Kamis, 01 April 2010

Antara Idealisme dan Realitas by : Mita Vacariani

Antara idealisme dan realitas? kesannya berat banget ya? bukan mau sok2-an ngomongin hal yang berat, tapi saya memang sedang tertarik dengan topik ini karena rasanya sangat dekat dengan kehidupan saya.


Kemarin saya chat dengan sahabat saya dan tercetuslah topik ini (kesannya kurang kerjaan amat di chatting omongannya kaya gini). Dimulai dari curhatan sahabat saya soal pekerjaannya. Let me describe what was my friend look like..Sahabat saya ini seorang seniman muda, yang pekerjaan sehari-harinya berkarya membuat desain-desain grafis baik itu untuk logo perusahaan, pamflet2, desain kaos, dll. Sebagai seniman tentunya dia punya ciri khas sendiri, punya cara kerjanya sendiri, dan punya pemikirannya sendiri atau yang biasa kita sebut idealisme. Sayangnya Idealismenya berbenturan dengan realitas yang ada, karena saat ini dia terjebak bekerja di sebuah kantor yang katanya kurang bisa menghargai karyanya dan tidak mengerti profesinya sebagai seorang desainer. Dia seringkali merasa hanya diperlakukan seenaknya sebagai kuli yang disuruh ini-itu, termasuk men-download karya yang sudah ada di internet hanya untuk mengejar deadline. Padahal kita tentu tahu bahwa hal ini adalah hal yang paling tabu bagi seorang seniman. Apa daya, realitas memaksanya bertahan karena toh di kantornya itulah dia bisa mencari makan.


Saya juga mengalami hal yang sama. Saya memang tidak berprofesi sebagai seniman seperti sahabat saya itu (kecuali kalau menulis juga bisa dibilang karya seni, maka saya bisa dengan bangga menyebut diri saya seniman ^^). Saya suka menulis hal-hal yang sesuai dengan idealisme saya, kritikan-kritikan tentang kondisi negeri ini, atau pandangan-pandangan saya tentang organisasi tertentu, bahkan opini-opini sederhana saya tentang cinta dan kehidupan. Tapi saya tidak bisa mempublikasikannya secara bebas karena besar kemungkinan kurang dapat diterima oleh banyak orang. Mending kalau hanya menimbulkan pro dan kontra, kalau ujung2nya saya bernasib sama seperti Prita Mulyasari, kan ngeri juga. Pada akhirnya idealisme saya itu sedikit saya turunkan, minimal mendekati realitas lah.


Skripsi adalah salah satu bentuk idealisme saya. Beberapa orang teman pernah bilang “Come on mit, get real lah. Skripsi tuh yang biasa2 aja, yang penting cepet lulus.” Tapi kali ini saya tetap bertahan dengan idealisme saya. Saya memang sudah resmi terdaftar sebagai anggota ‘mahasiswa swasta yang telat diwisuda’ tapi toh saya bisa maju juga dengan skripsi saya. Malahan teman2 saya yang memaksa get real itu nasibnya tidak jauh beda dengan saya a.k.a belum lulus juga. Contoh lainnya soal kehidupan pelayanan saya. Waktu itu ada rekan sepelayanan saya yang bilang saya tinggal satu2nya mahasiswa di angkatan saya yang belum lulus. Katanya saya tidak fokus dengan studi dan terlalu asyik pelayanan. Bahkan parahnya dia bilang saya bisa menjadi batu sandungan. Rasanya saat itu saya hanya ingin bilang “Hei tahu apa kamu soal hidup saya? Mind your own bussiness, key!” Thanks God, saat itu kesabaran saya sedang full in charge.


Masih banyak sebenarnya idealisme saya yang berbenturan dengan realitas. Kadang hal ini membuat saya bungkam dan akhirnya seperti robot yang diatur-atur dengan alasan nggak enak-lah atau nggak sopan-lah. Tapi ada kalanya idealisme harus disuarakan. I mean, selama saya tahu saya tetap berada di track yang benar, berpegang pada satu-satunya kebenaran yang saya percaya (my holly bible, of course), tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak mengucapkan saksi dusta (halah!?), kenapa harus diam. So what apa kata orang. It’s my life, not yours.


Well, kalau lagi2 kita dihadapkan pada idealisme dan realitas, tidak ada salahnya menyuarakan idealisme kita. Tapi jangan lupa untuk sesekali menurunkan idealisme itu, minimal tidak terlalu jauh dengan realitas dan akhirnya menemukan jalan tengah yang terbaik.

cek blognya di : http://arthezoo.blogspot.com/


Tha
010410..3 p.m.

mita octavacariani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar