Sabtu, 10 April 2010

RUANG SEMPIT

24 jam sudah aku terjebak di dalam ruangan ini.

Ruang yang dinginnya membekukan badan dan juga hatiku.
Ruang yang penuh sesak dengan seluruh barang-barang yang dimiliki oleh makhluk yang bernama wanita,
Tempat tidur warna ungu,entah kenapa seluruh temanku yang pernah menghadirkan badannya di ruang ini selalu mengatakan kalau warnaku ini warna janda (edan... Kawin saja aku belum, dah jadi janda aja)
Meja rias kayu jati yang kacanya sekarang mulai berembun karena kedinginan,
Dan lemari kaca yang dari dalam kacanya selalu muncul bayangan mirip wajahku, dan selalu meledek aku setiap saat(ingin sekali aku pecahkan kaca itu, kalau saja aku tidak ingat betapa mahal harga lemari ini, waktu aku pertama membeli)
Padahal muka di kaca itu sama percis dengan mukaku, tapi kenapa muka itu selalu mengejekku dan membiarkan lidahnya keluar masuk menghina aku..
Dan liat,
Kamar mandi yang ada di dalam ruangan ini,
Merupakan ruang yang paling nyaman buat aku,aku bisa berlama-lama di sana, apalagi kalau setelah berbuat dosa,
Aku bersihkan diriku sambil menangis, dan membiarkan badan dan kemaluanku mengkerut karena kedinginan (kalau memang itu perbuatan salah, mengapa mesti terjadi berulang-ulang?? Sesuatu yang salah mengapa selalu nikmat untuk diulang kembali)
Malam semakin cepat bergerak,
Menghadirkan kesunyian yang tidak aku undang sama sekali,
tapi Aku sangat mencintai kesunyian,
Tapi, tidak untuk malam ini.
Oleh karena itu aku biarkan keran airku hidup,
Suara tape recorderku yang mahal juga membelah sunyi malamku, dengan suara seorang penyanyi cantik yang mencoba menghibur kaum ku dengan lagu single and happynya itu,
Aku besarkan volumenya...
Aku tidak peduli kalau gendang telingaku pecah..
Aku tidak peduli, kalau dalam beberapa jam lagi, rumahku akan didemo warga,
Aku tidak peduli..
Lampu ruang ini juga aku biarkan terus menghitam..
Aku berdiri sambil telanjang, sendirian..
Aku mau rasakan apa itu merdeka,
Aku tidak mau dijajah baju-baju mahalku,
Celana imporku..
Aku biarkan diriku membulat sendirian,
(tanpa berniat untuk menyentuhnya)
Aku mondar - mandir dalam ruang ini,
Sebatang rokok tidak pernah lepas dari selipan jariku..
Dan aku tidak tau dan tidak mau tahu.. Itu rokok yang keberapa yang terselip di jariku..
Setiap kali aku menghisap rokok itu,
Tidak lupa aku keluarkan dari mulutku dan membentuk bulatan-bulatan yang banyak..
Sesekali aku diam tidak bergerak,
Duduk di sudut ruang..
Alunan musik sudah berganti jadi begitu melankolis..
I don't like to sleep alone,stay with me, don't go..
Pelan-pelan lirik itu keluar dari mulut kecilku,
Menghadirkan kisah cinta dalam ruang ini,
Cinta yang pernah ada dulu,
Sebentar...
Dan sekarang sudah pergi,
Pergi lama sekali..

Lamat-lamat aku mendengar, suara bi parti, menyuruhku makan..
Aku biarkan suara itu serak, karena mengalahkan suara tape ku yang mahal itu..
Aku galau.
Aku kacau.
Seperti penari streaptes di cafe-cafe terkemuka,
Aku naik ke atas tempat tidurku, lalu aku melonjak-lonjak di atasnya..
Orang mengira aku kegirangan,meloncat sambil tertawa..
Tapi aku?
Meloncat dengan mata merah dan air mata yang jatuh menetes ke atas kasurku berulang kali...
Setelah puas aku turun,
Aku ambil mukena dan sajadah yang selalu tergeletak di atas meja di sebelah tempat tidurku..
Aku ambil barang itu, aku biarkan terpeluk di dadaku lama sekali,
(Tuhan, mengapa Kau, tidak bisa kupeluk sama seperti aku memeluk sajadah dan mukenah itu??)
Mengapa Kau membiarkan ruang ini dibanjiri air mataku setiap malam..
Mengapa sajadah dan mukenah itu cuma aku liat setiap jam setiap menit dan bahkan setiap detik,
Mengapa tidak juga aku tergerak untuk memakainya dan membiarkan aku hangat di atasNya..
Mengapa barang itu cuma jadi seonggok barang yang tidak ada artinya, dan cuma membuat penuh ruang ini saja..
Dan sekarang, sajadah dan mukenah itu sudah jadi penghuni lemari kaca sialan itu ( dan sampai sekarang pantulan wajah dari seberang kaca itu tidak bosan-bosannya mengejek aku)
Ya Tuhan, aku memang pendosa, tapi jangan biarkan aku jadi seorang pembunuh,
Pembunuh diriku sendiri..
Di tengah ruang yang semakin menyempit ini,
Aku mendengar suara hapeku berbunyi,
Aku liat sekilas,
Layar hapeku bertuliskan sayang memanggil..
Tidak ada niatku sama sekali untuk mengangkat hape itu,
Aku biarkan sampe suaranya melemah dan selesai..
Untuk apa lagi, laki-laki tanpa wajah dan kemaluan itu menghubungiku?
Laki-laki yang tidak bisa disebut laki-laki..
Laki-laki yang menempatkan wanitanya di posisi paling bawah dalam hidupnya,
Aku tidak peduli lagi akan makiannya,(toh,belum tentu aku menemuinya lagi)
Aku perempuan sial,
Yang berdiri di atas ketololanku sendiri,
Masih pantasnya aku disebut wanita?
Aku membiarkan diriku membeku di dalam ruang sempit ini, dan hatiku juga menyempit tidak menyisakan ruang lagi..
Badanku sudah mulai menguning..
Aku masih membiarkan badan ini polos dan kosong, sama seperti otakku saat ini..
Aku masih muda,
Tapi aku kehilangan masa muda,
Karena aku tidak pernah meras muda,
Aku diharapkan untuk selau lebih tua dari usiaku yang masih muda,
Aku melirik jam di dalam ruang ini,
Bentar lagi bedug akan mengeluarkan suaranya,
Sementara aku,
Masih bersahabat dengan rokok menthol di selipan jariku.
(entah, sekarang sudah menthol yang keberapa)
Sepertinya semua uangku aku biarkan terbakar di mulutku..
Aku putus asa Tuhan,
Aku pikir dengan menghukum diriku tak bergerak dari ruang ini, bisa membuat aku bisa berpikir akan proses hidupku selanjutnya,
Apakah aku akan terus begini, menghamba pada makhluk yang dibenci Tuhan?
Atau bersujud mencium kaki ibu dan berlari ke kamar mandi untuk berwudhu..
Tapi aku lemah,
Setan sudah menikahi aku terlalu lama,
Dan dia tidak akan mau menceraikan aku,
Sudah terlanjur cinta katanya..
Terus, bagaimana cara aku untuk mendapatkan surat cerai itu?
Sementara yang putih selalu menghindari aku,
Selalu yang hitam yang tergila-gila padaku..

Aku kembali melihat jam di dinding ruang ini,
Sudah lewat saat buka puasa,
Aku bahkan tidak pernah merasakan puasa dari kecil,
Mamiku takut kalau aku puasa, maka aku akan sakit..
Orang tuaku sudah lama bercerai dengan Tuhan,
Bahkan dia sekarang sudah sama-sama menikah lagi dengan Tuhan juga, tapi Tuhan yang lain dari Tuhanku,
Mamiku kembali pada agama lamanya,
Yang beribadah setiap hari minggu, dan setia dengan tanda salibnya,
Sementara papi,bercinta dengan kepercayaannya yang baru, sangat terlihat dengan betapa papi membeli banyak patung sidartha gautama dan dia letakkan di sekitar rumahnya..

Bayangkan,
Aku sendirian..
Dan aku masih belum bercerai..
Aku ingin sekali dinikahi oleh Tuhanku,
Aku ingin sekali hidup bersamaNya,
Tapi bagaimana mungkin,
Ada mata yang tajam yang melotot ke arahku..
Bahkan aku tidak lagi berani percaya pada diriku sendiri,

Aku memberanikan diri untuk berkaca,
Dan aku sedih melihat mukaku dalam kaca,
Muka dengan mata yang memerah dan dipenuhi air mata,
Muka dengan kulit wajah yang mulai dipenuhi jerawat-jèrawat kecil,
Muka dengan kantong mata yang menghitam,
Dan rambut yang semakin panjang tapi tidak terurus,

Aku tidak lagi merasa kedinginan walaupun masih telanjang,
Aku biarkan langkahku ke arah kamar mandi,
Air kerannya masih menyala,
Aku naik ke atas bak mandiku, dan menceburkan diriku di dalamnya,
Sekarang..
Aku sudah basah kuyub tenggelam dalam air..
Air yang sudah tidak terasa juga dinginnya..
Air yang sudah tercampur dengan air mataku sendiri..
Air yang mudah2an bisa melepaskan segala dosaku..
Apakah aku harus mengakhiri hidupku dengan merendam wajahku sendiri dalam air?
Dan tidak muncul-muncul lagi?
Tapi seperti ada tangan yang menarik aku keluar dari air itu,
Aku ragu,
Antara tangan setan ataukah tangan Tuhan?

Ya Tuhanku,
Aku kembali dengar shalawat nabi itu, setelah sekian puluh Tahun,
Siapa yang mengubah channel radio itu?
Bukannya aku yang menstel radio itu tepat di channel kesukaanku?
Aku keluar dari bak mandi, masih dengan kuyubnya, aku keluar kamar mandi, bergerak ke arah lemari,
Membuka lemari kayu itu,
Dan mengambil satu pasang baju di dalam nya,
Langsung berganti di situ,
Aku bergerak lagi ke arah saklar lampu,
Dan jariku menekan tombol nyala,
Membuat ruang terang..
Lalu, aku mengambil sesuatu lagi di dalam lemari,
Aku pake di kepalaku,
Aku buka lagi lemariku,
Dan aku ambil lagi sajadah dan mukenah dari dalam,
Dan meletakkannya di atas tempat tidur..
Aku masih menangis,
Shalawat masih terdengar,
Tangisku semakin kencang,
Seiring dengan tangan kananku yang meremas habis rokok menthol yang masih banyak dalam bungkusnya,
Aku amankan ke dalm tong sampah..
Aku sapu lantaiku, tepat di depan meja rias,
Aku tidak tahu harus bagaimana dan harus melakukan apa?
Yang jelas,
Baru saja aku gembira bukan main,
Karena aku sudah menerima surat cerai dari setan,
Gugatanku dipenuhi,
Setan itu sudah bukan milikku lagi,
Dan aku juga sudah bukan milikknya lagi..
Aku bahagia,
Aku ga mau talak 1
Aku mau langsung talak 3,
Supaya aku tidak kembali jatuh cinta lagi..

Malam ini, tepat jam 20.00wib,
Aku melihat pintu kamarku terbuka,
Dan ada cahaya terkuak dari sana,
Cahaya yang menerobos masuk ruangku,
Yang menata kembali barang-barang dalam ruang,
Ruang yang tidak lagi sempit,
Melainkan ruang yang melebar, walaupun dari awal, bentuknya sudah begitu.

Aku lebarkan sajadah itu di atas lantai yang sudah aku sapu bersih,
Bayangkan, seumur hidupku ini,baru sekali aku liat ada sajadah yang bercahaya,
Masih menangis, aku pegang sajadah itu, dan tanpa sadar aku menciumnya, menempel air mataku di sana..
Malam mulai bergerak lambat,
Mungkin seiring dengan orang-orang yang mulai menua,
Orang-orang menua tapi belum bertobat seperti aku..
Apa masih ada ruang tobat untuk aku?
Aku pandangi sajadah itu,
Tiba-tiba saja,berkat hidayahnya, aku ambil hapeku dan memencet salah satu nomornya,
" tolong ajari aku sholat.." kataku pendek.
Tidak lama,
Aku sudah berbalut mukena,
Sudah tidak telanjang lagi,
Jiwaku yang telanjang menanti asmaMu ya Tuhanku,
Aku mengikuti arahan sholat dari suara yang berasal dari speakerphone hapeku,
Dan aku mengikuti suara itu,
Dan terus melangkah dan bergerak,,
Ruang ini jadi sejuk, bukan dingin seperti tadi..
Ruang ini jadi berwarna putih,
Lupa dengan yang hitam, sepertinya yang hitam yang sekarang sedang terkunci.
Bahkan ada wajah yang mirip sekali dengan wajahku,
Wajah yang rambutnya dan badannya sudah ditutupi wajah Tuhan,
Dan wajah di seberang kaca itu, tidak mengejek lagi, melainkan sekarang menangis, melihat aku mengiba pada Tuhan, Tuhannya yang sama..
Bahkan kaca juga tahu, kalau aku sudah bertobat..
Di ruang yang sudah tidak sempit ini,
Dan akan aku tutupi aurat ini sampai akupun menutup mataku..
Amin...
Subhanallah...
Maha Besar Allah...


The end
Notes ini untuk temanku yang sekarang selalu menenggelamkan dirinya dalam sholat.

Note by : MERCY SITANGGANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar