Sabtu, 03 April 2010

if you want..

Pernahkah anda masuk kedalam komunitas baru? Saya rasa hampir setiap kita pernah masuk ke satu komunitas baru. Ada beberapa orang yang bilang: “ugh males banget kalo harus masuk komunitas baru, kenalan lagi, jadi banyak diem” ada juga yang bilang “Bisa atau ga komunitas baru itu sebaik komunitas yang dulu, mulai dari orang-orangnya, suasananya, nyambung atau tidak kalau berbicara sesuatu dll”. Semua hal itu menjadi ketakutan dan kekhawatiran tersendiri Hal-hal tadi mengisi ruang-ruang dalam pikiran.

Sadar atau tidak sadar pikiran-pikiran tadi mempengaruhi kesan pertama yang akan timbul dalam kita. Biasanya secara tidak sadar kita sedang mulai memberi penilaian kepada orang-orang yang baru pertama kita kenal. Wajar tapi akan fatal jika kesan pertama itu selalu dijadikan patokan untuk menilai seseorang.

Mengapa fatal? Karena begitu tidak bijaknya kita, jika kesan pertama, baru pertama lihat dan tau seseorang sudah bisa menilai sifat, karakter dari orang-orang tersebut. Andaikan benar itu tidak jadi masalah, tapi seandainya salah, secara ga langsung kita sudah bernegative thinking. Tidak ada Patokan khusus bagaimana saat memasuki komunitas yang baru. Bangunlah cara berfikir yang positif bahwa komunitas baru = teman baru. Semakin banyak teman yang kita dapat, semakin memperkaya kita akan sifat dan karakter seseorang, yang akan mengajar kita semakin dewasa dan bijaksana dalam menilai orang. Benar ?? J Selain itu semakin banyak orang yang kita sayangi bahkan menyayangi kita. Lewat orang-orang yang baru kita kenal, mm pembentukan menjadi pribadi yang lebih baik akan kita alamin.

Ada sebuah kisah:

Ada seseorang sebut saja Anyta. Dia pindah dari kota kelahirannya ke kota baru dimana ayahnya bekerja. Pada awalnya Anyta tidak mau ikut ayahnya karena dia akan kehilangan teman-temannya, sahabat-sahabatnya, orang-orang yang dia sayang dan menyanyanginya. Anyta juga berfikir sepertinya saya tidak akan menemukan orang-orang dan komunitas yang lebih baik dari kota kelahiranku (Malang )ini. Namun, apa mau dikata ia harus tetap pindah dari kotanya

Datang dikota barunya, tiap hari Anyta hanya menekuk wajahnya. Karena ia masih belum bisa terima jauh dari kota kelahirannya. Masuklah Anyta disekolah barunya. Berkenalan dengan teman-teman sekelasnya. Minggu-minggu berlalu Anyta masih sendirian, bukan karena teman-teman barunya tidak mau berteman dengannya tapi memamg Anyta lebih memilih untuk sendiri. Beberapa bulan dikota baru (Bandung), merupakan saat-saat yang sulit. Sulit lupa dengan suasana yang ada di Malang dan berbeda dengan Bandung. Bulan-bulan berikutnya mulai ada pencerahan, suasana mulai berubah ketika Anyta bertemu dengan Jane. Jane gadis yang baik, mereka berdua mulai dekat. Jane suka bercerita tentang banyak hal yang dia alami selama hidupnya, walaupun cenderung cerewat, tapi Jane tetap menyenangkan bagi Anyta. Jane juga ikut terlibat disuatu komunitas rohani, dimana dia diajarkan banyak hal. Anyta diajak Jane bergabung disana, pada awalnya Anyta masih lebih banyak diam tapi ia rutin dan rajin mengikuti kegiatan tempat itu. Lama kelamaan ia mulai nyaman dengan orang-orang disana, suasananya juga menyenangkan. Seolah-oalh dia menemukan kembali sesuatu yang hilang dalam dirinya.

Anyta yang asli mulai terlihat dia periang, suka membuat celotehan-celotehan lucu, hal itupun mulai terbawa ke sekolahnya. Anyta si pendiam dan penyendiri telah berubah menjadi Anyta yang riang dan penuh gairah. Tidak ada kesedihan, yang ada adalah rasa bahagia. Dan Ia tidak menyesal ayahnya membawa dia ke kotaBandung. Anyta tidak hanya dekat dengan Jane tapi teman-teman lain dikomunitas itu. Dalam kedekatan Anyta dan Jane ada Mariska yang sudah dekat sebelumnya dengan jane. Hampir semua tentang Jane, mariska mengetahuinya demikian sebaliknya. Pernah suatu hari, Anyta bercerita suatu hal kepada Mariska. Saat itu Mariska tidak meminta Anyta untuk bercerita, namun Mariska tetap mendengarkan. Lama kelamaan Mariska selalu mendapat curhatan dari Anyta. Hal itu tidak masalah bagi Mariska. Namun, Mariska tidak melakukan hal sama terhadap Anyta yaitu bercerita sebaliknya. Hingga pada suatu hari Anyta bertanya : Mariska, kenapa kamu ga pernah cerita ke saya, sama seperti saya cerita ke kamu? Lalu jawabnya: mm, saya harus cerita apa? Sepertinya belum ada yang mau saya ceritakan sama kamu nyt. Lalu Anyta bertanya lagi: Tapi kenapa kamu bisa cerita banyak hal kepada Jane ? lalu jawabnya: karena saat itu memang banyak hal yang perlu saya ceritakan sama Jane. lalu Anyta berkata kalau begitu ceritakanlah semua yang kamu pernah ceritakan sama Jane. Lalu, Mariska menjawab lagi, oh nyt tidak semua hal yang saya ceritakan ke Jane kamu harus tau, karena tiap orang punya takaran dan porsi masing-masing. Setelah mendengar jawaban dari mariska, Anyta cemberut karena kesal. Dia berfikir jika dia cerita banyak hal kepada mariska maka sebaliknyapun demikian.

