Rabu, 21 April 2010

ANAK MUDA vs ORANG TUA by: Essly

Anak muda itu kuat, tapi kurang berhikmat
Okay, no offense kalo ada diantara kamu yang mengaku “muda”, karena sepengetahuan saya “muda” itu relative. Why? Karena ada beberapa orang pernah berkata bahwa semua orang yang umurnya dibawah 100 tahun itu masih muda. Well yeah .. lets just nod our head for this quote.
Seseorang dikatakan muda dinilai dari “kekuatannya”; dari kekuatannya duduk di depan computer seharian sampai kekuatannya bergadang dua hari dua malam. Uh, so young and so-not-healthy YET so-fun. Namun, masuk mengenal anak muda lagi, bahwa anak muda sebenarnya punya kekuatan untuk menanggung segala sesuatu; dari beban yang berat di atas punggungnya sampai beban masalah yang bertubi-tubi menimpa hidupnya. Kekuatannya “wow” membuat banyak orang tercengang.
Satu masalah terbesar anak muda (1) “kurang berhikmat”, mungkin karena kurang pengalaman. Tema hidup anak muda adalah “learning by doing”, of course takes time and ITS OKAY for them because they still have a long life *at least they thought like that*
(2) Tapi anak muda “kurang berhikmat” juga karena sombong; kesombongannya sampai ke awan-awan karena mereka tahu mereka punya fisik yang kuat dan mereka model bagi generasi berikutnya. Dahinya mengernyit setiap kali nasehat keluar dari mulut orang yang lebih tua, atau jari-jari sibuk di blackberry tanda “gak suka” digurui (itu kosa kata mereka). Dan filosofi mereka adalah “semakin disuruh semakin tidak dilakukan” karena mereka sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan (itu kata mereka).
Orang tua itu berhikmat, tapi kurang kuat
Well, namanya orang tua berarti udah “tua”; banyak orang mengartikan nya dengan wajah yang keriput atau duduk di kursi roda tanda lemah dan tidak berdaya. Namun sebenarnya menurut saya, “tua” itu sedang berbicara mengenai “lama hidup”. Dalam kamus per-angguran (wine.red), “tua” itu bicara soal rasa dan kualitas (“semakin tua semakin berkualitas”) at least itu yang para orangtua harapkan.
Peribahasa “banyak makan garam” rupanya menjadikan si orang tua ini “berhikmat” sehingga selalu “greget” kalau melihat orang-orang muda melakukan kesalahan atau akan melakukan kesalahan. So what they do? Mereka memanggil anak muda tersebut, melakukan one-o-one dengan mereka dengan tujuan supaya mereka tidak melakukan kesalahan dan tidak menyesal (at least itu niat mereka).
Masalah terbesar orang tua adalah (1) Sulit percaya pada anak muda (mungkin tidak semua); karena pada dasarnya mereka pernah muda dan membuat kesalahan. Rasa “sulit percaya” semakin terbangun ketika melihat anak muda melakukan kesalahan dan cenderung membicarakannya dimanapun. Because they’re old and they want to show that they have wisdom
(2) Masalah kedua ternyata “kesombongan” juga. Karena pengalaman yang sudah banyak dan cerita yang lebih banyak dan juga tentunya lama hidup menentukan level kesombongan si orang tua. Mereka terlalu sombong untuk mendengar pendapat anak muda, bahkan mereka sama sekali menyepelekan anak muda. Tema hidup mereka bagi anak muda adalah “Mencegah lebih baik daripada mengobati” dan quote of the day mereka adalah “generasi kamu tuh enak, tidak seperti generasi kami” (menunjuk kepada hidup anak muda hari ini.
Anak muda + Orang tua = POWER
Sebuah kekuatan ditambah dengan hikmat adalah Fenomenal. Bergabungnya anak muda dan orang tua harus dapat terjadi, because somewhere between the gap there are NEEDS to be MET. Yang kuat membutuhkan hikmat agar dapat terus kuat. Yang berhikmat membutuhkan kekuatan agar dapat berbicara kepada dunia. Somewhere between the gap are MISSING, dan ini yang saya sebut: KOMUNIKASI + KERENDAHAN HATI. Komunikasi yang dua arah; mata dengan mata bertemu sampai hati dengan hati bertemu. Komunikasi yang harus terjadi antara “si kuat” dan “si hikmat”. Tanpa kerendahan hati, tidak akan ada hikmat. Tanpa ada kerendahan hati, tidak aka nada kekuatan. Kerendahan hati berbicara “saya harus mendengarkan apa yang dia bicarakan” atau “Yang ini pasti ditujukan untuk saya” atau “wow, saya mau berubah”
Young and old are powerful.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar