Senin, 05 April 2010

PUTRI KESAYANGAN..

Cahaya matahari pagi sinarnya menyerang ruang kamarku. memaksa aku lepas dari selimut tebal, dan meloncat turun. jam weker terkapar di lantai ( pasti jatuh akibat pukulan tangan tidak sadarku ). Aku baru saja mau mandi, selepas mengambil handuk yang terlipat di atas kursi, ketika aku mendengar bunyi suara renyah, seorang anak perempuan dari balik jendela kamar. ehmm.. ada seorang putri cantik sedang menyirami tanaman. putri yang tidak hanya penyanyang binatang, tapi juga tanaman.
Lihat, tanaman itu mulai tergelak karena basah dan kembali segar. Senyum putri cantik itu, selalu sama setiap hari. hei... dia melihat aku dari luar, tengadah sambil tersenyum menyapa aku dan lambaian tangannya seperti isyarat supaya segera lekas turun ( tidak sabaran untuk segera turun, memeluk dan mencium keningnya ). Baru saja kakiku mau melangkah meninggalkan pandang ini, tetapi mengapa ada getir yang mengaliri kerongkonganku dan ada yang tercekat di relung sudut dadaku. Aku tidak tahu apa arti rasa ini ? mudah – mudahan bukan yang bernama iba. Melainkan kata CINTA, iyaa.. aku lebih menghargai kedatangan cinta yang turut suka cita menghibur kami khususnya putri kesayanganku itu. Aku laki - laki. kata orang pantang untuk menangis. tapi pagi ini, aku buka ritual hari dengan membiarkan air itu turun dari mata, terus ke pipi. basah. Aku laki - laki. tapi tidak takut dicap cengeng. paling tidak oleh cermin yang ada di depanku ini. cermin yang lelah menampung seluruh curhatku. tentang cerita hidup. terutama putri kesayangan.

Masih melihat diri sendiri dalam kaca dengan mata yang semakin merah. dari dalam kaca itu, aku melihat gerak lincah seorang perempuan, yang sepertinya lupa akan sedih yang kerap menghampiri dan menempeli hidupnya sampai sekarang.
Aku sebenarnya tidak pernah mau menangis setiap kali aku melihat dia. Tapi getaran rongga jiwa ini, seperti tidak mau kompromi, selalu merasa terluka dan ikut dilukai. dan aku berjanji, hanya menangis di kamar mandi. dan langsung ketawa lagi, kalau aku bertemu putri.
janji.
tidak akan pernah menangis di depannya.
masih di depan kaca, aku kembali terlempar pada ingatan bertahun - tahun yang lalu. ketika putri baru saja lahir. aku kecil bahagia. semua bahagia. tidak ada yang tidak bahagia. semua sujud mengucap syukur atas sebuah anugerah " lagi " yang Tuhan beri untuk kita.
tapi.. aku kecil yang masih belum banyak mengerti persoalan hidup itu, melihat ada yang aneh pada si bayi putri itu, badannya terlalu kecil, sama seperti botol minuman yang selalu aku bawa pergi kemana - mana. badan kecil yang diselimuti selang. selang yang banyak. aku bergidik ketakutan. lelaki itu membisiki aku kecil yang matanya menatap bingung ke arah inkubator.
" itu namanya prematur.." lelaki itu menjelaskan.
aku mengangguk. walau dulu tidak mengerti artinya. aku kecil memang masih berumur 5 tahun, tapi semuanya seperti terekam rapi dalam memori ingatanku ini. Bahkan aku kecil masih ingat ketika dokter itu berkata demikian,
" bayi ini tidak akan berumur lama.. " kata dokter dengan air muka kesedihan.
kenapa dia memberi keputusan duluan dari pada si pemberi nafas itu ?
sekali lagi, aku kecil tidak mengerti, tapi aku kecil membiarkan aku tenggelam dalam doa, yang kata - katanya masih berantakan ini.
ada lagi keanehan itu.
" hidung putri kenapa ? " aku kecil bertanya. tapi bukan jawaban yang aku kecil dapat, melainkan sebuah telunjuk yang ditempel di depan mulut. aku kecil tidak tau apa artinya, dan kenapa harus berbuat demikian ? aku hanya mau bertanya tentang keanehan ini. apakah maksudnya ini rahasia ?
" husssttt... hidung putri digigit nyamuk " suara lelaki itu berbisik.

jangan salahkan aku kecil ketika aku kecil bukannya diam. melainkan berlari ke perempuan yang melahirkan itu dan mengatakan yang aku kecil lihat.
" hidung putri benjol digigit nyamuk .. kasihan.. " kataku sambil teriak. Perempuan itu melonjak kaget dan berteriak.
" tolong panggilkan suster. aku mau lihat anakku .." katanya sambil teriak kencang. kencang sekali.
suster itu datang dan memperlihatkan si putri, perempuan itu berteriak lebih kencang lagi dari yang barusan. teriakan yang dicampur tangisan. bahkan perempuan itu habis memukuli lelakinya. aku kecil ketakutan sambil sembunyi di balik bantal kursi, yang bentuknya agak besar. aku kecil bingung, melihat perempuan dan lelaki itu sekarang saling berpelukan, menangis sambil mengarahkan pandang ke bayi putri itu.
ada 2 benjolan besar pada hidung, yang satu lembek dan yang lain keras. di deket bibir juga ada 2 benjolan yang sama.tapi kecil tidak besar ( dan sekarang ketika putri sudah besar, benjolan yang kecil itu, sudah hilang).

aku kecil tidak mengerti. tidak mengerti mengapa ada benjolan pada si hidung putri. itu apa ? penyakit ? kenapa beda dengan hidung aku kecil ?

sampai akhirnya putri dibawa pulang. semuanya mengasihani. tanpa terkecuali.

aku masih memandang cermin di dalam kamar mandi. belum mau mandi. karena ada ingatan yang membuat resah nuansa pagi. ingatan tentang si putri. putri kesayanganku.
sekarang, putri yang dulu bayi kecil prematur itu ( yang akhirnya aku tahu juga artinya. prematur alias lahir sebelum waktunya ) sudah besar. sudah SMA kelas dua. badan yang dulu kecil,sekarang membesar, melebihi aku.
putri itu tumbuh normal, walau dalam fisik yang kurang normal.
aku mencintainya. aku tidak peduli pada kata - kata dalam bisikan yang keluar dari mulut orang yang seliweran di mall - mall, di jalan - jalan. semakin sering mereka berbisik seperti itu. semakin kencang dan kuat pegangan tangan dan pelukanku pada puteri.
Putri tidak pernah sendiri.
Putri selalu dikelilingi oleh teman - teman yang juga mencintainya.khususnya anak - anak kecil.
dia memang bukan hanya seorang perempuan. tapi juga puteri.

setelah bertahun - tahun terkunci. akhirnya cerita itu terbuka juga.
perempuan si empunya putri bercerita. kalau dia sbenarnya sempat tidak menginginkan kehadiran putri ke dunia. dia coba semua senjata, hanya untuk menghalangi kedatangan putri, segala jamu - jamuan.
tapi, Tuhan memang sayang pada putri. dan putri juga memang ditakdirkan menghirup udara dunia, dan jadi bagian dari keluarga, yang dulu mengharamkan dia.
" kenapa ? " aku bertanya kala itu. bertanya sambil menangis.
perempuan di depanku tidak kalah hebatnya menangis. terpaksa. harus dilakukan.
" kemiskinan yang memaksa.. tidak bisa berbuat apa - apa. tapi putri terlalu mencintaiku.. dia lahir juga, walaupun tidak normal.. aku janji, akan mencintai, memelihara, merawat putri dengan segenap hatiku.." lantas kami berdua berpelukan, kalau putri ada, pasti dia mau ikutan juga.

semakin jelas wajah putri kesayangan di dalam kaca kamar mandiku.
tidak ada yang berubah, selain kelainan di wajahnya saja. untung saja dia pede. sangat pede. dia putri kesayangan yang baik, manis, penurut, dan berbudi luhur. bahkan, dia terlalu sempurna untuk menjadi kesayangan.
suatu kali aku bertanya tentang masa depan.
" putri cantik, cita - cita kamu apa ? " aku melihat matanya yang mulai bicara dan bergerak mencari jawaban. aku menunggu jawaban itu. aku ingin sekali tahu, apa yang terlintas di dalam benaknya.
" aku hanya mau berjualan. cuma mau punya warung kecil. itu saja " suaranya bergetar.
aku tidak bisa berkata apa - apa lagi. cuma bisa menarik putri masuk ke dalam pelukanku. putri kesayangan dengan doanya yang sederhana.
****
semakin besar, putri semakin tumbuh dewasa. minder jadi persoalan utama dalam hidupnya. apalagi kalau sudah bicara soal " lelaki ". natural sekali gerakan hati ini. tidak mengenal normal atau tidak normal. karna berjalannya lewat hati. tidak bisa ditebak.
pernah putri mogok meneruskan sekolahnya. tapi aku tidak pernah jenuh memberi semangat yang ditopang cinta.
aku tahu, dia bercermin padaku. oleh karenanya, aku tampil sepede mungkin di depannya. aku adalah contoh. dia melihat aku dan berlaku yang sama, seperti aku. aku adalah cerminnya. semuanya berhasil..!! putri aktif. semua kegiatan dilahap habis. pramuka & tari jadi agenda wajib. Belum lagi, kalau upacara bendera, dia yang jadi dirigennya, kolaborasi tangan dengan suara emasnya.
suara putri bagus masuk ke sukma ketika bernyanyi, sekali lagi dia meniru jejakku. aku senang. aku bahagia kalau putri bahagia.
" siapa pacar kamu ? " kataku suatu saat. Pertanyaan yang kerap membuat merah muka putri.
" akh.. siapa yang mau denganku, jangan mengejek.. !! " katanya pelan.
kalau sudah begitu, aku hampiri si pemilik wajah, berdiri di depannya, mengangkat wajahnya dengan tanganku, melihat matanya dan tersenyum. aku ajak dia berdiri bersamaku ke depan cermin. cermin di ruang tengah. walaupun umurnya sudah tua, tapi masih jujur dalam menilai orang. sekarang, kami berdua, sudah berdiri di depan cermin.
" jangan bicara seperti itu. lihat.. kamu manis, tinggi dan badan kamu proporsional, apalagi suara kamu bagus.. " kataku sambil kita berdua melihat ke dalam cermin.
putri melihat wajahnya sambil menangis.
entah tangisan apa, tapi yang jelas, aku selalu mengulangi kata - kata tersebut, supaya putri tidak merasa " berbeda " dengan perempuan yang lainnya di luar sana.
banyak perempuan cantik. Tapi, putri hanya ada satu. Kamu..

***
kembali lagi aku pada cermin di dalam kamar mandiku ini, aku menengok jam. astaga, sudah lewat jam 7 pagi. Tapi, kenapa langkah untuk mandi terasa berat. cerita belum selesai. dada masih sesak.
aku kembali membasuh muka dengan air dari keran wastafel bawah kaca. membasuh yang sambil berdoa.
aku ingin sekali bisa mengoperasi hidung putri. tapi jumlah di dalam kertas, yang pernah aku baca, membuat harapan itu jadi semakin berjalan jauh.. jauh meniinggalkan aku, bahkan sekarang, harapan itu pergi sambil berlari.
( aku menahan nafas, mengingat sebuah cerita, masih tentang mimpi dan harapan )
akhirnya, ada yang mau membantu membiayai operasi. tadinya ada penolakan, tapi, akhirnya, kita semua duduk manis, diam menunggu dokter ke luar memberi tahukan hasilnya.
bergejolak rasa dalam hatiku. menantikan wajah di putri.
Ternyata, mimpiku belum selesai, wajah itu belum sempurna, walaupun hanya tinggal satu benjolan. tapi masih butuh banyak biaya lagi. sementara " pertolongan " itu pergi diam - diam tidak mau peduli apalagi tanggung jawab.
" udah yaa.. aku sudah tidak ada apa - apanya lagi. plis jangan hubungi aku lagi.. " shiit.. kenapa selalu orang miskin yang harus mendengar kata - kata rendah seperti itu. Walaupun begitu, aku tetap berterima kasih.

air mataku berulang kali keluar mengingat semua kejadian dan semua perlakuan.
perlahan aku sadar kalau waktu semakin berjalan kencang. aku masuk ke dalam kamar mandi. terjun ke dalam bathup dan menenggelamkan tubuhku di sana. ada wewangian segar yang sudah aku campur, wangi yang pastinya mencipta aroma kesegaran.
sambil merendam, aku kembali teringat ucapan putri.
" apakah aku bukan kandung ? "
semua kaget. termasuk aku. apalagi perempuan yang sudah melepas dia dari rahimnya.
" kenapa bicara seperti itu ? " perempuan itu lepas bertanya.
" karna aku beda. beda dengan saudara sedarah yang lain. mereka putih. wajah mulus. Sementara aku ? rambut bergelombang, wajah tidak mulus.. " ada kesedihan mendalam dari aroma suara itu.
semua memeluk putri terutama perempuan yang sudah tua dan pinggir matanya yang penuh kerutan itu, " enak aja. kalian semua lahir dari rahim yang sama. tidak ada yang berbeda. hanya beragam. warna kulit tidak bisa jadi patokan cinta. cinta aku sama kalian. terutama kamu sayang.. " dan pelukan itu langsung terjadi tanpa komando. aku juga memaksa masuk dalam pelukan.

aku masih tenggelam dalam air di bathup. tenggelam dalam asa yang terus diperjuangkan. aku harus maju. suksesku nantinya untuk mereka. putri kesayangan.
aku harus bisa jadi MC yang terkenal, menggeser indra bekti atau ruben onsu, bahkan olga syahputra.. kalau perlu.
aku tersenyum sambil menggosok - gosok badanku dengan sabun cair. makanya, aku bangga jadi " banci casting ", karena semuanya berawal dari situ. Tidak ada yang sukses, seperti mengedip dan membuka matanya langsung.
aku lantas tertawa mengingat suatu kisah di suatu waktu. obrolan antara aku dan putri kesayanganku.
" aku bangga .. " katanya pelan sambil melihat aku. aku yang sedang berdiri, sambil mematut diri di cermin, memilih pakaian yang akan aku kenakan untuk show nanti siang. putri duduk di kursi depanku, sambil terus matanya tidak terpenjam melihat aku.
" bangga ? sama siapa ? " tanyaku, sambil menoleh ke arah dia.
putri tidak menjawab, hanya diwakili oleh jari telunjuknya ke arahku. aku tertawa. keras sekali.
" aku cerita sama teman - teman.. kamu sering ketemu artis.." katanya lagi, sekarang aku lihat, tatapannya mulai menerawang, " kalau nanti kamu ngetop, plis ajak aku ketemu mereka.. aku cuma mau berteman.. mereka mau kan berteman dengan aku ? " aku tidak menjawab, hanya lari menghampiri dan memeluknya. mencium anak - anak rambutnya. berbisik pelan di telinga kanannya, " pasti.. kamu akan berteman dengan semua artis.. aku janji " sambil terus memeluk dan mencium.
putri menangis, tampak wajahnya bahagia.
dalam pelukannya, aku tidak gugup karna janjiku itu. itu semua, karena aku yakin. suatu saat nanti, aku pasti sukses.

tidak ada hal yang terpenting di dalam hidupku saat ini, kecuali melihat putri kesayanganku bahagia. bahagia di tengah yang tidak sama. Perempuan yang mengeluarkan kami bertiga dari rahimnya itu, perempuan yang bernama Mama. Kepadanya juga, segala penghormatan dan cinta aku torehkan. Surga itu ada di telapak kakimu mama, pliss... restui aku denga segala asaku. Mama menatap sayang pada kami bertiga. Lelaki yang bernama papa itu juga sama. Memeluk mama, melihat kami bertiga.
anak - anak mereka.
aku anak pertama
lita anak kedua
dan putri kesayanganku itu anak terakhir alias bungsu.

karena cita - citaku itu juga, aku rela pergi dari mereka. orang - orang yang aku sayangi ini. pergi ke Jakarta, mengejar mimpi. dan selalu jadi kebanggaan sang putri.

terlena dalam lamunanku, aku jadi lupa kalau sudah terlalu lama berendam. aku tidak mau keluar dari bak, dengan kulit yang sudah keriting dan keriput semuanya. aku keluar, mengeringkan tubuhku dengan handuk manis, warna biru ( pemberian putri ketika ulang tahunku ). Setelah itu, aku memakai baju rapi kesayanganku ( yang aku anggap bertahun - tahun, sebagai baju " keramat " ) entah kenapa, setiap kali aku memakai baju ini, aku sepertinya, terlahir jadi lelaki paling berutung di dunia.
aku menunduk memakai sepatu yang bertali.
kembali berkaca, merapikan semuanya.
mengeret tas yang sudah rapi dari semalam.
membereskan tempat tidur, sekedar meringankan pekerjaan mama dan adik - adik.
sebelum keluar, aku masih sempat menyisir pandang ke dalam ruangan kamarku ini. kamar yang pastinya akan selalu dirindu..selamanya. walaupun badan ini pasti akan kembali. paling tidak, untuk beberapa lama, kamu akan jadi ruang tidur kosong dan gelap. Tapi plis, biarkan kamu tetap jadi tempat yang paling nyaman sedunia, ketika aku kembali buka ruang ini.
ku tutup pintu kamar, dan mulai menarik nafas. berat sekali. tapi apa boleh buat. ini yang terbaik.

aku turun tangga. langsung bertemu meja makan. mereka sudah lengkap menyambutku.
aku duduk di samping puteri, makan pagi bersama.
" nasi goreng ini buatanku sendiri.. " kata putri sambil menyendokkan nasi ke piringku. aku sambut nasi itu langsung dengan sendokku, dan memejamkan mata, menikmati rasa yang bermain dari dalam lidahku.
" ehhmmm... lezattt sekali. aku akan sangat merindui rasa ini nantinya " kataku pelan, sambil menggenggam tangan putri yang menempel di atas meja.
putri diam. tapi tangannya membalas menggenggam. ada kekuatan dalam genggaman, apakah itu usaha untuk menyuruh untuk tidak pergi ?

Selesai makan, aku kembali membawa tasku ke luar.taksi warna biru dengan gambar burung di atas kapnya, sudah menunggu aku, supirnya keluar dan membantu memasukkan tasku ke dalam bagasi mobil. aku lantas kembali lagi, untuk mengucapkan selamat tinggal.
pertama pada mama. Aku cium tangannya, aku peluk dia, aku tinggalkan air mata di bajunya. aku minta doanya. mama mengikat badanku dalam badannya. tidak lama, papa datang merebut aku dari peluk mama, dan menghempaskan tubuhnya ke tubuhku. mengacak rambutku.
" selamat berjuang nak, papa tidak akan pernah berhentin berdoa " aku tidak kuasa untuk tidak memeluk lelaki itu lagi. kali ini, pelukannya lebih kuat. entah kenapa, mungkin ada sedikit ketakutan untuk " pergi " karena, selama ini, selalu ada tangan kokoh papa dan tangan lembut mama, memegangku ketika aku mulai goyang.
tapi, mulai detik ini, hanya ada dua tanganku, untuk menopang hidupku.
memeluk lita, adik keduaku.. membisikinya suatu kata, yang intinya, minta tolong untuk menjagai mama dan papa, juga putri kesayanganku. lita mengangguk, cuek saja tidak berkesan, tapi mata lita tetap merah dan wajahnya basah air mata.
terakhir.
aku melihat putri kesayangan. duduk sendiri di kursi teras. menunduk. pasti menangis. aku jongkok di depannya. mengambil mukanya yag ditutupi rambutnya yang panjang. putri melihat aku. memandang mataku dengan matanya. mata yang penuh kehilangan. aku bisa mengerti. aku memang teramat mencintainya.
" plis jangan pergi kak.. " katanya pelan, nyaris tidak terdengar.
" katamu aku harus terkenal. katamu aku harus bisa kenal artis - artis, supaya nanti bisa aku kenalin ke kamu, untuk jadi temanmu.. kamu lupa ? " tanyaku, mengambil mukanya yang menunduk di depan mukaku.
dia menggeleng.
aku tersenyum, aku bahagia.
aku ajak dia untuk berdiri.
" aku janji.. aku akan cari uang yang banyak.. aku akan bikin kamu semakin cantik lagi.. janji " kataku lagi, menggenggam tangannya.
" kak.. kalau sudah sukses. kakak langsung pulang yah.. aku cuma butuh kakak, kalaupun kita tidak punya uang untuk mengobati mukaku. aku sudah bahagia, kalau aku bisa hidup dengan kakak.. " putri berkata, sambil terbata - bata, karna ucapannya bercampur tangis.
" kakak.. jangan pernah lupain aku yaa... adikmu yang jelek ini.. " katanya lagi sambil berderai.
" kakak, cuma pergi sebentar putri. setelah itu, aku akan pulang... hapus air matamu.." sekarang, aku malah jadi menangis.
" dari kecil aku tidak pernah berpisah denganmu kak.. hanya kamu yang selalu jadi penopangku.. teman, sahabatku.. aku pasti sangat kehilanganmu.. siapa lagi temanku ? " putri itu teriak lagi, kuat menari tanganku.
" kita cuma berjarak putri. tidak berpisah secara utuh. setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik, suara kita tetap akan saling terdengar.. plis, aku butuh doaku dalam gerak jalanku saat ini.. semoga semua mimpi kita terwujud.. dengar sayang ( mengambil lagi muka putri dan diarahkan untuk memandangi aku ) kakak.. pergi merantau, hanya untuk kamu.. cuma kamu, putri kesayanganku.. "
setelah kata itu. kita kembali berpelukan.
dan jari jemari ku sedikit demi sedikit terlepas dari jemari putri yang tadi terikat.
aku masuk ke dalam taksi. membuka kacanya. melihat mereka lagi, terutama " putri kesayangan " tersenyum dan melambaikan tangan. mereka juga melakukan hal yang sama. putri juga, walaupun dari belakang sana, tidak maju ke depan.
taksi semakin berjalan kencang meninggalkan pagar rumah, tangan kokoh papa, surganya mama, cueknya lita, dan yang pastinya " manjanya " putri. Untuk sementara waktu, aku akan kehilangan semuanya..
" ke bandara ya pak.. " kataku dan melihat ke depan. tidak mau melihat ke belakang lagi.
" mau kemana mas ? " tanya supir.
" jakarta.. " kataku pendek.
supir itu mulai menarik gas, dan aku merasakan tubuh yang terbawa semakin jauh dari rumah, tapi semakin dekat dengan perjuangan. perjuangan menjadi MC terkenal di jakarta.
" jakarta... aku datang.. " kataku pelan.
dan aku mulai memejamkan mata.
tidur.
dan bermimpi, sudah sampai jakarta.
the end
( untuk seorang kawan, yang sampai sekarang, masih terus berjuang, untuk harapan dan cita - citanya... banyak doa yang keluar mengalir deras dari mulutku, seorang sabahat... sampaikan salamku untuk putri kesayanganmu itu.... semoga SUKSES Brooo.... amin )


Story By : Mpok Mercy Sitanggang

1 komentar: