Jumat, 09 April 2010

gagal bergengsi by : Christ Poso Shakti

di sekolah ,
siang itu,
kelas yang isinya 40 orang anak mulai dagdigdug untuk menunggu putusan, IPA ato IPS ato Bahasa!! waahh!! waktu pun berlalu, gelintir demi gelintir anak mulai jelas warna muka dan nasibnya,

hasil pun dibacakan, walaupun beberapa siswa menyusutkan mukanya, manyun dan pilu,
tapi sebagian besar memasang muka sumingrah sesegar mungkin, lega..
dengan rasa sombong setinggi langit, sesegera mungkin mereka pawai meriah dengan bangganya ke semua orang. pamer identitas baru.

dari 14 orang sisa yang menjadi artis siang itu, tereliminasi 2 orang, fino dan rudi. tentu dengan didampingi orang tua mereka.
dengan vonis tidak naik kelas parade tangisan pun meledak bergelora di kedua keluarga tersebut. bertolak belakang, kontras dan saling berlawanan kondisi yang ada di dalam kelas dan yang ada diluar kelas,
saat suasana pilu berangsung didalam kelas,
jutaan murid justru sorak sorai bergembira di luar kelas nongkrong dan tertawa sambil makan eskrim miki mos yang mereka beli.

setelah beratus-ratus detik berlangsung, suasana tangisan mulai mereda.
sang ibunda fino mulai memarahi anaknya membabi-buta,
tiada secercah celah kesempatan terlontar bagi fino yang saat itu tertunduk pilu.
kontestan lain, sang ibunda rudi hanya diam tersedu terisak-isak sambil memeluki anaknya.
hampir 2 jam teng kecekaman tersebut akhirnya menemui akhirnya.

(sesampainya dirumah) : fino!!!
AYO BILANG!! BILLAAANGG!! KEMANA KAMU TIAP SIANG HAH?!?!?!
KAMU LIAT INI!! LIAT!!
NILAI KAMU GA AKAN SEGINI KALO KAMU TIDAK BOLOS!!!!
kata serapahan pun terucap tanpa henti sampai malam.. buku rapot pun sudah melayang-layang terlempar kesana kemari

fino diminta untuk mengulang di tahun berikutnya, namun ibunda fino malu bercampur gengsi untuk mengulangkan anaknya di sekolah yang lain..
'KITA PINDAH?? KITA TETAP DI SEKOLAH ini!! JANGAN PINDAH!!!' pekik sang ibu
sang guru menasehati sang ibu agar lebih baik mengulang saja di sekolah lain dan akan diberikan surat pengantar.
dengan angkuh seteguh hati dan mantab sang ibu pun dengan gagahnya berujar, 'TIDAK, ANAK INI TIDAK AKAN PINDAH!!'
tidak heran, karena sekolah ini merupakan sekolah dengan tingkat gengsi yang tertinggi di kota ini, sekolah elite..
fino pun pasrah..
tawaran pindah sekolah pun ditolak sang ibunda secara sepihak..

fino pun mengulang di kelas yang sama setahun lagi..

dan hasilnya sama, ga naik lagi! dan drama diatas pun terulang lagi..
saat sekolah menawarkan surat rekomendasi untuk mengulang di sekolah lain, tawaran pun kembali ditolak. dan semua itu hanya karena perihal gengsi sekolah elit. dan kegagalan tersebut sampai 3 kali terjadi berulang-ulang.

ternyata,
sampai pada kesempatan ketiga, tidak naik kelas juga,
maka mereka pun dengan tidak hormat harus angkat kaki dari sekolah elit tersebut dengan tidak hormat. tentu saja tanpa surat pengantar.
mau tidak mau ibunda fino pun dengan berat hati mengantarkan fino untuk mendaftar ke smu yang lain, namun sayang sekali
tidak ada sekolah yang mau menerima fino. bukan karena uang, hal ini dikarenakan prestasi dan umur fino yang telah jauh tertinggal
dengan anak seumur nya ditambah tidak adanya surat pengantar dari sekolah fino yang terahulu..

sangat disayangkan





..Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka;
namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu
tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak
melihat pintu lain yang telah terbuka. dan setelah kita sadar,
pintu tersebut telah tertutup juga..

2 komentar:

  1. Ini cerita fiktif pa beneran ya??? BTW setiap ortu mmg mmpunyai harapan dan tujuan dalam mmperlakukan anaknya, namun terkadang mmg hal itu tidak sesuai dgn kemampuan anak. Mgn bila ortu itu tdk hanya bisa memarahi anaknya, namun jg mmberikan cntoh, perhatian yg lebih serta pendidikan di rumah yg mumpuni mgkn sang anak jg akan turut memahami harapan ortunya, bukan jstru brtambah liar. Bagaimana pun anak adalah cerminan orang tuanya...
    Terkadang sesuatu yang baik itu justru kamu hindari, namun justru sesuatu yg salah kamu amat sangat mencintai...

    BalasHapus
  2. yahhh....mengenali jauh lebih baik daripada sekedar menghakimi

    BalasHapus