Sabtu, 10 April 2010

UNDANGAN


Ada undangan di atas meja, aku raih dengan tanganku, aku baca dengan sedihku, aku duduk karena lutut beranjak lemas. Instingku memberikan pembenaran. Kalau undangan ini kembali bercerita, tentang perempuan yang dilangkahi, untuk kesekian kalinya.
Dan perempuan itu, sekarang menangis meremasi undangan.
Perempuan itu AKU. Dan undangan itu, untuk AKU.
Dari adik yang usianya jauh di bawah angkaku.

Baju masih sama seperti yang aku pakai sedari pagi, bau badanku sudah busuk, keringat lengket membentuk daki. Rambut di kuncir seperti babu, sedangkan sepatu masih setia membungkus kaki.
Tas tangan tergeletak di lantai, isinya berserakan karena resleting lupa dikunci.
Tapi aku tidak peduli. ..!!!

Mataku belum melepas undangan, jari tangan kananku terus meremas, sampai tulisan tidak terbaca lagi, nafasku terus memburu, jari tangan kiriku terus memaksa bibir menyedot candu dari batang demi batang rokokku. Asbak sudah penuh, tidak terasa. Bibir hitam terbakar.
Tapi aku tidak peduli...!!!

Berjalan pelan hampiri cermin. Melihat mata yang sekarang warnanya merah, ada air yang pelan jatuh dari dalam mata, menetesi muka, melunturkan make up, membuang rokok, dan menginjak dengan sebelah kaki.
Undangan sudah pindah ke tangan kiri. Nafas semakin sesak, aroma murka di depan mata, gelap ruang hati menyambut merah. Aku sudah tidak peduli lagi..
Arrrggggggghhhhhhh...
Praaaannggggg....!!!!
Ada darah dalam genggam tangan kananku, serpihan kaca, masih menempel di sana, juga berantakan di lantai kamar.
Tangan yang berdarah mengusap muka, muka yang merah seperti warnanya hati. Mata yang merah terus menangis, undangan lecek dibuang ke lantai, bercampur dengan serpihan kaca, terinjak oleh kakiku.

" Aku tidak akan pernah menikah... selamanya...!!! " mulutku memaksa bicara.

Aku butuh musik.
Musik kematian. Lagu cinta yang sudah mati.
Baju belum diganti, masih sama sedari pagi, aku menari mengikuti irama, terus bergerak, tanpa hati, hanya bergerak saja.
Seperti kesetanan lompat - lompat, teriak - teriak, ketawa terbahak - bahak, berguling di lantai ( yang tentunya tanpa serpihan dan darah ), kuncir rambut sekarang dibuka, masih bergerak dan terus bergerak, menggandeng kursi terus berjoget, irama cinta, yang sudah mati. Mulut mericau segala sumpah. Serapahnya juga ada.. Aku tidak peduli. Tidak akan pernah peduli.

" Aku putuskan untuk sendiri... seumur hidupku... !!! " kataku sambil membiarkan mulut tertawa... lebar sekali..
Sendiri itu artinya LAJANG. lajang yang JALANG. Bukan berati tanpa Lelaki. Hanya tidak bersuami.

Masih berlagu, ketika hape mengeluarkan bunyi.
Sangat dikenal, karena itu nomor rumahku.
" Hallo ... " kataku pelan.
" Sudah terima undangannya ? " suara di seberang bersama nada ketakutannya.
" Sudah.. lantas apa ???!!! " kataku tidak pelan.
" Hanya mengingatkan.. itu tanda... " nadanya masih takut - takut.
" Tanda supaya aku cepet kawiiinnn, begittuuu ??? taaiiikkkk... " suaraku menggelegar
menutup hape, dan melemparnya keluar jendela.

Selesai.
Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang mengganggu hidupku.
Aku pungut undangan itu dari lantai, aku rapikan dengan tangan seperti sedang menggosok pakaian.. merapikan sambil tersenyum.
Aku menghitung waktu dan sejarah. Lantas mengambil kotak dalam lemari, membuka dan membuang isinya. Berantakan di lantai. Ada banyak cincin terlepas dari kotak. Sebanyak undangan yang datang ke atas meja.
Semuanya, cincin pelangkah.
ccuuuiiiihhhh...
Menurut mereka, Gram dan karatnya besar.
Yup. Sama besarnya, seperti Harga diriku yang sekarang sudah terkunci di lemari.
cuuuiiihhhh...

Aku kasih telujuk tengahku sambil membuang muka, ketika ingat suatu ketika, ada saudara sedarah menemuiku malam - malam. Mengetuk pintu, saat mata, sudah tidak mau lagi menerima tamu.
" Selamat malam... " perempuan itu tersenyum. Aku membalas senyum, dan meludah setelahnya.
" Terima ini.. " kata perempuan bertampang monyet itu sambil menyerahkan sebuah kotak kecil.
" Terima kasih.. " jawabku pendek. Seperti biasanya. Tidak usah melankolis, ini sudah biasa. Tangan mengambil kotak, tapi wajah membuang muka.

" Tidak dibuka ?? " katanya lagi penuh basa basi.. cuuiiihh... BASI...!!! Ini bukan kali pertama, aku bahkan lupa, kamu orang yang keberapa.
" Tidakk... Bentuknya masih sama, hanya motifnya yang beda.. tidak terlalu penting.. pulanglah, aku mau tidur. !!" suaraku dibuat parau seperti orang yang belum tidur setahun, mataku dibuat lelah, seperti orang yang bekerja rodi.
" Restui aku... " suara itu masih mencoba menahan. suara penuh permohonan.
Aku diam.
Hanya menggangguk. Lalu menutup pintu. Bosan..!! Begitu terus berulang - ulang, ritual yang sama.

Cincin dia ada di antara cincin yang sekarang jatuh berantakan di lantai. Cincin mahal, kata mereka.
Tapi aku tidak peduli...!!!

Aku cuma mau minum alkohol, merokok satu bungkus dan tidur mengigau.
Bermimpi, membunuh kalian satu demi satu dan mengembalikan cincin pemberian itu, langsung ke tanganmu.
Aku cuma mau telanjang, terlepas dari pakaian yang menghimpit. Beha yang membuat sesak. Kolor yang membuat lembab.
Berkhayal, tidur dengan lelaki bergantian, tanpa harus takut hamil.
Toh, aku tidak butuh cincin untuk sekedar bergelayut manja, memberi vitamin pada bibir, memeluk sambil menghisapi kelaminnya ? Bahkan, demi Tuhan, aku tidak BUTUH undangan. Aku tidak akan pernah mencetak ataupun menyebar undangan, cukup kamu dan aku saja. Ini bukan nikah, hanya KAWIN saja.
Aku cuma mau menulis dari malam sampai ketemu malam lagi.
Berimajinasi tentang prosesi Kawin, tanpa undangan dan cincin. Hanya bertukar kelamin.
Aku cuma mau itu..
Selebihnya... ???
Tapi aku tidak peduli...!!!

Aku sudah tidak tahan lagi.
Rokok... AKU BUTUH ROKOK.. sialaannn... !!!
Gemetaran, aku mengambil sebatang, gemetaran aku menekan korek gas, gemetaran aku menghisapnya. Aku menghisap dengan cepat. Dengan cepat... sama seperti irama jantungku yang berdetak cepat... Tolonnggg...!!!
Aku harus melakukan sesuatu.
Aku berlari ke pintu, menutup banyak pintu dan menguncinya. Aku berlari ke jendela, menutup banyak tirainya rapat. Aku berlari mencari tombol lampu, menekannya bayak tomboldan membiarkan lampu mati. Aku terus berlari, mengunci yang terbuka. Termasuk HATI.

Sambil terus merokok, aku Menghirup aroma hitam yang menempel pada sepi. Pipiku menempel pada dinding yang dingin semacam makam, perlahan tangan yang tanpa rokok ini, mengusap baju dan membiarkan mereka terbuka.Terlepas semuanya. tanpa sehelai benangpun.
Melepas sepatu dan membiarkan kaki juga telanjang, melepas jam tangan, cincin, anting, gelang, kalung. Dan lalu berjalan dalam gelap, perlahan... ke kamar.
Masih merokok.
Meraba dinding, sampai akhirnya, duduk jongkok di sudut ruang. Masih merokok.
Sepi. Rumahku sepi. Hanya deru nafasku. Hampa. Hatiku hampa. Hanya detak jantungku.

Biar, begini saja terus. Kalau perlu sampai tua, sampai keriput semua. Walaupun tidak perawan lagi.
yang penting, aku tidak lagi mendapat undangan.
karena rumahnya kosong.
orangnya sudah mati.



the end.
( katanya, dia akan lajang seumur hidupnya, dan trauma pada undangan )

Story By : Mpok Mercy Sitanggang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar