak heran. Mereka mulai merangkul Desy yang mulai mengeluarkan lebih banyak air mata disertai suara isak tangis yang menurut mereka mengharukan. ”Des, gue tau, ini perjuangan kita bisa sampai ke Bali, tapi please, lu jangan nangis gitu, gue jadi ikut nangis nih.”
”iyah Des, gue juga jadi ikut terharu. Gue bangga ama kerja keras kita, sampai kita bisa disini. Bali.” Linsa dan Sonia mulai mengeluarkan air mata bahagia mereka.
”Linsa,Sonia.” kata Desy datar.
”iyah des..?” kata mereka serempak.
”kalo Bandara yang ada di Bali itu namanya Ngurah Rai yah..?”tanya Desy lemas.
”iyah.” kata mereka ikut lemas ketika mereka melihat apa yang sedari tadi dilihat oleh Desy.
”terus, kalo Bandara Polonia, ada dimana?” tanya Desy tambah lemas .
”ada di Medan des..!” jawab mereka mau pingsan.
Ternyata mereka berada di Medan dan bukan diBali. Mereka hanya terdiam menatap tulisan yang besar segede gaban tersebut.
”kalo gitu, gue seharusnya ngga bangun dari mimpi gue yang indah tadi. Huwaaa... gue nyesel.” kesal Desy yang ngga terima kalo mereka salah alamat.
~***~
Mereka hanya berdiri dan terdiam memandang tepat kearah tulisan Polonia. ”ada yang bisa saya bantu?” seorang pria yang sedaritadi memperhatikan mereka, menyapa dengan ramah. Serempak Bungsu Gank, melirik ke arah suara itu berasal.
”aa.. iyah, ada apa ya?” tanya Sonia yang ngga kalah ramah ditambah senyuman yang lebar memukau.
”kayanya kalian baru pertama kali ke kota Medan yah?”
”akh, ngga juga. Saya tuh orang batak Om, waktu kecil, saya pernah kesini, ngerayaain ulang tahun Opung Boru yang ke-72 tahun.” jawab Desy dengan semangat.
”ikh, kalian ini apa-apaan sih? Ngeliat cowok yang gantengan dikit aja, langsung cerah mukanya.” kata Linsa risih. ”eh, bang, saya juga orang batak lho. Abang orang batak juga ya..?” tanya Linsa mendadak centil sembari mengeluarkan logat bataknya.
”so what gitu loh, kalo kalian orang batak! Gue orang Jawa aja ngga sombong tuh!” kata Sonia yang nyolot, ngga mau kalah dengan sahabat-sahabatnya yang mayoritas orang batak.
”hmm.. saya bukan orang Medan, tapi saya senang datang kemari melihat pemandangan yang indah.”
~***~
”Kita ke Danau Toba yuk..?” ajak Juan, pria yang baru saja menjadi teman Bungsu Gank. Seketika mereka menceritakan kejadian yang baru saja menimpa mereka. ”ko bisa sih?” tanya Juan sambil berjalan-jalan menyusuri danau Toba.
“eh, tapi kalo dilihat-lihat, danau Toba tuh indah juga yah?!” kata Sonia yang saat itu terpesona oleh keindahan alam diSumatera Utara itu.
”makanya, kalian jangan cuma ngebanggain Bali doank. Tapi, kalian juga harus lihat pesona alam yang berbagai macam dan bentuk ada di kepulauan Indonesia ini.” Juan menjelaskan.
”haaaargh.. tapi tetep aja, gue pengennya ke Bali, titik.” Desy langsung lari meninggalkan mereka di danau.
”Des, Desy..!!” seru mereka mengejar.
~***~
”kita cari Desy kemana lagi nih?” kata Sonia kebingungan.
”haduh,, tu anak nyusahin akh!!” kata Linsa yang kesal dan bingung.
”kenapa ngga di telepon aja?” tanya Juan.
”oh iya ya..” kata Sonia bengong. ”kenapa ngga dari tadi di telepon?” ia melanjutkan.
Linsa mulai menyandar pada tembok. ”beuh, gini nih, kalo pikiran udah kusut, hal kecil aja ngga kepikir.”
Sonia mulai menghubungi Desy. “halo Des, lo dimana?” segera mereka menemukan Desy di ujung jalan tempat es kelapa muda. “lo kemana sih? Dari tadi tuh, kita nyriin lo!”
“ya maaf, gue kan tadi Cuma haus aja, trus nyari tukang es kelapa muda. Nah, udah gitu, gue ngga tau tuh jalan pulangnya kemana!? Hehe.. gue kesasar nih!” jelas Desy sambil memakan kelapa mudanya.
“heuh, cape tau!!” langsung saja Linsa menyeruput es kelapa yang sedang dipegang Desy, dilanjutkan oleh Sonia yang ngga kalah kehausannya.
“haha..” tawa Juan. “kalian tuh lucu yah?! Kompak banget.” Bungsu Gank menatapnya dengan senyuman lembut. ”Tapi aneh.” mereka langsung merubah tatapannya menjadi kasar. Dengan tersenyum, buru-buru Juan mengalihkan kata-katanya, karena takut diserbu tiga cewek berkepribadian ganda. ”Hhe, becanda!!” sambil melontarkan senyuman garing kearah Juan, Bungsu Gank berjalan menuju penginapan dekat danau Toba. Diikuti oleh Juan dibelakang mereka.
~***~
”para penumpang jurusan Pulau Dewata Bali, diharapkan bersiap-siap untuk menggunakan sabuk pengaman anda. Karena sekitar lima menit lagi, pesawat akan turun dan sampai pada Bandara Ngurah Rai, Bali.” Bungsu Gank mendengar suara pramugari tersebut, kontan mereka terbangun dari tidur mereka yang lelap.
”hah..!!” Desy terkaget.
”jadi..??” Linsa pun bingung.
”barusan..!?” Sonia menganga.
Mereka saling bertatap muka, melirikkan mata mereka pada sekeliling awak kapal. Setelah pesawat mendarat, dan dipersilahkan untuk keluar. Bungsu Gank cepat-cepat berlari keluar, menuruni anak tangga, ingin sekali melihat nama Bandar Udara tersebut. Mereka berbanjar, kepala mereka mengadah keatas, dibukanya mata mereka lebar-lebar. Dan mereka serempak membaca. ”Bandar Udara Ngurah Rai, Bali.” mereka mulai tersenyum, senyum mereka mulai lebar, dan akhirnya mereka tertawa, melompat-lompat sambil berpegangan tangan. Dan mereka mulai berhenti sejenak, melihat pria yang nampaknya mereka kenal.
”Juan..!!” seru Bungsu Gank.
Dengan mengkrenyitkan kening, Juan melirik ke arah mereka. Seakan-akan bertanya, siapa mereka?
”lho.. ko tau? jadi, kalian juga..?” tanya Desy heran.
”iya ikh, ko kalian juga sama..?! Linsa mulai bingung.
”ternyata, mimpi kita sama ya..?!! Sonia mulai menjelaskan.
”huwaahha..wkwkwwk..hihihhii..” mereka mulai mengeluarkan tawa khas mereka, dan mulai berpelukan. Merasa bahagia karena akhirnya mereka bisa bersama diBali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar