Monday, April 19, 2010

HANYA SEPERTI PUTERI

Aku berdiri di balkon, dengan setelan gaun panjang dan belahan samping nan seksi, tidak ubahnya seperti seorang puteri di sebuah kerajaan. Rambut panjang yang sengaja dibuat terurai, semakin menambah kesempurnaan cantikku. Dengan segelas anggur yang terjepit di tangan, aku berdiri sendiri, mengajak bicara angin yang gerakannya malam ini, berhasil membuatku bergidik, apalagi mendengar bulan yang menembang di tengah pekat malam. Tembang cinta, katanya, “ Hanya buat puteri.. “ bulan mengerling manja. Ehmm.. aku tersanjung.

Aku masih berdiri di balkon, ditemani segenap sukacita keluarga malam, beberapa kali aku mencoba alihkan pandang pada pintu yang tidak juga bergerak membuka. Masih sama, diam. Seperti aku. Sedangkan tembangnya sudah selesai.

Aku sudah tidak berdiri lagi. Bosan menunggu, aku berjalan pelan ke arah meja bulat, dan meletakkan gelasku di sana, yang lalu melangkah ketengah dan mulai mengikuti irama malam dengan gerakku, semakin bergerak badan, tangan dan kakiku. Tidak pakai tembang sungguhan mengiringi, hanya hembusan angin selaksa irigan lagu, dari denting piano, seorang pria dengan balutan jas hitam serta dasi kupu – kupunya, jari jari lentiknya mulai bermain di ata tuts – tuts piano, membakar gairah malamku pada gerakan – gerakan gemulai. Lelaki dibalik pianonya juga ikut bergerak. aku bergerak bersamanya. Sambil bergerak, terus mencuri pandang ke pintu. Tapi, pintu itu belum terbuka juga, jangankan membuka, bergerak pun tidak. Apalagi bersuara ketukan. Aku tidak peduli lagi, aku sudah terlalu bergairah pada irama sukanya malam, aku menghiasi riuh rendah hati yang kecewa dengan terus tersenyum, tertawa dan memainkan langkah – langkah kaki dalam gerakan penuh aroma. Aku sungguh mencintai diriku sendiri.

Badan ini sudah mulai berkeringat, tapi pintu itu belum juga terbuka. Aku berhenti bergerak, dan berjalan lunglai ke dekat pegangan balkon, menempelkan pipiku ke dinding, dinding yang dingin dan mulai menghayal tentang sesuatu.

Seorang lelaki dengan badan yang tinggi, proporsional dengan berat yang memadai, layak untuk dinamai yang indah, datang dan menghiasi malamku dengan harum tubuhku. Aku terperdaya, tidak mampu untuk melihat pandangku ke belakang, aroma yang semakin menusuk. Memaku kaki dan mataku, tidak berani melihat ke belakang, tapi terpaku pandangku ke depan. Aku tidak lagi bisa mengingat apapun juga, selain, ingatan akan sepasang tangan yang kokoh yang perlahan menggeliat manja di sekitar pinggangku, mulai bermain di sana, menempel bagai anak kecil yang manja, dan mulai memberi belaian, mencipta pejaman pada bola mataku, semakin mengecil dan mengecil dan akhirnya mata itu tidak nampak lagi, yang ada hanya sebuah perasaan, permainan rasa yang dimulai dari… sekarang..!!

Sepasang tangan itu tidak nakal, tapi justru penuh dengan godaan, aku tidak bisa tidak menerima sentuhannya, aku biarkan tangan itu jalang. Aku diam saja, hanya dadaku yang mulai bergejolak, lompat – lompat. Jantungku mulai berteriak, dari teriakan kecil tertahan sampai teriakan kencang, apalagi ketika tangan itu mulai bergerak ke atas, mencapai puncak nakalnya dan puncak nikmatku. Mata ini masih terpejam, tapi hati ini terbuka dan berjaga.

Aku masih membelakangi sepasang tangan bersama dengan gerakan – gerakannya, membuat aku ingin sekali kembali meliuk bersama irama malam, irama yang sesungguhnya, bukan cuma sekedar, irama buatan hati. Sekarang kulit itu sudah saling menyentuh. Ada getaran menarik sampai ke kepala, ubun – ubun yang melayang ke udara, membuat sesak dadaku menerima getaran ini.

Aku tidak kuat. Tapi aku harus terus bertahan, jangan sampai kenikmatan ini pergi dengan perasaan kecewa. Aku biarkan sepasang tangan dan kepala yang sekarang mulai juga ikut – ikutan, kerjasama yang teramat baik antara sepasang tangan dan mulut. Bibir yang mulai mencari dan tertempel pada leher belakang, rambut yang menyingkir seperti tahu diri. Bibir yang mulai bergerak, ikutan menari di sana, menyisakan merah, “ souvenir… “ katanya.

Kepalaku bergerak ke kiri dan kanan, badanku juga, meliuk – liuk, dan hebatnya lagi, kepala, badan, kakinya juga bergerak sama, sementara sepasang tangannya sudah terkunci di perutku. Agin, sangat membantu dengan hembusannya yang tidak terlalu kencang tapi sanggup mengajak bulu kuduk ikut menari bersama.

Ada irama di dekat telinga, irama yang menyisakan bahagia, karena kata yang mulai terucap, menancap mesra di sana. telinga mulai berwarna merah, mukanya merona, ketika bibir menempel di sana membawa kata, kata yang terbawa pergi, bersama udara malam yang mendingin. Aneh.. walau dingin, aku merasa kepanasan. Dia pun merasakan hal yang sama, terbukti dengan keringat – keringat yang mulai terlihat.

Leher yang basah. Bukan hanya leher, sekarang jadi semuanya.

Mulutku mulai meracau, entah mengucap kata apa, tapi lelaki itu seperti mendengar dan balas meracau dengan kata yang nyaris sama, artinya, kata yang hanya kita yang tahu, teramat rahasia, karena hanya itu senjata semata. Kata yang selalu jadi juru kunci, aku merindukan kata itu. Dan kata ternyata memilikik kerinduan yang sama. Aku bahagia, bahkan kata bisa merindu, apalagi manusia. Kata terlalu jujur, kalau manusia selalu mengumbar kata, hanya supaya bisa saling menari berdua, dengan gelisah dan bahagia yang sama. Percis seperti yang terjadi malam ini.

Suatu adegan pasti ada puncaknya. Ketika sepasang tangan itu, mengambil badanku, dan kemudian membuatnya menjadi terbalik sekarang. Kamu ada di depan aku, tampak nyata sekali, sepasang tangan yang masih mengunci sepasang tanganku di dalam tangannya. Badan yang mulai bergerak maju menemui badanku, dan meminta badanku menerimanya, akhirnya., sepasang tangan itu terlepas kuncinya dan bahkan sekarang jadi mengunci di belakang badanku.

Tubuh itu sekarang menjadi satu, bersama deru gerakan nafas, yang namanya sama, kepalaku yang mulai betah bermain di dadanya. Walaupun tidak telanjang, tapi masih berbaju. Tembus sampai ke dalam, percayalah padaku, tidak ada yang bisa menggantikan kekuatan rasa, yang aku rasakan sekarang.

Wajah itu sekarang jadi satu dengan wajahku, bibirnya sekarang masuk ke dalam bibirku, mulai menari bersama di dalamnya. Iramanya masih sama, masih dibantu irama angin dan nuansa hati yang penuh gambar pelangi, pelangi yang bergambar cinta.

Semuanya gelap buatku, aku tidak melihat yang terang dari mataku. Semuanya masih gelap, tapi masih tetap terasa, karena gerakannya belum berhenti. Aku tidak mau berhenti. Jangan..!!!

“ Aku tidak mau, kamu berhenti sekarang. Belum ada perintah untuk menyelesaikan babak ini. Belum selesai, malah baru akan dimulai..” aku berteriak.

Aku yakin, kamu setujuh dengan aku.

Karena kamu juga tidak berhenti bergerak, masih sama gerakannya. Keringatnya juga masih sama, bahkan dingin malam, sudah tidak terasa lagi, hawa yang keluar menjadi hawa yang sangat tidak dikenal, tapi rasanya sungguh luar biasa. Aku jadi merasa yakin, mengapa lelaki dan perempuan perlu sekali bersatu, supaya merasakan energi yang seperti ini.

Seperti sebuah kekuatan baru dari senjata yang sampai sekarang, namanya belum berubah. Kekuatan cinta.

Atau malah nafsu.

Aku tidak peduli namanya apa, yang jelas, akibat gerakan – gerakan itu, sampai detik ini, aku masih ingat, harum nafasnya di dalam nafasku, dan bisa merasakan, hangat badannya yang menempel. Belum lagi ditambah bumbu kata – kata. Entah kenapa, banyak manusia yang tidak peduli ini yangluar biasa ini, dan memilih untuk tetap sendirian.

Aku tidak kuat lagi menahan rasa yang jadi sangat menggila ini, gerakannya menjadi tidak terkendali sama sekali, saling mencengkeram, saling memeluk, dan saling berpindah tangan dan mulut. Bertukar pandang, tajam menusuk, tanpa harus melepas busana, tapi sanggup membunuh lewat mata, dan berlari tanpa berhenti, berputar – putar terus sampai pusing dan harus jatuh bersama.

Selesai.

Aku tertidur di lantai dengan lelaki menindih di atasku, bibir yang masih dekat dengan telinga, bibir yang mulai bergerak, dan terasa betul seperti mulai untuk merangkai kata. Jantung mulai berdetakan tidak beraturan.

Kata yang akhirnya sampai di telinga, kata yang seumur hidup aku nantikan, dan malam ini, aku mau dengar itu di telingaku. Pasti akan kudengar malam ini, keluar dari mulut pangeranku.

“ will u marry me ??

Dan aku tidak menjawabnya. Hanya terpaku, dan mencari bibirnya, lalu mulai menjawab dengan ricauku di dalam bibirnya. Tidak jelas katanya, tapi jelas betul maksudku.

Aku berdiri di balkon, dengan gaun panjang dan belahan samping nan seksi, tidak ubahnya seperti seorang puteri di sebuah kerajaan. Rambut panjang yang terurai, semakin menambah kesempurnaan cantikku. Dengan gelas yang tidak lagi terjepit di tangan, tapi sudah berantakan pecah di lantai. Aku berdiri sendiri, mengajak bicara angin yang gerakannya malam ini, berhasil membuatku bergidik, apalagi mendengar bulan yang menembang di tengah pekat malam. Pandangku, masih ke dalam, ke arah pintu yang belum bergerak sama sekali. Muka dengan riasan meriah ini, sekarang sudah pudar bentuknya, apalagi sudah bercampur dengan air mata.

Aku masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon, menguncinya dan bahkan tidak memberi kesempatan pada angin untuk turut msuk juga ke dalam. Apalagi bulan dan bintang – bintang yang tidak melepas pandang dari padaku, mereka berkerumun di balkon, melihat aku seperti sedang menonton sebuah pertunjukan sandiwara saja. Seorang puteri yang tidak lagi puteri, melepas gaunku, menguncir rambutku, menghempas badan di atas kasur yang empuk tapi jadi keras serasa makam. Mematikan lampunya, dan membiarkan tangis bicara dan menguap dalam gelap.

Dan membiarkan juga pintu yang diketuk berulang kali. Sangat terdengar, tapi pestanya sudah selesai pangeran, bahkan selesai sebelum dimulai. Membiarkan harapku pergi, dan kehilangan cerita dalam mimpi. Sedih rasanya, tidur tapi tidak bermimpi. Suara ketukan pintu juga sudah selesai, suara dari seorang yang seperti pangeran. Hanya seperti.

Aku hanya seperti puteri yang berharap bertemu pangeran. Hanya seperti. Tiba – tiba aku merindukan balkon dan khayalanku itu.

The end.

( untuk seorang kawan, yang selalu hanya bermimpi dan bermimpi )

Story By : Mpok Mercy Sitanggang.

No comments:

Post a Comment