Kesedihan Anyta hanya beberapa saat aja. Semakin kemari, ia semakin banyak punya teman. Ia pun melakukan hal yang seperti kepada Mariska. Ia mulai bercerita tanpa diminta temannya. Temannya pun melakukan hal yang sama, tapi tidak semua hal diceritakan. Untuk hal-hal yang bersifat pribadi tidak diceritakan kepada Anyta dan ia merasa kecewa. “ Mengapa semua orang tidak mau terbuka kepadaku? Padahal aku sudah terbuka terlebih dahulu kepada mereka”

Jane..ya dia harus kutanya. Dia adalah orang pertama yang menceritakan banyak hal kepadaku. Sebelum Anyta menemui Jane. Ternyata Mariska dan teman-teman yang lain sudah menemui Jane dan mengeluh soal Anyta. Kata mereka : “Kenapa ya Anyta suka memaksa kita untuk cerita kepadanya ttg semua hal? Kalau hal umum ya kami ceritakan tapi adakan hal-hal yang kita tidak mau ceritakan ke dia. Dia emang bercerita hampir semua kehidupannya. Tapi kita ga pernah minta dia untuk cerita”. Saat Anyta menemui Jane. Anyta menceritakan semuanya itu kepada Jane. jane hanya tersenyum dan ia berkata: “ Kepercayaan adalah anugerah” Ia datang tanpa syarat. Tidak karena kita terbuka terlebih dahulu maka hal yang sama akan kita dapat. Kepercayaan juga adalah pilihan. Sama seperti kita memilih percaya sama Tuhan, hal itu bukan karena ada paksaan dari pihak Tuhan tapi karena kita sendiri yang memilih untuk percaya. Selain soal percaya, memang gimana si kamu minta orang umtuk cerita ke kamu?” Anyta menjawab: biasa aja dengan nada ketus. Nah, coba koreksi deh dari diri kamu. Apa begitu cara yang baik meminta sesuatu?” Kamu terkesan memaksa saat meminta orang terbuka sama kamu. Anyta menjawab: tapi ini cara saya meminta! Lagipula dulu waktu dikota malang teman-teman saya biasa-biasa aja dengan saya kaya gini, sepertinya disini ga lebih baik dari kotaku sebelumnya. Jika memang itu cara kamu meminta, berarti orang-orang tadi bisa jadi tidak suka dengan cara bicara kamu yang terkesan memaksa. Menjadi diri sendiri adalah sangat baik. Tapi jangan pernah minta untuk dimengerti oleh orang lain tentang sifatmu tapi cobalah mengerti bagaimana mereka. Itu akan mempermudah kamu mendapatkan siapa yang akan jadi sahabatmu dan jangan pernah membandingkan antara komunitas disini dan disana, karena tiap komunitas dimana kamu ada akan selalu ada perbedaan. Tidak ada yang lebih baik atau jelek, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Satu hal lagi, jangan pernah mengganggap semua orang sama nyt. Masing-masing pribadi adalah unik. Kita diciptakan beda oleh Tuhan.

Lalu, Anyta mulai mempraktekkan apa kata temannya Jane. Lama kelamaan ia mulai bisa melakukannya. Tanpa menjadi orang lain. Ia tetap periang, namun pada situasi tertentu ia akan diam. Ia menjadi lebih bijaksana dalam berkata-kata. Bahkan, ia tidak perlu meminta orang-orang untuk terbuka padanya karena orang-orang disekitarnya langsung terbuka banyak hal kepadanya. Bahkan komunitasnya diberkati lewat kesaksian hidupnya ini J. Anyta menjadi pribadi yang menyenangkan dan hangat bagi Jane, Mariska dan teman-temannya yang lain. Semuanya bermula dari telinga yang mau mendengar sesuatu yang tidak mengenakan yaitu teguran dari temannya namun diterima dengan kedewasaan dan dilakukan dengan kerendahan hati.

Guys..

Apa yang bisa diambil dari cerita ini?

Komunitas yang baru bisa dipakai Tuhan untuk lebih mengenal siapa kita lebih lagi, belajar mengerti orang lain bukan dimengerti. Ketika keadaan baru tidak begitu menyenangkan bagi kita cobalah untuk tidak mengambil pilihan untuk bersungut-sungut, menyalahkan orang lain apalagi mulai membandingkannya dengan komunitas asalmu. Ingat tiap tempat punya lebih dan kurangnya, tapi pilihlah untuk mendengar teguran dan koreksi diri. Dan ingat kepercayaan adalah anugerah dan juga pilihan. Kepercayaan tidak bisa datang tiba-tiba karena kita melakukan syarat.Tapi kepercayaan akan datang berjalan waktu Bersyukurlah jika banyak orang yang mempercayakan banyak hal padamu, Namun jika belum, Koreksi diri dan berubah ke yang lebih baik.

So, jangan pernah takut masuk kedalam komunitas yang baru. Akan ada banyak hal yang kamu alami yang pasti akan membawamu menjadi pribadi yang lebih baik If you want

by. Christine Natalia AritoNang

1 komentar: